HENDAKNYA MERASA BAHWA ALLAH SWT YANG MEMANGGIL KITA UNTUK QIYAMULLAIL

“Pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagian suatu ibadah tambah bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

 (QS.AL-Isra’ [17]:79)

   SELAIN niat yang ikhlas, wahai kekasihku, hendaklah Anda merasa bahwa Allah Tuhan yang memanggil Anda untuk qiyamullail dan bener munajat kepada-Nya di kegelapan malam, meskipun Dia tidak butuh terhadap ibadah Anda. Penuhilah panggilan Tuhan Anda, berdialoglah dengan-Nya di kegelapan malam, agar Anda menjadi orang-orang yang berbahgia di dunia dan akhirat.

   Allah menyuruh Nabi-Nya, sahabat-sahabatnya dan umatnya untuk qiyamullail, seperti yang di sebutkan dalam firman-Nya berikut,

     “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di dalam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qiur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. AL-Muzzammil [73]: 1-4)

      Sa’ad ibn Hisyam ibn Amir berkata kepada ‘Aisyah, “Beritaukanlah kepadaku tentang qiyamullail Rasulullah.”

     ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau belum belum pernah membaca firman Allah, “Ya ayyuhal muzzammil….?”

      “Ya aku pernah membacanya,” jawabanya.

      ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya sejak diturunkannya firman tersebut di atas, Allah menjawab qiyamullail bagi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya selama setahun dan Allah menahan bagian akhir dari surat ini selama setahun sampai Allah menurukannya untuk memberi keringanan kepada beliau dan sahabat-sahabatnya, sehingga qiyamullail menjadi amalan sunnah setelah difardhukan.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih-nya)

    Abu ‘Abd ar-Rahman as-Sulami menutrukan bahwa setelah di turunkan surat Al-Muzzammil, Rasulullah dan para sahabatnya melakukan qiyamullail selama setahun sampai betis dan telapak kaki mereka bengkak. Setelah diturunkan bagian akhir dari surat tersebut, maka beliau melakukan qiyamullail sebagai shalat sunnah. (Muhammad Nashr al-Marwazi, Qiyam al-Lail)

   As-suhaili berkata, “Allah SAW menurunkan surat Al-Muzzammil mengandung dua hikamah. Yang pertama, adalah panggilan Allah yang sangat halus terhadap Nabi-nya. Adapun yang kedua, adalah sebagai peringatan bagi setiap orang yang berselimut di malam hari agar bangun untuk melakukan qiyamullail dan mengingat Allah. (Tafsir al-Qurthubi,10/6825)

   Ketika menafsirkan surat Al-Muzzammil, Sayyid Quthub berkata,”Awal surat Al-Muzzammil merupakan panggilan dari langgit dari Allah yang MahaBesar dan Mahamulia. Dia berfirman, “Bangunlah engkau untuk mengemban tugas besar yang telah menunggumu. Bangunlah engkau untuk menghadapi tantangan, kesulitan, tugas berat dan pengabdian. Bangunlah engkau karena masa untuk tidur dari santaimu telah lewat. Bangunlah engkau dan bersiap-siaplah untuk mengembangan tugas yang berat.” (Tafsir fi Zhilal al-Qu’an, 6/168)

     Allah SWT berfirman kepada Nabi dan umatnya,

     “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagian suatu ibadah tambah bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-isra’ [17]: 79)

     Al-Qurthubi menerangkan arti kata waminal-laili, yaitu sebagian dari waktu malam, arti kata fatahajjad maka bangunlah dan lakukanlah shalat tahajud dengan membaca  AL-QUR’AN. (Tafsir al-Qurthubi, 10/199)

     Sayyid Qurthubi menafsirkan ayat ‘asa ayyab’ataska rabbuka maqam mahmuda, maksudnya dengan shalat mala mini, dengan membaca Al-Qur’an di malam hari ini, dan hubungan yang langgeng ke pada Allah, maka engkau menempuh jalan yang dapat meraih maqam mahmuda (kedudukan yang terpuji). Jika Rasulullah SAW diperintahkan melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur’an di malam hari untuk di naikkan ke maqam mahmuda yang hanya di sediakan bagi beliau dan beliaupun adalah manusia pelihan, maka yang selain beliau lebih pantas melakukan shlat tahajud dan membaca Al-Qur’an di malam hari, agar mendapat kedudukan yang paling tinggi yang disediakan bagi mereka. Itulah bekal utama yang dapat menyampaikan mereka ke sana. (tafsir fi Zhilal al-Qur’an, 6/168)

   Allah menganjurkan Nabi-nya dan umatnya rajin melakukan qiyamullail, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya,

     “Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah pada-Nya dan bertasbilah ke pada-Nya pada bagian pajang di malam hari.”  (QS. Al-insan [76]: 26)

   Syaikh Al-Qasimi memberikan tafsir firman Allah “waminal laili fasjud lahu”  maksudnya shalatlah tahajud di malam hari dan wasabbihu lailan thawila maksudnya pujilah Dia di waktu malam, dalam waktu yang lama, separuhnya atau lebih dari itu. Dalam perintah-perintah ini bersama perintah yang pertama, seperti yang di sebutkan dalam surat Al-Muzzammil dan surat-surat yang lain, semuanya menunjukkan perintah melakukan qiyamullail. (Al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil)

      “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”  (QS. Al-Insyirah [94]: 7-8)

   Ibnu Mas’ud menyebutkan ari dua ayat di atas, “Jika engkau telah selesai melakukan shlat fardhu, maka bergegaslah melakukan qiyamullail.” (Al-Marwazi, Qiyam al-Lail)

   Selain itu Allah SWT berfirman,

     “Dan bertasbilah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)” (QS. Ath-Thur [52]: 49)

     Al-Qasimi menafsirkan firman Allah SWT di atas, “Berdzikir dan sembahlah Dia dengan membaca Al-Qur’an dan melakukan qiyamullail. (Al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil)

     Rasulullah SAW memberitahu kepada kita bahwa pada setiap malam, Allah yang Mahaagung dan Mahakaya memanggil kita untuk ber munajat di hadapan-Nya dalam melakukan qiyamullail, seperti yang di sebutkan dalam sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah SAW berikut,

  pada setiap malam Allah mendekat sampai di langit dunia ketika malam tersisa sepertiga bagian, seraya berseru, “Siapakah yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan memberi permohonannya? Dan siapakah yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan memberinya ampun.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah  menurunkan bahwa  Nabi SAW bersabda

       “Pada setiap sepertiga malam pertama, Allah mendekat hingga sampai ke langit dunia serata berseru, “Aku adalah Penguasa, Aku adalah penguasa, barang siapa berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa memohon kepada-Ku maka Aku akan memberi permohonannya.Barangsiapa memohon kepada-Ku, maka Aku akan memeri permohannya. Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan memberinya amupnan.” Allah senantiasa berseru seperti itu hingga terbitnya fajar. (HR. Muslim dalam kitab Shahih-nya)

 

    “Saudra-saudaraku, jika malam telah tiba, maka berjalanlah Anda di bawah kegelapan, datangilah Allah SWT dengan rendah hati, duduklah di depan haribaan-Nya dengan rasa yang hina. Jika pintu Allah SWT telah dibuka bagi orang-orang yang ingin sampai kepada-Nya, maka masuklah ke dalam pintu-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan, agar Allah SWT mengabulkan segala keinginanmu.” (Ibnu al-Jauzy, Al-Mudhisy) []

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: