Ketahuilah, Seorang Mukmin Akan Menemukan Kemuliaan Hakiki Dengan Qiyamullail

Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin itu melakukan qiyamullail, dan kejayaannya adalah ketika dia tidak membutuhkan kepada manusia.(hr. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

 

     KETIKA orang-orang yang lali dan penggemar harta dunia telah bermegah-megah serta membanggakan diri dengan berbagai macam harta kekayaannya, kebangsawanannya, keturunannya dan pekarangan rumahnya, maka bagi seorang Mukmin yang jujur dan memiliki kemuliaan sejati tentu memiliki sisi kemuliaan lain yang tidak dapat membandingi dengan kemuliaan lain, lantas apakah kemulian sejati itu?

 

Dari Sahal ibn Sa’ad dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Suatu ketika Jibril dating kepadaku dan berkata, wahai Muhammad, hiduplah kamu menurut apa yang kau suka, namun ingat bahwa engkau akan meninggalkan kehidupan itu, dan cintailah orang yang kamu cintai itu, teteapi sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah engkau sesukamu, namun ingatlah bahwa engkau akan dibalas dengan perbuatanmu. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin itu melakukan qiyamullail, dan kejayaannya adalah ketika dia tidak membutuhkan kepada manusia.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Al-Manawi memberikan komentar terhadap hadits di atas, bahwa kata asy-syaraf menurut etimologi adalah keluhuran, kemuliaan. Sesuatu yang yang paling mulia berarti yang paling tinggi nilainya. Apabila seorang mushalii bangun di malam hari dan berdzikir dengan khusyu’ di hadapan Allah SWT. Dia dimuliakan karena pengabdiannya dan diangkat derajatnya di sisi malaikat, dan para hamba-Nya yang khusus karena dia lebih taat kepada-Nya daripada selainnya. (Al-Manawi, Faidh al-Qadir, 4/160)

Az-Zamakhsyari memberikan kometar mengenai sabda Nabi SAW “Syaraful mu’mini qiyamuhu bil laili” (kemuliaan orang Mukmin adalah bangn di waktu malam) maksudnya adalah tingginya deratnya, keluhuran pribadinya bagi seorang Mukmin terletak pada amalannya yaitu bangun malam untuk shalat tahajud secara rutin dan berdzikir serta membaca Al-Qur’an.”

Al-Ghazali berkata, “Kalimat di atas berlaku bagi orang-orang dahulu dan juga orang-orang sekarang. Karena itu cukuplah kiranya bagi orang yang mau merenungi kemuliaan itu di sepanjang umurnya. Sebab jika dia sejenak merenungi kandungan pengertiannya sertai keyakinan hatinya, maka di akan mengambil faedahnya secara keseluruhan, hingga keinginannya terhalang untuk memandang dunia secara total dan perturutkan kesenangan dunia.” (Al-Manawi, Faidh al-Qadir, 1/12) []

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: