Memohon Kepada Allah SWT Agar Diberi Kemudahan Untuk Qiyamullail

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

(Qs. Al-Baqarah [2]: 186)

 

     MENDAPAT kesempatan untuk melakukan qiyamullail merupakan kurnia Allah yang Maha Pemurah yang hanya diberikan bagi sebagian hamba-Nya yang dihendaki Allah untuk ber-khalwat dan ber-munajat dengan-Nya. Karena itu, hendanya Anda berharap sepenuhnya kepada Allah SWT dengan rendah hati dan dengan kemauan yang keras agar Dia memberikan Anda kesempatan untuk melakukan qiyamullail.

Allah SWT menyuruh kita gemar berdoa dan bersandar kepada-Nya.

“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

      Sesungguhnya orang-orang yang menyobongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka

       Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)

     ALLAH SWT telah berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan kita.

Allah SWT berfirman,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu  tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku

adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang yang mendoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah SAW menganjurkan kami agar berdoa. Ibnu ‘Umar menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Doa berguna bagi sesuatu yang telah turun maupun yang belum turun, karena itu,hendaknya kalian memperbanyak berdoa, wahai hamba Allah.” (HR. Al-hakim, Al-Mustadrak).

Rasulullah SAW memberi tahu bahwa Allah SWT sangat malu menolak permohonan hamba-Nya. Salman al-Farizi menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia sangat malu jika tidak mengabulkan

       Permohonan seseorang yang telah mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya.”

       (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan At-Tirmidzi).

Kaum salafush shalih menerangkan kedudukan dan keutamaan berdoa. Mereka selalu bersungguh-sungguh ketika berdoa, khususnya ketika menghadapi kesulitan atau membutuhkan pertolongan.

Ibnu al-Qayyim berkata, “Ketika orang-orang yang sadar meliahat kesewenang-wenangan dunia terhadap penduduknya, ketika maraknya tipuan cita-cita bagi orang-orang byang bercita-cita, ketika makin keras cengkeraman setan terhadap orang-orang yang mengumbar nafsu, ketika nafsu amarah telah merajalela, maka mereka membentengi diri mereka dengan cara berdoa dan bersandar kepada Allah SWT. (AL Fawa’id, Ibnu al-Qayyim).

Qatadah ibn Da’amah As-Sadusi berkata, “Wahai putra Adam, jika engkau tidak ingin didatangi kebajikan kecuali dengan sungguh-sungguh, maka ketahuilah bahawa nafsumu selalu condong kepada kebosanan dan kemalasan. Tetapi seseorang Mukmin adalah seorang yang tangguh. Seorang Mukmin adalah seorang yang kuat. Orang-orang beriman adalah orang yang suka berdoa kepada Allah di waktu siang atau malam. Dan orang-orang yang beriman senantiasa menyebut nama Tuhannya dalam segala urusannya yang rahasia maupun yang terang sampai doa mereka dikabulkan. (Hilyah al-Auliya’, 2/336).

     Ibnu al-Qayyim SAW berkata, “pokok segala kebajikan adalah ketika engkau meyakini bahwa apaa yang dikehendaki oleh Allah SAW, maka hal itu akan terjadi dan apa pula yang dikehendaki oleh SAW. Maka hal itu akan terjadi dan apa pula yang tidak dikehendaki oleh Allah SAW, maka tidak kebaikan akan  bersumber pada Allah, sehingga engkau akan mensyukurinya dan memohon kepada Allah, agar tidak terputus daripadanya, selanjutnya engkau pu yakin bahwa keburukan apa pun, semuanya adalah siksa dari-Nya. Sehingga engkau selalu minta dihindarkan darinya. Janganlah engkau menyadarkan kebaikan dan keburukan kepada dirimu. Jika segala kebaikan bersumber kepada Allah, bukan ditangan hamban-Nya, maka kunci untuk mendapatkan segala kebaikan adalah berdoa, berharap, bersandar hanya kepada Allah dengan penuh harapan dan takut. Jika seseorang diberi perasan seperti itu, maka dia terjauh dari sumber segala kebaikan. ‘Umar ibn al-Khaththab berkata, “Aku tidak peduli kepada pengabulan, yang aku peduli adalah berdoa, karena jika aku dilhami untuk berdoa, maka pengabulan akan dating menyertainya.” (Ibnu al-Qayyim, Al-Fawa’id)

Hamman ibn Harits an-Nakhai berkata, “ Ya Allah, berlah aku tidur hanya sedikit dan berilah aku begadang malam dalam ketaatan kepada-Mu. “Dia tidur kecuali hanya sesaat dalam keadaan duduk. (Hilyah al-Auliya’, 4/178)

Salman al-Farizi menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Pemurah.

     Dia sangat malu jika tidak mengabulkan permohonan seseorang yang telah

    Mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya.”

    (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan At-Tirmidzi)

     Ibnu al-Qayyim berkata, “Tidaklah seorang binasa kecuali karena dan tidak banyak bersyukur, berharap gan berdoa. Dan tidaklah seorang beruntung dengan kehendak dan pertolongan Allah kecuali jika dia rajin bersyukur, penuh berharap dan berdoa.” (Ibnu al-Qayyim, Al-Fawa’id)

Mi’dhad Al-‘Ajali berdoa dalam sujudnya, “Ya allah, berilah aku tidur hanya sedikit.” (Hilyah al-Auliya’, 4/159)

Ibnu al-Qayyim berkata, “Sangat heran seseorang yang butuh kepada pertolongan Allah dan dia berharap penuh kepada Allah, agar diberi pertolongan, tetapi dia tidak pernah memohon dihidupkan hatinya dari kematian kebodohan, berpaling dari penyakit nafsu dan syubhat. Tetapi jika hati sudah mati, maka dia tidak merasa menyesal ketika dia berbuat maksiat.”

                           (Ibnu al-Qayyim, al-Fawa’id)

 

Seseorang penyair berkata

Jika engkau telah banyak dosa, maka obatilah dosa-dosamu dengan mengabgkat tangan di kegelapan malam

Janganlah engkau putus asa dai rahmat Allah, keputusaaanmu merupakan dosa terbesar

Rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat baik adalah karena kedermawanan-Nya

Adapun rahmat Allah bai orang-orang yang berdosa adalah karena kemuliaan-Nya

(Ibnu al-Jauzy, At-Tabshirah, 1/197([]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: