Pilihlah Tempat Tidur Yang Cocok Agar Dapat Bangun Tengah Malam

“Aku tidak bergairah sedikitpun dengan kesenangan dunia. Aku di dunia hanya sepperti seorang musafir yang bejalan di musim panas, kemudian dia berenung sesaat di bawah pohon, kemudian dia akan segera meninggalkan tempat itu.”

(HR. Ahmad, Musnad dan Al-Hakim, Al-Mustradrak)

 

MUNGKIN salah satu yang dapat membangkitkan kemauan Anda untuk qiyamullail adalah tidak memilih tempat tidur yang empuk dan halus, karena dapat memperbanyak tidur dan lalai serta terlelap, sehingga mendatangkan permasalahan malas dan ingin santai.

Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita, beliau tidak pernah menjadikan tempat tidur empuk dan halus. ‘Aisyah menuturkan, “Bantal yang di pakai oleh Nabi SAW untuk tidur di malam hari terbuat dari kulit yang diisi dengan dedaunan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Trimidzi dan Ibnu Majah)

Tempat tidur Rasulullah SAW terbuat dari tikar kasar yang menimbulkan bekas di punggung. Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa ‘Umar ibn al-Khaththab masuk ke tempat Rasulullah SAW. Ketika itu beliau sedang berbaring di atas sebuah tikar yang kasar, sehingga membekas di punggung beliau.

‘Umar ibn at-Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memilih tempat pebaringan yang lebih empuk dan lebih halus daripada ini?”

Rasulullah SAW bersabda,

“Aku tidak bergairah sedikutpun terhadap kesenangan dunia. Aku di dunia hanya seperti orang musafir yang berjalan di musim panas, kemudian dia bernaung sesaat di bawah pohon, kemudian dia akan segera meninggalkan tempat itu.” (HR. Ahmad, Musnad dan Al-Hakim, Al-Mustadrak)

Al-Manawi berkata, “Seseorang yang suka malas dan santai sebaiknya tidak menjadikan tampat tidurnya lebih empuk, karena hal itu menyebabkannya banyak tidur, lalai dan lupa dari segala kebaikan.” (Al-Manawi, Faidha al-Qadir, 5/180)

Nabi SAW mendidik putrinya, Fahtimah tidur di atas tikar yang kasar agar tidak pernah lalai qiyamullail. ‘Ali menuturkan, “Ketika Rasulullah SAW mengirim Fathimah ke rumah suaminya_yakin ‘Ali_, beliau membawakan bekal sebuah tikar, sebuah kantong air, sebuah bantal dari kulit yang bagian dalamnya diisi dedaunan pohon idhir.” (HR. Ahmad, Musnad)

Ketika budak wanitanya menggelarkan tempat pembaringan bagi ‘Ali ibn Bakar, dia menyentuh pembaringan itu, kemudian berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah indah dan lembut. Demi Allah, aku tidak akan berbaring di berbaring di atasmu pada mala mini.” Kemudian dia bangun dan melakukan shalat malam hingga fajar tiba.

Saudaraku, apabila orang hidup yang hatinya menjadi kasar ketika melihat para ahli ibadah, mereka adalah orang-orang yang lalai dan suka berbuat kebatilan. Adapula orang mati jasadnya dan hidup hatinya ketika mengingat mereka. Di antara mereka adalah orang-orang yang suka melakukan qiyamullail. Semoga Allah SAW menurunkan salam sejahtera bagi semua lahad itu dan memberikan rahmat bagi wajah-wajah dan pipi-pipi itu. Tempat ibadah mereka menangis, tempat khalwat mereka mengeluh ketika mereka tidak ada. Letih lelah lenyap dan pahala masih tetap ada, malam hari telah pergi dan fajar telah tiba. Seseorang yang berada di bawah terik matahari pada siang hari akan merasa lezat ketika bernaung di bawah naungan yang rindang Seseorang akan merasa senang, setelah dia beristirahat dari pekerjaan yang menyebabkan dirinya letih.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: