TIDURLAH DI ATAS LAMBUNG KANAN

“Jika kamu akan mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat, kemudian berbaringlah pada lambungmu yang kanan.”

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

 

   PEMBERI semngat ke-5 untuk melakukan qiyamullail adalah ketika tidur pada lambung yang kanan, karena mengikuti jejak Rasulullah SAW dan berharap dapat bangun di malam hari, karena tidur pada lambungbyang kanan menyebabkan seseorang dapat bangun dan tidak bisa lelap dalam tidurnya.

Nabi SAW memberikan contoh kepada umatnya untuk tidur pada lambung kanan. Abu Hurairah menurunkan Nabi SAW bersabda,

   “Jika pada salah seorang di antara kalian hendak berbaring, maka bersihkanlah tempat pembaringannya dengan bagian sarungnya [sampai di balik kain penutup tempat tidur], karena dia tidak mengetahui apa yang terdapat di baliknya, kemudian hendaknya dia berbaring pada lambung sebelah kanan seraya mengucapkan, “Bismika rabbi wadha’tu janbi, wabika ‘arfa’uhu in amsakta nafsi farhama wa in arsataha fahfazhha bima tahfzhu bihi ‘ibadakash-shalihin ( Dengan menyebut nama-Mu aku membarringkan lambungku dengan menyebut nama-Mu pula aku membangkitkan. Jika Engkau menahan nyawaku, maka rahmatilah dia dan jika Engkau melepaskan kembali, maka jagalah dia seperti ketika Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih). (HR. Al-Bukhri, Muslim dan Abu Daud).

     “Jika kamu akan mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat, kemudian berbaringlah pada lambungmu yang kanan.”  (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Hafshah menuturkan bahwa jika Nabi SAW bebaring, maka beliau meletakan tangan kanannya di bawah pipinya yang kanan. (HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-kabir)

 

              Seorang “dokter hati”. Ibu al-Qayyim,menerangkan hikmah dianjurkan

              Tidurr pada lambung yang kanan,sebagai berikut, “Tidurnya Rasulullah SAW

              Pada lambung sebelah kanannya mempunyai rahasia, yaitu karena hati

              terletak di lambung bagian kiri, maka tidurnya akan pulas, karena pada itu

              keadaan hati  sedang istirahat, sehingga tidurnya menjadi pulas.

              Jika beliau tidur pada lambung sebelah kanan, maka hatinya menjadi khawatir

              Dan tidurnya tidak pulas. Karena itu, para dokter mengajurkan orang tidur pada

              Lambung kirinya. Tapi, Nabi SAW menganjurkan orang tidur pada lambung kanannya,

              Agar tidurnya tidak teralalu pulas yang menyebabkan dia terlupa dari qiyamullail.

              Tidur pada lambung sebelah kanan lebih bermanfaat bagi hati,

               Sedangkan tidur pada lambung sebelah kiri lebih bermanfaat bagi tubuh.

                              (Zad al-Ma’ad,Ibnu al-Qayyim, 1/321)

 

Saudara-saudaraku, gunakanlah baik-baik setiap saat dari malam hari Anda untuk melakukan qiyamullail. Pintu Allah dibuka pada ssat itu, parakekasih Allah didekatkan pada waktu itu dan semua ungkapan hati didengar dan wajib dan orang-orang yang melakukannya diberi pahala berlipat ganda. Mengapa Anda biarkan malam terlewatkan dengan berbagai macam perbutan Anda, pedahal kelak dia datang kepada Anda untuk menunjukkan berbagai perbuatan Anda. Maka apa yang telah Anda siapkan untuk menghadapi waktu itu? Apakah Anda akan pergi dalam keadaan gembira dengan amal-amal Anda ataukah sebaliknya? Malam-malam itu merupakan saat yang tepat untuk minta dibebaskan dari api neraka dan untuk dibanggakan oleh Allah. Malam hari merupakan saat yang mengasyikkan untuk ber-munajat, waktu yang terbaik untuk taqqarub dan membersihkan diri.

Wahai malam-malam orang-orang yang suka bertahajud,

      Saksikanlah malam itu

      Wahai lisan-lisan orang-orang yang suka memohon,

      Gunakanlah waktu itu untuk memohon

      Seorang penyair berkata,

Naiklah ke tempat yang tinggi (surga)

      Karena di sana ada perkemahan para rahib’

      Lihatlah, di sana ada orang-orang baik,

      Mereka bagai kuda yang diikat

      Kencangkanlah sabukmu dan lepaskan tali mereka dan mereka akan

      Di tolong oleh takdir untuk meraih cita-citanya

      Mereka beribadah, tetapi engkau tidur, padahal rezeki manusia adalah

      Pembagian tertentu dan takdir dapat masuk dan dapat keluar.[]

 

     Rahib adalah sebutan untuk orang shalih ahli ibadah sebelum datangnya Islam.

Dalam tafsir al-Qurthubi, disebutkan, kata rahib bentuk jamaknya adalah ruhban, di ambil dari kata ruhbatun. Artinya orang yang senan tiasa menja perasaaan takutnya (ruhbah) kepada Allah SAW dengan mengikhlaskan niat-Nya untuk bukan manusia. Mereka menjadikan waktu, perbuatan dan kepatuhannya hanyalah untuk Allah SAW. (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, dalam CD Maktabah Syamilah, bab 8, jus 8/120 dalam menafsirkannayat 82 surat Al-Maidah: Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudidan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena dia antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.)

     Dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang sama (QS. Al-Ma’idah [5]:82), disebutkan bahwa rahib dan abid (perasaan takut) yang senantiasa terkait kepada Maktabah Syamilah bab 83, juz 3/167).

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: