Akhir Keyakinan Si Penyembah Api

AKHIR KEYAKINAN SI PENYEMBAH API

Di sebuah pedesaan yang indah dan tentram, tinggalah seorang sufi yang menjadi tokoh ulama di kotanya. Dialah Malik bin Dinar yang merupakan seorang ulama cukup terkenal di zamannya. Kearifan dalam menyampaikan dakwahnya menjadikan Malik bin Dinar terkenal sebagai tokoh yang menjadi panutan para pengikutnya.

Di zaman kehidupan Malik bin Dinar itulah hidup dua orang kakak beradik yang sama-sama menganut agama majusi atau zoroaster atau penyembah api, di mana mereka berdua hidup sebagai penyembah api yang setia. Sang kakak telah menyembah api selama 75 tahun, sedangkan sang adik selama 35 tahun.

Pada suatu hari sang adik bertanya kepada kakaknya, “Wahai kakak. Kita telah begitu lama menyembah api dengan setianya. Sekarang mari kita coba apakah api itu juga setia kepada kita dan memahami arti balas budi?” Benar juga dik, tapi bagaimana caranya agar kita tahu kesetiaan api itu kepada kita?” sahut kakaknya yang tampak masih ragu-ragu.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya sang adik menemukan ide. Lalu katanya, “Begini saja Kak, marilah kita julurkan kedua tangan kita ke arah api sesembahan kita yang sedang menyala itu. Jika ia adalah api yang tahu membalas budi tentu panasnya tak akan membakar tangan kita. Dan kita akan meneruskan menyembahnya sampai azal menjemput kita. Namun bila tangan kita terbakar, sebaiknya kita tinggalkan saja sesembahan kita ini…”

“Oke … Aku setuju denganmu dik”, jawab si Kakak.

Setelah terjadi kesepakatan itu, lantas keduanya mendekati api yang baru saja disembahnya. Setelah keduanya berada di depan sesembahan mereka, sang adik bertanya kepada kakaknya, “Siapa yang akan mencoba lebih dahulu, aku atau kakak?”

“Engkau saja dulu dik”, jawab sang kakak karena merasa ngeri melihat nyala api.

Sang adik segera menjulurkan tangannya ke atas api yang sedang menyala. Namun langkah terkejutnya dia karena tangannya terbakar dan merasa panas yang luar biasa. Dia kesakitan. Tangannya melepuh dan menghitam. Kemudian dengan nada marah dia berkata, “Hai api, kau sudah kusembah sekian lama, namun mengapa masih juga membakarku…”.

Seketika itu juga sang adik langsung menyadari  bahwa api bukanlah tuhan yang pantas untuk disembah. Sudah puluhan tahun ia menyembahnya, namun yang disembahnya itu membakarnya. Lalu ia berkata kepada kakaknya, “Wahai kakak, sudah saatnya kita meninggalkan sesembahan yang menyesatkan ini..”

Sejenak ia teringat dengan nama Malik bin Dinar, seorang tokoh agama Islam yang tersohor kala itu, yang sedang giat-giatnya berdakwah. Konon agama Islam senantiasa menyerukan bahwa yang wajib disembah hanyalah Allah Yang Maha Tunggal. Tiada tuhan selain Allah. Dan api yang selama ini ia sembah hanyalah ciptaan Allah. Lalu sang adik mengajak kakaknya untuk mendatangi Malik bin Dinar untuk mempelajari tentang agama Islam, kemudian masuk agamanya. Namun sang kakak rupanya lebih tetap memilih menyembah api dan berterus terang menolak ajakan sang adik, bahkan dia menyebarkan fitnah ke sanak saudara yang lain untuk memojokkan sang adik yang menurut mereka mulai melenceng dari agama mereka.

Ternyata fitnah itu sangat berpengaruh bukan saja di sanak saudaranya, melainkan ke seluruh masyarakat di desanya. Mereka marah dan menghardik-hardik sang adik yang sudah berani menghina sesembahan mereka.

Sungguh itu tidak menyangka akan mendapat reaksi keras dari masyarakatnya. Namun hatinya sudah bulat untuk meninggalkan menyembah api. Ia sudah tidak mempercayai lagi api adalah tuhannya.

Kebulatan tekadnya untuk memeluk agama Islam tidak bisa ditawar lagi. Maka dijawabnya dengan lantang kemarahan warganya, “Aku tidak bermaksud menghina api sesembahan kalian. Namun marilah kita berpikir dengan akal sehat jika api itu adalah tuhan, maka ia akan tahu siapa-siapa saja penyembah setianya dan tak akan membakar para penyembahnya. Cobalah tangan kalian diletakkan di atas sesembahan kalian, tentu ia akan membakar tangan kalian juga sama seperti mereka yang tidak menyembah api. Oleh karena itu, janganlah kalian menghalangi aku untuk mencari Tuhan lain, yang dapat memberi manfaat dalam hidupku.”

Namun warga yang sudah kalap itu sudah tidak bisa lagi diberi pengertian. Pintu hidayah sudah jauh dari hati mereka. Yang ada dalam pikiran mereka hanya rasa ketidak relaan jika ada salah seorang warganya yang meninggalkan agama nenek moyang mereka, yakni menyembah api. Juga ada semacam ketakutan hal itu akan mempengaruhi warga lain. Oleh karena itulah mereka segera bertindak dan berkata, “Kalau kamu masih tetap dengan pendirianmu, pergilah dari kampung ini beserta anak dan istrimu. Kami tidak sudi jika ada  di antara warta kami yang berkhianat terhadap sesembahan kami.

Rintangan itu semakin hari dirasakannya semakin memanas. Akhirnya dia dan seluruh anak dan istrinya diusir dari kampung itu. Begitu bulat sudah semangatnya untuk mencari redha Allah, hingga dengan bekal seadanya, sehari semalam dia menempuh perjalanan yang dirasakannya begitu berat untuk menemui Syeikh Malik bin Dinar. Pada akhirnya apa yang menjadi maksud si adik itu terwujud. Dia bisa bertemu dengan syeikh Malik bin Dinar sedang mengadakan ceramah yang dihadiri oleh berbagai kalangan. Namun si pemuda tadi memberanikan diri untuk segera bertemu dengan beliau kendati masih berada di atas mimbar.

Melihat ada orang yang ingin berbicara dengan dirinya, maka seketika itu pula Malik bin Dinar segera turun dari mimbar, dan berkata kepada jemaahnya, “Para hadirin, tunggu sebentar, ada persoalan yang tampaknya memerlukan penyelesaian segera.” Setelah berada di hadapan Malik bin Dinar, pemuda yang membawa anak anak dan istrinya itu memberi salam penuh hormat kepada beliau. Lalu Malik bin Dinar bertanya, “Ada apa anak muda?”

“Saya sekeluarga mohon disyahadatkan sekarang juga”, jawab pemuda itu tegas.

“Bagaimana kronologi yang engkau alami hingga memilih Islam sebagai jalan hidupmu wahai anak muda?”, tanya Malik lagi.

Maka pemuda itu menceritakan seluruh apa yang dia lakukan bersama kakaknya serta mengenai tanggapan masyarakatnya. Malik bin Dinar sangat terkesan mendengar penuturan anak muda itu.

“Mari kita naik ke panggung sebentar saja, dan juga anak-anak dan istrimu.”

Kemudian mereka naik ke panggung dan Malik bin Dinar menceritakan kronologi tentang pemuda itu semuanya dengan jelas dan gamblang. Ternyata hidayah Allah itu akan bersemayam pada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Setelah proses syahadat selesai, pemuda beserta keluarganya turun dari mimbar kemudian mengucapkan terima kasih sekaligus memohon izin kepada syeikh Malik bin Dinar untuk melanjutkan perjalanannya.

“Telah cukup wahai Syeikh, kami akan melanjutkan perjalanan kami.”

Akan tetapi Malik bin Dinar mencegah, “Nanti dulu, ini merupakan kesempatan yang baik. Akan aku kumpulkan dana untukmu dari para hadirin wahai pemuda.”

taubatpapi02

“Aku tidak akan menjual agama dengan harta dunia, dan terima kasih!”. Jawab pemuda itu singkat.

Setelah berpamitan kepada semuanya, pemuda itu membawa anak dan istrinya keluar menerobos keramaian. Namun begitu keluar dari majelis itu dia kebingungan, kemana keluarganya akan di bawa pergi. Mau di bawa kembali ke kampung halamannya, masyarakat di sana sudah tentu tidak akan terima.

Istrinya sangat kasihan melihat wajah anak-anaknya yang sayu karena kelelahan. Maka ia memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai kanda, akan bermalam di manakah kita? Lihatlah wajah anak-anak kita yang kelelahan, seharian kita belum makan apa-apa. Carilah tempat istirahat kanda, agar kita bisa melepaskan lelah.”

Dengan langkah yang gontai akhirnya sampailah mereka di sebuah gubuk tua tak berpenghuni. Mereka tinggal di situ dan malamnya dihabiskan dengan syukur dan ibadah kepada Allah. Betapa teduh hati mereka kali ini, seakan mendapat jiwa yang baru, kendati rumahnya dulu dan segala isinya ditinggalkan begitu saja.

Keesokan harinya, sekalipun dalam kondisi lapar setidaknya pagi itu membawa secercah harapan baru bagi keluarga tersebut. Si pemuda setelah mendapat saran dari istrinya akan keluar mengais rezeki yang halal, apa saja usahanya yang penting halal dan berkah.

Di pasar sebenarnya ia bingung, apa yang harus dikerjakan, modal tidak punya, peralatan juga tidak dimilikinya. Maka jalan satu-satunya adalah mengandalkan kekuatan tubuh sambil menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya.

Menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi jika yang ditunggu tak kunjung datang. Demikianlah hingga matahari condong ke barat, tidak ada seorang pun yang menggunakan jasanya. Dalam benaknya tentu saja terbayang wajah anak dan istrinya yang menunggu di rumah dengan kelaparan dan berharap dia membawa sedikti rezeki halal bagi mereka.

“Ya Allah…”, desahnya berkali-kali, “Inikah cobaan yang engkau timpakan kepadaku? Kasihanilah anak dan istriku jangan Kau binasakan mereka karena kelaparan.”

Dengan langkah gontai, ia mengayunkan langkah kakinya menuju sebuah masjid. Di situ ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak-banyaknya sampai hari menjelang malam. Setelah itu baru dia pulang menemui keluarganya dengan tanpa memperoleh hasil sepeserpun. Segera saja istrinya menyongsong dan bertanya, “Bagaimana usaha kanda? Adakah kanda membawa hasil untuk bisa dibawa pulang?”.

Hari ini aku bekerja keras pada seorang majikan yang betul-betul kaya, namun belum mendapat upah, mungkin saja besok upah itu akan aku terima”, begitu jawab pemuda itu menerawang.

Meskipun mengalami kekecewaan, namun keluarga muallaf itu mencoba untuk tetap bersabar. Air putihlah satu-satunya solusi malam itu untuk mengganjal rasa lapar mereka. Hati pemuda itu luluh lantak melihat wajah pucat anak dan istrinya. Perut mereka terlihat cekung karena beberapa hari tak terisi makanan. Maka dengan mata yang berkaca-kaca ia menghibur istrinya; “Sabarlah wahai dinda, mungkin inilah cara Allah menguji untuk kemudian menunaikan derajat keluarga kita..”

Pagi-pagi buta, pemuda itu berangkat ke pasar lagi untuk mendapatkan pekerjaan. Namun sampai siang rupanya nasib baik belum berpihak juga kepadanya. Hari itu dia juga tidak mendapatkan apa-apa. Segera saja dia pergi ke masjid sebagaimana kemarin dan beribadah sampai menjelang malam. Setelah itu pulanglah dia dengan tangan hampa. 2 hari sudah perut mereka hanya terisi air.

Pada hari ketiga bertepatan dengan hari jumat, dengan tidak kenal putus asa dia pergi kembali ke pasar sampai siang, dan nasibnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Maka segera ia ke masjid dan melakukan sholat sunat dua rokaat. Setelah sholat itulah dia berdoa begitu khusyuk, seakan doa penentuan, seraya kedua belah tangannya diangkat setinggi-tingginya, “Ya Allah demi kemuliaan agama yang kupeluk ini, demi kemuliaan hari jumat ini, hendaknya Engkau singkirkan segala penderitaan, terutama susahnya mencari rezeki untuk keluargaku. Aku sangat mengkhawatirkan sekali akan kegoncangan akidah keluargaku yang masih baru ini. Ya Allah Engkau Maha Pemurah !” begitu dia mengucapkannya dengan berlinangan air mata.

Sementara itu di rumah istri pemuda itu sedang duduk termenung, sedih hatinya memandangi anaknya yang lemas tak berdaya. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Hatinya harap-harap cemas menanti kedatangan suaminya, dengan sepercik harapan perutnya akan segera terisi. Siang itu, sholat jumat belum dilaksanakan. Pemuda itu masih khusyu berdoa di dalam masjid. Sementara Allah mengutus salah satu malaikat-Nya mendatangi istrinya dengan membwa nampan emas yang tertutup kain yang begitu indah.

“Tok..tok…tok..” Terdengar pintu diketuk dari luar.

“Siapa?” tanya istri pemuda itu dengan heran, sebab belum waktunya suaminya pulang. Dan benar saja, ternyata bukanlah suaminya yang berdiri di depan pintu, melainkan seorang pemuda yang amat tampan sambil membawa sesuatu di tangannya. Diam-diam hatinya takut. Namun pemuda itu segera berkata dengan amat sopan: “Katakanlah pada suamimu, nampan dan isinya ini sebagai upah kerjanya tiga hari ini, terutama kerja lemburnya di hari jumat ini, dan sampaikan salam dariku!”

Meskipun terkejut, si istri menerimanya dengan limpahan rasa syukur, “Terimakasih ya Allah, Engkau memang selalu mengasihi orang-orang yang sabar”.

taubatpapi03

Setelah pemuda itu berpamitan dan pergi, segera saja nampan itu dibukanya, dan alangkah terbelalak dia menyaksikan isinya, sebuah bungkusan berisi uang emas seribu dinar ( 1 dinar kira-kira sama dengan 12,5 emas murni ). Segera saja dia mengambil satu keping dinar untuk ditukarkan dengan uang kecil ke tempat penukaran uang.

Di kedai tempat penukaran mata uang, pemilik kedai amat heran dan takjub melihat keping dinar yang dibawa wanita itu. Dinar itu betul-betul lain dari yang lain. Dinar itu tampak sangat bagus dan lebih besar dari ukuran semestinya, ukirannya begitu indah. Dia mencoba menimbangnya. Ternyata lebih berat dari dinar yang biasa. Melihat ada keganjilan ini, dia bertanya:

“Dari mana ibu dapatkan dinar ini?”

Maka dengan bersemangat, berceritalah dia mengenai asal usul nya, awal keislaman keluarganya sampai selesai. Mendengan cerita ini pemilik kedai langsung mengatakan, “Ajarilah saya sekarang juga untuk masuk islam.”

Maka pemilik kedai itu bersyahadat masuk islam di tangan istri si pemuda.

Ketika wanita itu mau pulang, uang dinar itu diserahkannya kembali dan malahan ditambah lagi seribu keping dinar sebagai tanda terimakasih nya.

Sementara itu, belum lama istrinya pulang dari tempat penukaran uang, suaminya kembali dengan wajah sedih dan bingung. Begitu galau hatinya. Bagaimana jika nanti istrinya bertanya tentang hasil kerjanya, bagaimana pula keluarganya yang tengah menderita kelaparan. Maka diputuskannya untuk melepas kain sorban yang dipakainya kemudian diisi dengan debu agar istrinya kegirangan melihat bungkusan yang dibawanya.

“Biarlah dia menyangka bungkusan ini sebagai makanan”, gumam si pemuda dalam hati.

Namun setelah mendekati rumah, dia mencium bau makanan yang tengah dimasak oleh istrinya. Diendus-enduskan hidungnya, agar lebih jelas dari mana sumber bau lezat masakan ini. Ternyata benar bau itu berasal dari dapur istrinya.

“Dari mana istriku mendapatkan uang untuk membeli makanan?”gumamnya.

Maka daripada malu, bungkusan itu ditaruh di samping rumah. Ternyata sang istri lebih dahulu membawa berbagai bahan makanan.

Lalu tanpa ragu ia mengetuk pintu rumahnya: “Assalaamu alaikum..”

“Waalaikum salam wahai kanda..”, teriak istrinya dengan muka yang ceria.

“Muka dinda begitu ceria juga tercium bau makanan yang amat lezat, ada apakah dinda? Apakah dinda barusaja mendapatkan rezeki…?, tanya suaminya dengan keheranan.

Menyaksikan keheranan suaminya, maka ia segera beranjak untuk menunjukkan bungkusan uang yang ada di nampan serta menceritakan asal usulnya. Sang suami hanya terbengong bengong. Seluruh keluarga itu hanya takjub dan heran mengenai apa yang terjadi. Pada akhirnya mereka menyadari bahwa semua itu hanya atas kuasa dan izin Allah semata. Maka si pemuda itu segera bangkit mengajak mereka untuk melakukan sujud syukur bersama sebagai tanda terimakasih kepada Allah.

Kemudian sang istri bertanya, “Kanda, saya lihat tadi kanda membawa bungkusan besar, di mana sekarang?”

“Dinda tidak perlu tahu, bungkusan itu telah kubuang,”jawab pemuda itu khawatir kedoknya terbongkar.

Namun sang istri tidak puas dan mencari bungkusan itu. Tak lama kemudian dia mendapatkan bungkusan itu. Dengan izin Allah, bungkusan yang awalnya debu itu ternyata telah berubah menjadi gandum. Subhanallaah…

Maka makin tambah bersyukur keluarga muallaf itu dan semakin bertambah keyakinan mereka terhadap agama barunya itu.

Kisah ini bisa dijadikan i’tibar, bahwa jangan berputus asa dari rahmat Allah, terutama bila kita sedang diuji. Pasti dibalik kesusahan ada kemudahan. Ada siang ada malam. Allah selalu memberi jalan kemudahan bagi siapa saja yang yakin akan ke-Pemurahan-Nya….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: