Klik !Belanja berbagai keperluan muslim/ah!

Anak Durhaka

Orang-orang menyebutkan bahwa Dhaizan Al Ghassani berperang melawan Sabur Dzul-Aftak. Dhaizan mempertahankan diri dalam sebuah benteng yang dikepung Sabur selama sebulan. Sementara itu putri Dhaizan yang bernama Mulaikah melihat Sabur dari benteng, dia tertarik kepada musuh ayahnya itu, kemudian mengirimkan surat rahasia yang isinya, “aku jatuh tunduk kepada anda, aku akan tunjukkan bagaimana caranya menundukkan kota ayahku ini.”

Sabur gembira membaca surat dan membalas surat Mulaikah, “Lakukanlah, aku tunduk kepadamu.”

Mulaikah membuat mabuk para penjaga benteng dan membuka pintu gerbang. Maka Sabur segera masuk ke dalam benteng dan membunuh siapa yang mampu dibunuhnya serta menawan Dhaizan.

Pagi harinya, Sabur duduk di atas singgasana yang terbuat dari emas, sementara Mulaikah di sampingnya, saat itulah Sabur memerintahkan agar Dhaizan dihadapkan kepadanya. Begitu melihat putrinya bersama Sabur, Dhaizan memukuli tangan dan kakinya sampai pingsan. Ketika tersadar dari pingsan, Dhaizan berkata, “Putri keparat, kenapa kamu berbuat demikian? Kamu coreng mukamu sendiri dan muka ayahmu? Kenapa kamu biarkan Sabut menguasai dirimu?”

Setelah berkata demikian, Dhaizan dihukum pancung oleh Sabur. Beserta pasukannya dia membawa pulang banyak harta rampasan ke Istananya. Sementara untuk Mulaikah yang telah berjasa besar, dia memerintahkan untuk dibangun sebuah istana mewah dan menakjubkan, sebab dia sangat mencintai Mulaikah. Selama setahun mereka hidup bersama.

Suatu malam, Sabur mengundang Mulaikah untuk menghabiskan waktu bersama di atas sebuah kasur bulu. Tiba-tiba Mulaikah sangat gelisah, sehingga Sabur bertanya, “Ada apa dengan dirimu, kekasihku?”

Aku merasa ada suatu benda keras dan kasar di dalam kasur yang membuatku resah,”jawab Mulaikah.

Sabur memeriksa kasur, dia menemukan selembar kertas yang menempel pada lambung Mulaikah, sebab badan Mulaikah lembab dan kulitnya lembut. Maka Sabur berkata, “Dulu ketika ayahmu masih hidup, apa makanan yang diberikan kepadamu?”

“Sumsung dan tepung kapur putih yang dicampur gula,” jawab Mulaikah.

Kata Sabur,”Demi Allah, aku akan membalasmu,” Kemudian dia memerintahkan agar rambut Mulaikah dikepang dan diikatkan pada ekor beberapa kuda, sampai rambut itu putus…

 

One Comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.