Klik !Belanja berbagai keperluan muslim/ah!

Semalam Bersama Seekor Harimau

Hakim Abu Said bercerita, “Aku berjalan dari Hamdan menuju negeri Irak dalam keadaan miskin. Ketika aku menuju istana Ibnu Hubairah, aku mendapat kabar, bahwa perjalanan ke sana penuh dnegan binatang buas. Aku diberi petunjuk oleh seorang agar bermalam di benteng sebuah desa. Aku berjalan dengan tergesa-gesa agar segera sampai ke desa tersebut. Namun sesampainya di sana, ternyata pintu benteng telah ditutup.

Aku berusaha masuk ke dalamnya dengan mengetuk pintu itu, namun tak ada seorang pun yang mau membukanya. Lalu aku meminta agar para peronda membuka pintu benteng, namun usaha ini juga sia-sia. Para peronda itu berkata, “Di sana ada sebuah masjid, anda bisa menginap di sana agar anda tidak menjadi santapan binatang buas.”

Mendengar penjelasan itu aku pun menuju masjid yang dimaksud, lalu aku masuk sebuah kamar yang ada di sana. Tak berselang lama, seorang lelaki datang dengan menaiki seekor keledai, kemudian dia masuk masjid yang sama setelah mengikat keledainya di pintu masuk. Lelaki itu mengeluarkan sebuah geriba berisi air dan sebuah lampu, kemudian menyalakannya. Setelah itu, dia mengeluarkan roti, aku juga berbuat hal yang sama, akhirnya, kami sama-sama makan.

Tahu-tahu seekor harimau sudah berada di dalam masjid tanpa kami ketahui kapan dia masuk. Keledai yang di pintu masjid langsung saja berlari masuk ke kamar di mana kami berada, dan sementara harimau mengejarnya di belakang. Keledai itu ketakutan dan keluar dari kamar sambil menarik pintu kamar, akhirnya pintu tertutup dari luar, sementara harimau dan kami berdua berada di dalamnya.

Keadaan kami saat itu benar-benar berada di ujung tanduk, kami mengira harimau tidak menerkam kami karena adanya sinar lampu yang masih menyala. Apabila lampu itu mati, pasti kami diterkam si raja hutan itu. Benar, tidak berapa lama kemudian, lampu itu padam, dalam keadaan genting seperti ini kami hanya mendengar desah nafas kami dan harimau. Karena ketakutan, keledai milik temanku membuang kotoran di mana-mana di dalam masjid.

Malam terus bergulir, sementara kami dalam ketakutan yang hebat, kemudian kami mendengar suara azan dari benteng desa dan sinar fajar mulai menampakkan diri, kami melihatnya dari celah-celah pintu.

Tak lama kemudian datanglah muazzin dari arah benteng dan masuk ke dalam masjid. Ketika dia melihat banyak kotoran keledai di dalam masjid, dia marah-marah, memaki dan mengumpat, lalu dia melepaskan kekang keledai dari pintu kamar tempat kami berada, setelah lepas, keledai itu lari bagaikan terbang.

Sementara muazzin itu tidak mengetahui apa yang ada di dalam kamar masjid, dia membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, harimau itu menerkamnya dan membawanya lari ke hutan sana, sementara kami berdua selamat. Itulah kehendak Allah yang pasti terjadi.”

‘Itibar:

Jangan menolak orang yang meminta pertolongan atau perlindungan selagi kita memang mampu. Bisa saja Allah menjaga setiap makhluknya dari marabahaya secara langsung seperti dua orang tadi, tapi Dia ingin beberapa hambanya menjadi cukang lantaran atau perantara pertolongan-Nya agar mendapat ganjaran pahala dari memberikan pertolongan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.