Kisah Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s

kisah nabi musa as

Nabi Musa as dan Nabi Harun as

Nabi Musa as adalah anak laki laki imran. Beliau bersaudara dengan Nabi Harun as. Nabi Musa as dilahirkan ketika Mesir berada di bawah pemerintahan raja Fir’aun yang zalim. Fir’aun adalah seseorang yang takabur, zalim, dan bahkan mengakundirinya sebagai tuhan. Siapa saja yang tidak menuruti perintahnya maka akan segera dihukum mati.

Suatu hari raja Fir’aun bermimpi. Di dalam mimpinya itu ia mendapati negeri Mesir habis terbakar, semua rakyat nya mati, kecuali orang orang Israil saja yang tetap hidup. Segera setelah raja Fir’aun bangun, diperintahkannya para ahli nujumnya untuk menakwilkan arti mimpi itu. Dari para ahli nujum itu diperoleh jawaban, bahwa mimpi itu adalah isyarat akan datangnya seoarng laki laki dari bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaan Fir’aun.

Mendengar itu, raja Fir’aun segera memerintahkan seluruh tentaranya untuk memeriksa setiap rumah penduduk, dan membunuh setiap bayi laki laki dari bani Israil, keputusam raja itu diumumkan di seluruh pelosok negeri, agar rakyat mematuhi undang undang itu.

 

Nabi Musa Lahir

Sesaat setelah keputusan Fir’aun diberlakukan, Nabi Musa as dilahirkan dari salah satu keluarga bani Israil. Allah SWT mengilhamkan kepada ibu Nabi Musa agar ia segera menghayutkan bayinya itu ke sungai nil. Dengan kekuasaan Allah SWT, bayi Musa as terapung di dalam sebuah peti dan berjalan mengikuti arus sungai nil menuju kolam pemandian istana Fir’aun.

Peti itu akhirnya ditemukan oleh istri Fir’aun, Siti Asiah, yang kemudian membawa bayi Musa ke istananya. Melihat bayi di tangan istrinya, raja Fir’aun segera menghunus pedangnya untuk membunuhnya. Tetapi cepat Siti Asiah melindungi bayi itu seraya berkata: “Bayi ini janganlah dibunuh, karena aku sayang kepadanya. Sebaiknya ia kita jadikan anak angkat. Bukankah kita tidak mempunyai anak?”

Bujukan istrinya membuat hati Fir’aun lemah dan tak dapat berbuat apa apa, karena Fir’aun sangat menyayangi istrinya itu. Maka sejak itu jadilah Musa sebagai anak angkat raja Fir’aun.

 

Nabi Musa Dikembalikan Kepada Ibunya

Siti Asiah memerintahkan para pembantu istana untuk mencarikan ibu susu bagi Musa. Dengan iradat Allah SWT, terpilih lah ibu kandung Nabi Musa as sebagai wanita yang dapat menyusuinya. Tidak satu wanitapun ketika itu yang air susunya mau diminum oleh bayi Musa as, kecuali ibunya sendiri.

Begitulah Allah SWT mempertemukan kembali ibu Musa dengan anak kandungnya yang nyaris menjadi korban kekejaman Fir’aun. Allah SWT berfirman di dalam al-qur’an: “Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita, dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS. Al-qashash: 13).

Begitu gembiranya Siti Asiah melihat bayi Musa as, anak angkat nya mau meminum air susu dari salah seorang wanita bani Israil, yang tak lain adalah ibu kandung Musa sendiri. Maka kini Musa dipelihara oleh ibunya tanpda rasa takut akan dibunuh oleh tentara Fir’aun. Bahkan, ibu Musa memperoleh upah yang besar dari kerajaan atas pekerjaan itu.

Syahdan, ketika kanak kanak, Nabi Musa as pernah membuat Fir’aun murka. Sebabnya, ketika dalam pangkuan Fir’aun, sikecil Musa tiba tiba merenggut janggut ayah angkatnya itu dan menariknya sehingga Fir’aun berteriak kesakitan. Sambil mengempaskan Musa dari pangkuannya, Fir’aun berkata kepada istrinya: “Wahai istriku, rupanya anak inilah yang bakal menjatuhkan kerajaanku!”, Siti Asiah menenangkan  hati suaminya seraya berkata: “Sabarlah, wahai suamiku, bukankah dia masih kanak kanak, belum berakal, dan belum mengetahui apa apa?”.

Kemudian untuk membuktikan pendapatnya itu, Siti Asiah menyuruh si kecil Musa  untuk memilih antara sepotong roti dan bara api yang kebetulan berada di atas meja di hadapan mereka. Dengan kehendak Allah SWT, si kecil Musa mengangkat tangannya, meraih bara api dan memasukkan nya ke dalam mulutnya. Maka menangislah Musa ketika bara api itu menyentuh dan membakar lidahnya. Siti Asiah segera menolong anak angkatnya seraya memeluknya, kemudian meyakinkan suaminya akan kebenaran perkataannya. Dengan peristiwa itu, hilang lah kemarahan Fir’aun terhadap Musa as.

 

Nabi Musa Ketika Dewasa

Nabi Musa as dijuluki orang sebagai Musa bin Fir’aun (Musa anak Fir’aun). Beliau tinggal di istana dan sangat dimanjakan oleh Siti Asiah, istri Fir’aun. Setelah dewasa Allah SWT menganugrahkan kepada Musa ilmu pengetahuan dan pangkat keNabian.

Pada suatu hari, Nabi Musa berjalan jalan melihat keadaan kota. Ketika itu, masyarakat tidak mengenalnya. Tiba tiba Nabi Musa melihat perkelahian antara dua orang, yaitu seorang dari bani Israil dan seorang lagi dari bangsa Qibthi (bangsa Fir’aun), Nabi Musa as berusaha meleraikan perkelahian itu dan mendamaikan keduanya, tetapi laki laki dari bangsa Qibthi itu menolak dan bahkan bersikap memusuhi Nabi Musa as.

Maka dipukullah laki laki itu oleh Nabi Musa as, sehingga roboh ke tanah dan mati seketika. Nabi Musa as menyesali perbuatannya itu dan mohon ampun kepada tuhan karena ia sesungguhnya tidak bermaksud membunuh laki laki itu. Di dalam al-qur’an Allah SWT berfirman:“Musa berdoa: “Ya tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena ini ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya dia lah yang maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. Al-qashash: 16).

 

Nabi Musa Meninggalkan Istana Fir’aun

Berita matinya orang Qibthi oleh Nabi Musa as, sampai ke telinga raja Fir’aun. Maka tentara kerajaan segera diperintahkan untuk menangkap Nabi Musa as. Tetapi, sebelum perintah itu terlaksana, datanglah seorang laki laki kepada Nabi Musa as dan memberitahukan tentang rencana Fir’aun itu. Orang itu menyarankan agar Musa as lari meninggalkan negeri Mesir. Maka berangkatlah Nabi Musa. Meninggalkan kota itu dengan rasa cemas.

Di dalam Al-qur’an Allah SWT menerangkan dengan firmannya: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu nunggu dengan rasa khawatir. ia berdoa: “Ya tuhanku, selamatkanlah aku dari orang orang yang zalim itu”, dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri madyan, ia berdoa lagi: “Mudah mudahan tuhanku memimpinku ke jalan yang benar” (QS. Al-qashash: 21-22).

Dalam perjalanan itu, Nabi Musa as tidak tahu arah yang dituju. Beliau berjalan hanya mengikuti langkah kakinya, dengan rasa khawatir kalau kalau dikejar oleh tentara Fir’aun.

 

Nabi Musa Bertemu Dengan Nabi Syu’aib as

Karena letih dalam perjalanannya, Nabi Musa as kemudian berhenti sebentar di bawah sebuah pohon kayu dan berteduh. Dari tempat itu Nabi Musa as melihat serombongan laki laki pengembala yang berebutan untuk mengambil air dari sebuah sumur bagi kambing kambing mereka. Di tengah tengah mereka terdapat dua orang gadis yang menunggu dengan sabar untuk juga mengambil air bagi ternak ternaknya.

Nabi Musa as tak tega melihat itu, maka segera beliau bangkit untuk menolong kedua gadis itu mengambil air itu, kemudian meminumkan air itu kepada ternak ternaknya. Setelah itu, Nabi Musa as kembali ke tempatnya semula di bawah pohon kayu dekat sumur itu.

Beberapa lama kemudian, datanglah salah seorang gadis yang baru ia tolong itu. Dengan tersipu gadis itu berkata: “Ayahku mengundang tuan untuk datang ke rumah kami, karena beliau hendak membalas kebaikan tuan”. Maka pergilah Musa bersama gadis itu menuju suatu tempat. Sampai di sana, Nabi Musa as bertemu dengan ayah kedua gadis itu, yang tak lain adalah Nabi syu’aib as.

Di rumah Nabi syu’aib as, Nabi Musa as dijamu dengan penuh hormat. Kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia dikejar kejar oleh tentara Fir’aun. Maka berkatalah Nabi syu’aib as: “Janganlah engkau takut. Sesungguhnya engkau terlepas dari kaum yang zalim”.

Pembicaraan kedua orang itu usai, dan Musa tampaknya akan bersiap siap untuk melanjutkan perjalanannya. Tiba tiba, salah seorang anak gadis Nabi syu’aib as berkata kepada ayahnya: “Wahai ayah, janganlah ia anda lepas begitu saja. Biarlah ia tinggal bersama kita dan ikut menjaga ternak ternak kita. DI dalam al-qur’an Allah SWT menggambarkan kisah itu dengan firmannya: “Salah seorang dari kedua gadis itu berkata: “Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik untuk anda ambil dan bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al-qashash: 26).

Maka Nabi syu’aib as menawarkan kepada Nabi Musa as untuk mengambil salah seorang anak gadisnya menjadi istrinya. Hal ini disebutkan di dalam al-qur’an: “Berkatalah (syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku selama delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak akan memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapati termasuk orang orang yang baik” (QS. Al-qashash: 27).

Nabi Musa as menyetujui tawaran Nabi syu’aib as itu. Maka kawinlah ia dengan putrinya, dan memenuhi apa yang telah di janjikannya sebagai mas kawinnya.

 

Nabi Musa as Kembali Ke Mesir

Setelah genap masanya ia bekerja dengan Nabi syu’aib, sesuai dengan perjanjian, Nabi Musa as Meminta izin kepada mertuanya itu untuk pergi ke negeri Mesir beserta istrinya. Maka berangkatlah suami istri itu melalui jalan jalan kecil karena khawatir diketahui oleh kaki tangan Fir’aun yang zalim.

Dalam perjalanan itu, dari kejahuan Nabi Musa as melihat api yang menyala nyala. Terpikir olehnya untuk mengambil api itu sebagai penyuluh di dalam perjalanannya. Maka diperintahkannya istrinya untuk menunggu sementara ia sendiri pergi menghampiri api itu. Sampai di sana, Nabi Musa as merasa terkejut dan keheranan. Api itu ternyata melekat pada sebatang pohon, dan pohon itu tidak terbakar karenanya. Nabi Musa as mendekati api itu. Tiba tiba terdengar suara yang tidak ia ketahui dari mana datangnya. Itulah wahyu Allah yang ia terima untuk pertama kalinya.

Di dalam Al-qur’an Allah SWT menerangkan dengan firmannya: “Maka tatkala Musa sampai tempat api itu, diserulah ia dari arah pinggir lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkati, dari sebatang pohon kayu Yaitu: “Wahai Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, tuhan semesta alam. Maka lemparkanlah tongkatmu”. Tatkala tongkat itu menjadi ular dan Musa melihatnya bergerak gerak seolah olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (kemudian Musa diseru): “Hai Musa, datanglah kepadaku dan janganlah kamu takut. Sesunggunya kamu termasuk orang orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang orang yang fasik”. (QS. Al-Qashash: 30-32).

 

Nabi Musa Menghadap Fir’aun

Sampai di negeri Mesir, Nabi Musa as menghadap raja Fir’aun, kemudian mengajaknya kembali kepada jalan yang benar seraya mempertunjukkan kedua mukjizat yang telah beliau terima dari Allah SWT. Demi melihat itu, bukan main murkanya Fir’aun kepada Nabi Musa as, segera ia panggil semua ahli sihirnya untuk melawan mukjizat Nabi Musa as di suatu arena yang telah ditetapkan tempat dan waktunya.

Acara pertandinganpun dimulai. Masing masing ahli sihir Fir’aun mengeluarkan ilmunya. Ada yang melempar tali menjadi ular, ada yang melempar tongkatnya menjadi ular berbisa yang menjalar mengelilingi Nabi Musa as. Melihat itu, Nabi Musa as mulai merasa ngeri dan ketakutan. Tetapi, segeera Allah SWT menolongnya dengan firmannya:

“Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu lah yang paling unggul (menang). Lemparkanlah apa yang ada di tanganmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS. Thaha: 68-69).

Nabi Musa as melemparkan tongkatnya. Maka jadilah ia seekor ular besar yang kemudian menelan semua ular buatan para tukang sihir Fir’aun. Bukan main terkejutnya tukang tukang sihir itu, dan mereka sadar bahwa kebenaran berada di pihak Musa. Maka dengan serta merta mereka mengakui keunggulan dan beriman kepada Nabi Musa as. Allah SWT menjelaskan hal ini dengan firmannya: “Lalu tukang tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud seraya berkata: “Kami telah percaya kepada tuhan Harun dan Musa” (QS. Thaha: 70).

Mendapati kanyataan itu, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa istrinya (Siti Asiah) juga beriman kepada Musa as. Maka bertambah marahlah Fir’aun, sehingga ia bertindak membabi buta. Para tukang sihir itu dihukum mati, istrinya kemudian disiksa hingga menemui ajalnya, begitu pula semua  orang yang beriman. Maka larilah Nabi Musa as bersama para pengikutnya keluar dari Mesir.

 

Laut Merah Dibelah Dan Fir’aun pun Tenggelam

Karena dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya, Nabi Musa as beserta para pengikutnya lari terus hingga di tepi laut merah. Sampai saat itu, Nabi Musa menemui jalan buntu dan kebingungan. Maka turunlah firman Allah SWT untuk menolongnya, sebagaimana disebutkan di dalam al-qur’an:“Dan (ingatlah) ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut pengikutnya sedangkan kamu sendiri menyaksikan” (QS. Al-Baqarah: 50).

 

Nabi Musa as dan Nabi Harun as

Raja Fir’aun dan tentaranya telah binasa. Tetapi, warisan kekufurannya masih saja tertanam dalam jiwa rakyatnya, sehingga Nabi Musa as merasakan kesulitan untuk memperbaiki budi pekerti yang telah rusak itu, apalagi dengan sekedar nasihat nasihat. Untuk itu, Nabi Musa as memohon kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan didalam al-quran: “Dan saudaraku Harun, dia labih petah lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan” (QS. Al-Qashash: 34).

Permohonan Nabi Musa as itu dijawab oleh Allah SWT: “kami akan membantumu dengan saudaramu, dan kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu, Berangkatlah kamu berdua dengan membawa mukjizat kmi, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang” (QS. Al-Qashash: 35).

 

Nabi Musa Menerima Firman

Ketika pergi ke gunung sinai, Nabi Musa as menerima 9 firman dari alah SWT selama 40 malam. Selama itu, ditinggalkannya umatnya di bawah pimpinan Nabi harus as. Tetapi, selama kepergian Nabi Musa as itu, umatnya ternyata menjadi lupa diri dan murtad.

 

Samiri Membuat Patung

Salah seorang umat Nabi Musa as, samiri namanya, ia membuat patung sapi betina dari emas. Kemudian dimasukkannya segumpal tanah dari bekas telapak kaki kuda malikat jibril, sehingga petung itu dapat bersuara. Menurut riwayat, sewaktu Nabi Musa as dan kudanya akan menyeberangi laut merah bersama kaumnya, malaikat jibril dengan mengendarai kuda betina membimbing perjalanan mereka di muka. Itu adalah perintah Allah SWT, karena semula kuda Nabi Musa as dan kaumnya tidak mau  melewati laut merah. Rupanya samiri si tukang sihir itu, melihat mukjizat Allah itu, dan segera memanfaatkannya untuk tujuan jahatnya.

Setelah patung anak sapi itu selesai dibuat, maka berserulah samiri kepada orang orang di sekitarnya: “wahai kawan kawanku, agaknya Musa sudah tidak ada lagi, maka tidak ada gunanya kita menyembah tuhannya Musa. Sekarang, marilah kita sembah patung anak sapi yang terbuat dari emas ini. Dia pun dapat bersuara, dan inilah tuhan yang patut kita sembah”.

Maka banyak di antara umat Nabi Musa as yang berbalik murtad dan mengikuti ajakan samiri. Mereka beramai ramai menyembah patung anak sapi itu. Nabi Harun as telah berusaha sekuatnya untuk mencegah mereka dari kemurtadan itu, tetapi mereka menentangnya.

Ketika Nabi Musa as kembali kepada kaumnya, dan melihat perbuatan mereka yang sesat itu, murka dan duka citanya bukan kepalang. Di dalam al-qur’an Allah SWT menerangkan hal itu dengan firmannya: “Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlaku itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan ku?” (QS. Thaha: 86).

Kemudian Nabi Musa as menegur Nabi Harun as atas ketidakmampuannya menjaga umatnya, sebagaimana disebutkan di dalam al-qur’an: “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang mengalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah sengaja mendurhakai perintah ku?” (QS. Thaha: 92-93).

Nabi Harun as menjawab: “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan pula kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata kepadaku: “Kamu telah memecah bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.

Kepada samiri, Nabi Musa as kemudian menghardik: “Apakah yang mendorongmu berbuat demikian hai samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, maka kuambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”. Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini hanya dapat mengatakan: “Janganlah menyentuh aku!’ Dan sesungguhnya bagimu hukuman di akhirat yang kamu sekali kali tidak dapat menghindarinya. Dan lihatlah tuhanmu yang tetap kamu sembah itu, sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)” (QS. Thaha: 95-97).

Kemudian, kepada umatnya yang lain, Nabi Musa as memerintahkan untuk bertobat atas kesalahan dan dosa mereka itu. Nabi Musa as memohonkan ampun pula kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan di dalam al-qur’an:

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sembahanmu), maka bertobatlah kepada tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi tuhan yang menjadikan kamu, maka Allah menerima tobatmu. Sesungguhnya dialah yang maha penerima tobat lagi maha penyayang” (QS. Al-BAqarah: 54).

 

Umat Nabi Musa as Ingin Melihat Tuhan

Umat Nabi Musa as yakni bani Israil, memiliki sifat keraas kepala dan hati. Sifat kekufuran yang ada pada mereka tidak mudah hilang begitu saja. Mereka senantiasa mencari alasan untuk dapat lepas dari kewajiban dan bebas dari segala yang diharamkan. Mengenai itu Allah SWT telah berfirman:

“Dan ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar sedangkan kamu menyaksikannya. Setelah itu kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 55-56).

Bani Israil ragu terhadap Allah SWT. Karena itu mereka menyerupakan tuhan dengan suatu makhluk hidup, padahal seisi alam ini tidak ada yang dapat menyerupai Allah. Zat Allah tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Tetapi Allah SWT dapat melihat segala makhluk ciptaannya.

 

Umat Nabi Musa Terkurung Di Padang Tih ( maksudnya adalah Padang Pasir yang sulit dicari jalan keluar dari sana)

Bani Israil yang telah menjadi pengikut Nabi Musa as  mudah sekali terpengaruh oleh kaumnya yang kafir. Jika mereka bercampur gaul, maka para pengikut Nabi Musa as akan segera kembali kepada kebiasaan lamanya. Itulah sebabnya Allah SWT kemudian menyuruh mereka agar berhijrah kenegeri suriyah (baitul maqdis). Tetapi mereka menolak perintah itu dengan banyak mengemukakan alasan yang dibuat buat. Maka Allah SWT mengurung mereka di padang tih selama 40 tahun. Di dalam al-qur’an Allah SWT menerangkan:

“Dan ingatlah ketika kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (baitul maqdis), dan makanlah dari hasil buminya yang banyak lagi enak, mana saja yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa, niscaya kami ampuni kesalahan kesalahanmu. Dan kelak kami akan menambah pemberian kami kepada orang orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 58).

Memang kebanyakan kaum Nabi Musa as durhaka kepada Allah SWT. Walaupun mereka selalu memperoleh pertolongan Allah SWT ketika dalam keadaan kesempitan, namun mereka tidak pernah mensyukurinya. Nabi Musa wafat di padang tih dalam usia 120 tahun, sedangkan Nabi Harun as wafat lebih dahulu dari pada beliau.

 

Sumber: Buku Kisah 25 Nabi dan Rasul

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: