Kisah Nabi Yunus as dan Kaumnya

KISAH NABI YUNUS AS

1. Nabi Yunus dan Kaumnya

Beliau adalah Nabi dan Rasul yang mulia yang bemama Yunus bin Mata. Nabi Muhammad saw berkata: “Janganlah kalian membanding-bandingkan aku atas Yunus bin Mata.”

Mereka menamakannya Yunus, Dzun Nun, dan Yunan. Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang mulia yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya.

Menurut suatu riwayat, kaumnya berada di suatu tempat atau kota bernama Ninawa, yang berada di daerah Mosul, Irak. Kaum Ninawa berpaling dari ajaran Tauhid dengan menyembah berhala atau patung.

Nabi Yunus menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; beliau mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan surga. Beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah SWT.

Nabi Yunus senantiasa menasihati kaumnya namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Mereka berpaling tidak mau mengikuti kehendak Nabi Yunus untuk menyembah Allah. Mereka tetap menyembah berhala yang tidak bernyawa. Mereka mendustakan nabi Yunus as, menghina dan mengolok-olok Nabi Yunus as.

Ajakan dan peringatan terus menerus dilakukan Nabi Yunus kepada kaumnya yang durhaka itu dengan harapan mereka mau bertaubat meninggalkan berhala dan menyembah Allah semata. Namun ajakan beliau tetap tidak digubris sedikitpun, bahkan mereka makin memusuhi Nabi Yunus dengan mengolok-oloknya.

Allah swt menurunkan wahyu kepada Nabi Yunus as bahwa Allah akan menurunkan azab kepada mereka dalam kurun waktu 3 hari lagi bila mereka tetap tidak mau beriman. Lalu Nabi Yunus as menyampaikan hal ini kepada kaumnya bahwa mereka akan ditimpa malapetaka dalam kurun waktu 3 hari lagi bila mereka tetap tidak mau beriman. Setelah itu beliau pergi meninggalkan kaumnya, padahal belum ada perintah dari Allah untuk meninggalkan kaumnya.

2. Nabi Yunus Meninggalkan Kaumnya

Nabi Yunus as pergi meninggalkan kaumnya yang durhaka waktu itu. Beliau tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dalam masa penantian azab itu, bahwa mereka sudah mulai bertaubat.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim.'” (QS. al-Anbiya’: 87)

Tidak ada seorang pun yang mengetahui gejolak perasaan dalam diri Nabi Yunus selain Allah SWT. Nabi Yunus tampak terpukul dan marah pada kaumnya. Dalam keadaan demikian, beliau meninggalkan kaumnya. Beliau pergi ke tepi laut dan menaiki perahu yang dapat memindahkannya ke tempat yang lain, sementara Allah SWT belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk meninggalkan kaumnya itu.

Nabi Yunus mengira bahwa Allah SWT tidak mungkin menurunkan hukuman kepada beliau dikarenakan beliau meninggalkan kaumnya. Saat itu Nabi Yunus seakan-akan lupa bahwa seorang nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Namun berhasil atau tidaknya dakwah tidak menjadi tanggung-jawabnya. Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah SWT dan menyerahkan sepenuhnya masalah keberhasilan atau ketidak-berhasilannya terhadap Allah SWT semata.

Terdapat perahu yang berlabuh di pelabuhan kecil. Saat itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus as melihat ikan kecil sedang berusaha untuk melawan ombak namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan.

Tiba-tiba datanglah ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan batu. Melihat kejadian ini, Nabi Yunus merasakan sedih. Nabi Yunus berkata dalam dirinya: “Seandainya ikan itu bersama ikan yang besar barangkali ia akan selamat. Kemudian Nabi Yunus mengingat-ingat kembali keadaannya dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya, kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.

Nabi Yunus pun menaiki perahu dalam keadaan guncang jiwanya. Beliau tidak mengetahui bahwa beliau lari dari ketentuan Allah SWT menuju ketentuan Allah SWT yang lain; beliau tidak membawa makanan dan juga kantong yang berisi bawaan atau perbekalan, dan tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang menemaninya; beliau benar-benar sendirian; beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan perahu.

Si nahkoda perahu bertanya kepadanya: “Apa yang engkau inginkan?” Mendengar pertanyaan itu, Nabi Yunus pun bangkit: “Saya ingin untuk bepergian dengan perahu-perahu kalian. Apakah kita berlayar dalam waktu yang lama?” Nabi Yunus bertanya dengan kegelisahan. Nahkoda itu berkata sambil mengangkat kepalanya: “Kita akan berlayar meskipun air tampak sedang pasang.”

Nabi Yunus berkata dengan mencoba sabar dan menyembunyikan kegelisahannya: “Tidakkah engkau mendahului agar jangan sampai pasang itu terjadi wahai tuanku?” Si nahkoda berkata: “Laut kita biasanya terkena pasang, maka ia akan segera mereda ketika melihat seorang musafir yang mulia.” Yunus bertanya: “Aku akan pergi bersama kalian dan berapa ongkos perjalanan?” Si nahkoda menjawab: “Kami tidak menerima ongkos selain emas.” Yunus berkata: “Tidak jadi masalah.”

Nahkoda itu memperhatikan Nabi Yunus. Ia adalah seorang yang berpengalaman di mana ia sering mondar-mandir dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Seringnya ia mengunjungi suatu tempat ke tempat yang lain menjadikannya seorang lelaki yang mampu menangkap perasaan manusia. Nahkoda itu merasakan dan mengetahui bahwa Nabi Yunus lari dari sesuatu.

Nahkoda itu membayangkan bahwa Nabi Yunus melakukan suatu kesalahan tetapi ia tidak berani untuk mengungkapkan kesalahan kepada pelakunya kecuali jika pelakunya seorang yang bangkrut. Ia meminta kepada Nabi Yunus untuk membayar ongkos sebanyak tiga kali lipat dari vang biasa dibayar musafir. Nabi Yunus saat itu merasakan kesempitan dalam dadanya dan diliputi dengan kemarahan yang keras dan keinginan kuat untuk meninggalkan negerinya sehingga ia pun memberikan apa yang diminta oleh si nahkoda.

Nahkoda itu memperhatikan kepingan-kepingan emas yang ada di tangannya dan ia menggigit sebagaiannya dengan giginya. Barangkali ia akan menemukan potongan emas yang palsu namun ia tidak menemukannya. Nabi Yunus hanya berdiri menyaksikan semua itu sementara dadanya tampak terombang-ambing: terkadang naik dan terkadang turun laksana ayunan.

Nabi Yunus berkata: “Tuanku tentukan bagiku kamarku. Aku tampak letih dan ingin istirahat sebentar.” Si nahkoda berkata: “Memang itu tampak di raut wajahmu. Itu kamarmu,” sambil ia menunjuk dengan tangannya. Kemudian Nabi Yunus membaringkan diri di atas kasur dan beliau berusaha untuk tidur tetapi usahanya itu sia-sia. Adalah gambar ikan kecil yang hancur berbenturan dengan batu menyebabkan beliau tidak dapat tidur dengan tenang. Nabi Yunus merasakan bahwa atap kamar akan jatuh menimpa dirinya.

Akhirnya, Nabi Yunus tidur di atas kasurnya di mana kedua bola matanya berputar-putar di atas atap kamar tetapi pandangan-pandangannya yang gelisah itu tidak menemukan tempat perlindungan. Tempat tinggalnya di kamar itu dan atapnya dan sisi-sisinya tampak semuanya akan runtuh. Nabi Yunus pun mulai mengeluh dan berkata: “Demikian juga hatiku yang tergantung dalam jiwaku.”

3. Kaum Ninawa Sepeninggal Nabi Yunus

Sementara itu di Ninawa sepeninggal Nabi Yunus terjadi beberapa peristiwa. Dalam masa 3 hari sebagaimana diperingatkan Nabi Yunus as, kaum Ninawa sudah mulai menyadari bahwa Nabi Yunus adalah seorang Nabi untuk mereka, namun mereka sudah mengetahui bahwa Nabi Yunus as sudah pergi meninggalkan mereka.

Mereka mulai menyesal. Hingga tibalah di hari ke 3, apa yang Nabi Yunus sampaikan benar-benar terjadi. Angin yang sangat kencang terjadi beserta mendung gelap dan sambaran petir dan hujan. Kejadian itu amat mengerikan hingga membuat mereka terutama kaum perempuan dan anak-anak menjerit dan menangis ketakutan, mereka berteriak memanggil-manggil Nabi Yunus sambil bertobat bahwa mereka akan meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan menyembah Allah sebagaimana ajakan Nabi Yunus.

Karena kasih sayang Allah, karena teriakan taubat mereka yang sungguh-sungguh, Allah kemudian mencabut azab itu. seketika itu juga azab mereda. Mereka kemudian bersyukur, sambil tak henti-hentinya memanggil dan mencari Nabi Yunus as, namun beliau belum juga ditemukan. Mereka tetap menanti Nabi Yunus as untuk mendapatkan pengajaran dari beliau.

4. Nabi Yunus as Memenangkan Undian Dicebur ke Laut

Kembali ke perjalanan Nabi Yunus dalam perahu. Terjadilah suatu pergulatan penderitaan yang hebat dalam diri Nabi Yunus saat ia terbaring di atas ranjangnya. Penderitaan yang keras cukup memberatkannya sehingga beliau pun bangkit kembali dari tempat tidurnya tanpa sebab yang dapat dipahami.

Dan tibalah waktu pasang. Perahu melemparkan tali-talinya. Kemudian perahu itu berjalan sepanjang siang dan ia memecah airnya dengan tenang, dan angin pun bertiup padanya dengan sangat lembut dan baik. Lalu kegelapan menyelimuti perahu itu dan tiba-tiba lautan pun berubah. Bertiuplah angin yang cukup kencang yang sangat mengerikan yang nyaris menghancurkan perahu dan bergolaklah ombak yang cukup dahsyat laksana orang yang kehilangan akalnya. Ombak itu meninggi bagaikan gunung dan menurun bagaikan lembah.

Mulailah gelombang ombak menyapu permukaan perahu sehingga para awak perahu itu pun mulai terkena air. Dan di belakang perahu itu terdapat ikan paus yang besar yang mulai mengintai. Ia membuka mulutnya. Kemudian terdapat perintah kepada ikan paus itu untuk bergerak menuju permukaan laut. Ikan paus itu menaati perintah dari Allah SWT dan ia segera menuju permukaan laut. Ia mulai mengikuti perahu itu sebagaimana perintah yang diterimanya.

Angin yang keras tetap bertiup kemudian kepala perahu mengisyaratkan dengan tangannya agar beban perahu dikurangi. Dan angin semakin bertiup kencang. Sementara itu, Nabi Yunus merasakan ketakutan. Dalam tidurnya beliau melihat segala sesuatu berguncang di kamarnya. Beliau berusaha berdiri tegak, tetapi tidak mampu. Kemudian kepala perahu berteriak dan berkata: “Sungguh angin kencang bertiup tidak seperti biasanya. Bersama kita seseorang lelaki yang salah sehingga karenanya angin ini bertiup dengan kencang. Kita akan melakukan undian pada semua awak. Barangsiapa yang namanya keluar kami akan membuangnya ke lautan.”

Nabi Yunus mengetahui bahwa ini adalah tradisi dari tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh awak perahu jika mereka menghadapi angin yang keras. Tetapi saat itu beliau terpaksa harus mengikutinya. Episode penderitaan Nabi Yunus akan dimulai. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia tetapi harus tunduk pada hukum ala berhala yang menganggap bahwa lautan mempunyai tuhan atau dewa.

Dengan kepercayaan itu, mereka meyakini bahwa bertiupnya angin yang kencang akibat murka dari dewa nya laut. Oleh karena itu, harus diadakan upaya untuk menenangkan dan memuaskan tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka yakini itu. Nabi Yunus as pun terpaksa mengikuti undian itu. Nama beliau dimasukkan bersama dengan nama penumpang lainya, dan dilakukanlah undian.
Yang keluar justru namanya. Para penumpang perahu semua tidak percaya mungkin salah orang.

Lalu diadakan undian yang kedua, dan kali ini pun yang keluar nama Nabi Yunus. Namun para penumpang perahu juga masih belum yakin bahwa Nabi Yunus lah orangnya. Karena walaupun Nabi Yunus telah bersalah, beliau adalah seorang nabi yang tetap dari wajahnya tidak ada tanda-tanda kejahatan. Dan mereka semua berprasangka baik bahwa Nabi Yunus adalah seorang yang alim.
Akhirnya, diadakan undian yang ketiga. Lagi-lagi yang keluar nama Nabi Yunus as. Sebenarnya yang ketiga ini pun mereka masih kurang percaya. Namun Nabi Yunus as karena merasa bersalah mengiyakan bahwa beliaulah yang memang pantas dibuang kelaut.

Kemudian ditetapkan bahwa Nabi Yunus harus dibuang ke lautan. Saat itu para awak penumpang memperhatikan Nabi Yunus. Nabi Yunus mengetahui bahwa beliau berbuat kesalahan ketika meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Nabi Yunus awalnya mengira bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan hukuman padanya. Namun ia dianggap salah karena meninggalkan kaumnya tanpa izin-Nya. Allah SWT memberikan pelajaran kepadanya.

Nabi Yunus berdiri di samping perahu dan melihat lautan yang dipenuhi dengan ombak yang mengerikan. Dunia saat itu gelap dan di sana tidak ada cahaya bulan. Bintang-bintang bersembunyi di balik kegelapan. Warna air tampak gelap dan hawa dingin menembus tulang. Alhasil, air menutupi segala sesuatu.

Kemudian nahkoda perahu berteriak: “Lompatlah wahai musafir yang misterius.” Tiupan angin semakin kencang. Nabi Yunus berusaha menjaga keseimbangannya, dan beliau menampakkan keberaniannya saat ingin terjun ke lautan. Nabi Yunus as pun terjun dan berada di permukaan lautan laksana sampang yang mengambang. Ikan paus berada di depannya.

5. Nabi Yunus as Ditelan Ikan Paus (Ikan Nun)

Ikan paus sudah mendapat wahyu dari Allah untuk menelan Nabi Yunus as dan menyimpan dalam perutnya untuk beberapa waktu tertentu. Ikan itu dengan sigap langsung menelan Nabi Yunus as yang terjun dari perahu.

Nabi Yunus sangat terkejut ketika mendapati dirinya dalam sekejap sudah berada dalam perut ikan. Ikan itu membawanya ke dasar lautan dan lautan membawanya ke kegelapan malam. Tiga kegelapan: kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan di dasar lautan, dan kegelapan malam. Nabi Yunus merasakan bahwa dirinya telah mati. Beliau mencoba menggerakan panca inderanya dan anggota tubuhnya masih bergerak. Kalau begitu, beliau masih hidup. Beliau terpenjara dalam tiga kegelapan.

Nabi Yunus mulai menangis dan bertasbih terus menerus kepada Allah. Beliau mulai melakukan perjalanan menuju Allah saat beliau terpenjara di dalam tiga kegelapan. Beliau mengatakan: “Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah. Wahai Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri.” (QS. Hud: 87)

Ketika terpenjara di perut ikan, beliau tetap bertasbih kepada Allah SWT. Ikan itu sendiri tampak kelelahan saat harus berenang cukup jauh. Kemudian ikan itu tertidur di dasar lautan. Sementara itu, Nabi Yunus masih bertasbih kepada Allah SWT. Beliau tidak henti-hentinya bertasbih dan tidak henti-hentinya menangis. Beliau tidak makan, tidak minum, dan tidak bergerak. Beliau berpuasa dan berbuka dengan tasbih. Ikan-ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang hidup di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. Kemudian semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun ikut bertasbih kepada Allah SWT. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.

Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara-suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan hewan-hewan lainya, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah SWT dan ia pun tidak ketinggalan ikut serta bersama mereka bertasbih kepada Allah SWT. Dan ia mulai menyadari bahwa ia sedang menelan seorang Nabi.

Ikan paus itu merasakan ketakutan tetapi ia berkata dalam dirinya mengapa aku takut? Bukankah Allah SWT yang memerintahkan aku untuk memakannya. Nabi Yunus as tetap tinggal di perut ikan selama beberapa waktu. Menurut beberapa riwayat, beliau berada di dalam perut ikan paus selama 40 hari. Selama itu juga beliau selalu memenuhi hatinya dengan bertasbih kepada Allah SWT dan selalu menampakkan penyesalan dan menangis. Doa yang sudah tidak asing lagi bagi kita:

“Laa ilaaha Illaa Anta, subhaanaka Innii kuntu minadz-dzaalimiin…”


 “Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri.” 

6. Nabi Yunus as Keluar dari Perut Ikan Paus

Allah SWT melihat ketulusan taubat Nabi Yunus. Allah SWT mendengar tasbihnya di dalam perut ikan. Kemudian Allah SWT menurunkan perintah kepada ikan itu agar mengeluarkan Nabi Yunus as ke tepi sebuah pantai.

Ikan itu pun mentaati perintah Allah. Tubuh Nabi Yunus merasakan kepanasan di perut ikan. Beliau tampak sakit lapar dan amat lesu, lalu matahari bersinar dan menyentuh badannya yang kepanasan itu. Beliau berteriak karena tidak kuatnya menahan rasa sakit namun beliau mampu menahan diri dan kembali bertasbih.

Kemudian Allah SWT menumbuhkan pohon Yaqthin sejenis labu, yaitu pohon yang daun-daunnya lebar yang dapat melindungi dari sinar matahari, serta mengeluarkan buah-buahan yang melepas rasa lapar dan dahaga selama ini. Dan Allah SWT menyembuhkannya dan mengampuninya. Allah SWT memberitahunya bahwa kalau bukan karena tasbih yang diucapkannya niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaffat: 139-148)

“Dan (ingatlah  kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu mereka menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang-orang yang lalim.’ Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 87-88)

7. Nabi Yunus as Kembali Kepada Kaumnya

Nabi Yunus as tidak henti-hentinya memuji Allah yang telah menyelamatkannya. Beliau tak henti-hentinya beristighfar memohon ampunan Tuhannya. Beliau diperintahkan untuk kembali kepada kaumnya. Allah memberitahu bahwa sepeninggal beliau, kaumnya sudah bertaubat dan mereka sedang menunggu kedatangan beliau.

Alangkah senangnya beliau mendengar kabar ini, dan kemudian beliau kembali menuju kaumnya yang sedang menunggu kepulangan beliau.Kaumnya menyambut dengan sangat sukacita dan memohon maaf atas perlakuan mereka selama ini. Mereka menyatakan bertaubat kepada Allah dan menyembah hanya kepada-Nya. Allah swt kemudian memberikan rahmat, kesenangan dan kebahagiaan kepada kampung Ninawa sampai batas yang ditentukan Allah swt.

8. Kesimpulan

Kita sekarang ingin membahas masalah yang menurut ulama disebut sebagai dosa Nabi Yunus. Apakah Nabi Yunus melakukan suatu dosa dalam pengertian yang hakiki, dan apakah para nabi memang berdosa? Jawabannya adalah: Para nabi adalah orang-orang yang maksum tetapi kemaksuman ini tidak berarti bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang menurut Allah SWT itu pantas mendapatkan hukuman.

Jadi masalahnya agak relatif. Menurut orang-orang yang dekat dengan Allah SWT: Kebaikkan orang-orang yang baik dianggap keburukaan bagi al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT). Ini memang benar. Sekarang, marilah kita amati kasus Nabi Yunus. Beliau meninggalkan desanya yang banyak dipenuhi oleh orang-orang vang menentang. Seandainya ini dilakukan oleh orang biasa atau oleh orang yang shaleh selain Nabi, maka hal itu merupakan suatu kebaikan dan karenanya ia diberi pahala. Sebab, ia berusaha menyelamatkan agamanya dari kaum yang durhaka.
Tetapi Nabi Yunus adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada mereka. Seharusnya ia menyampaikan dakwah di jalan Allah SWT dan ia tidak peduli dengan hasil dakwahnya. Tugas beliau hanya sekadar menyampaikan risalah. Keluarnya beliau dari desa itu — dalam kacamata para nabi— adalah hal yang mengharuskan datangnya pelajaran dari Allah SWT dan hukuman-Nya padanya.

Allah SWT memberikan suatu pelajaran kepada Yunus dalam hal dakwah di jalan-Nya. Allah SWT mengutusnya hanya untuk berdakwah. Inilah batasan dakwahnya dan beliau tidak perlu peduli dengan kaumnya yang tidak mengikutinya dan karena itu beliau tidak harus menjadi sedih dan marah. Nabi Luth tetap tinggal di kaumnya meskipun selama bertahun-tahun berdakwah beliau tidak mendapati seorang pun beriman. Meskipun demikan, Nabi Luth tidak meninggalkan mereka. Ia tidak lari dari keluarganya dan dari desanya. Beliau tetap berdakwah di jalan Allah SWT sehingga datang perintah Allah SWT melalui para malaikat-Nya yang menyuruh beliau untuk pergi. Saat itulah beliau pergi. Seandainya beliau pergi sebelumnya niscaya beliau akan mendapatkan siksaan seperti yang diterima oleh Nabi Yunus as. Jadi, Nabi Yunus keluar tanpa izin. Lalu perhatikan apa yang terjadi pada kaumnya. Mereka telah beriman setelah keluarnya Nabi Yunus. Allah SWT berfirman:


“Dan mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Demikianlah, kaum Ninawa, desa Nabi Yunus beriman. Seandainya ia tetap tinggal bersama mereka niscaya ia akan mengetahuinya dan hatinya menjadi tenang serta kemarahannya akan menjadi hilang. Tampaknya beliau tergesa-gesa dan tentu sikap tergesa-gesa ini berangkat dari keinginannya agar manusia beriman. Usaha Nabi Yunus untuk meninggalkan mereka adalah sebagai ungkapan kebencian beliau karena kaumnya tidak mau beriman.

Maka Allah SWT menghukumnya dan mengajarinya bahwa tugas seorang rasul hanya bertanggung-jawab menyampaikan wahyu sampai batas yang ditentukan. Seorang rasul tidak dibebani urusan keimanan manusia; tidak bertanggung-jawab atas pengingkaran manusia; dan seorang rasul tidak dapat memberikan hidayah (petunjuk) kepada mereka. Itu semua adalah hak prerogatif Allah SWT.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: