Abu ‘Ubaidah bin Jarrah r.a

Biografi Abu Ubaidillah bin Jarrah

Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w , Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar r.a dan Umar bin Khattab r.a.

abu-ubaidah

Setelah terpilihnya Abu Bakar r.a sebagai Khalifah, beliau ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal disebabkan oleh wabah penyakit.

 

Siapakah Sebenarnya Beliau ?

Siapakah kiranya orang yang dipegang oleh Rasulullah saw dengan tangan kanannya sambil bersabda, “Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah.”

Siapakah orang yang dikirim oleh Nabi ke medan tempur Dzatus Salasil sebagai bantuan untuk Amar bin ‘Ash, dan diangkatnya sebagai panglima dari suatu pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar? 

Siapakah sahabat yang mula pertama disebut sebagai “Amirul Umara” atau “Panglima Besar” ini? Dan siapakah orang yang tinggi perawakannya tetapi kurus tubuhnya, tipis jenggotnya, berwibawa wajahnya, dan ompong karena patah dua gigi mukanya? 

Siapakah kiranya orang kuat lagi terpercaya, sehingga Umar bin Khattab ketika hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir pernah berkata mengenai pribadinya, “Seandainya Abu ‘Ubadah ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Dan jika Tuhanku menanyakan hal itu tentulah, “Saya angkat kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya.” ? 

Dia lah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar, sehingga ayat Al-Qur’an turun mengenai hal ini, yang artinya :

“Engkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang Allah swt. dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri. Allah telah mematri keimanan di dalam hati mereka dan Dia bekali pula dengan semangat. Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Akan menyenangi mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka itulah prajurit Allah, ketahuilah bahwa prajurit Allah pasti akan sukses”. (Al-Mujadilah, 22)

Rasulullah saw. menjulukinya dengan seorang yang “Gagah dan Jujur “. beliau adalah Abu ‘Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul Jarrah  ra. lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah hati dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, dia disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.

Abu ‘Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul Jarrah r.a masuk Islam melalui Abu Bakar Shiddiq di awal mula kerasulan, yakni sebelum Rasulullah saw mengambil rumah Arqam sebagai tempat da’wah. Ia ikut hijrah ke Habsyah pada kali kedua. Ia kembali pulang agar dapat mendampingi Rasulullah s.a.w di perang Badar, perang Uhud, dan pertempuran-pertempuran lainnya. Lalu sepeninggal Rasulullah s.a.w, dilanjutkannya gaya hidupnya sebagai seorang kuat yang dipercaya mendampingi Abu Bakar r.a dan kemudian Umar dalam pemerintahan masing-masing dengan mengesampingkan dunia kemewahan dalam menghadapi tanggung jawab keagamaan, baik dalam zuhud dan ketaqwaan, amanah dan keteguhan.

Ketika Abu ‘Ubaidah bai’at atau sumpah setia kepada Rasulullah saw akan membangkitkan hidupnya di jalan Allah, ia menyadari sepenuhnya makna kata-kata yang tiga ini: berjuan dijalan Allah, dan telah memiliki persiapan sempurna untuk menyerahkan kepadanya apa saja yang dibutuhkan berupa darma bakti dan pengorbanan.

Semenjak ia mengulurkan tangannya untuk bai’at kepada Rasulullah s.a.w, ia tidak memperhatikan kepentingan pribadi dan masa depannya. Seluruh kehidupannya dihabiskan dalam mengemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya dan dibaktikan pada jalan-Nya demi mencapai keridhaan-Nya. Tidak ada suatu pun yang dikejar untuk kepentingan dirinya pribadi, dan tidak satu keinginan atau kebencian pun yang dapat menyelewengkannya dari jalan Allah itu.

Maka tatkala Abu ‘Ubaidah telah menepati janji yang dilakukan oleh para sahabat lainnya, dilihat pula oleh Rasulullah sikap jiwa dan tata cara kehidupannya yang menyebabkannya layak untuk menerima gelar mulia yang diserahkan serta dihadiahkan Rasulullah kepadanya, dengan sabdanya: “Orang kepercayaan ummat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.”

Amanat atau kepercayaan yang dipenuhi oleh Abu ‘Ubaidah atas segala tanggung jawabnya, merupakan sifatnya yang paling menonjol. Misalnya waktu perang Uhud, dari gerak gerik dan jalan pertempuran, diketahui bahwa tujuan utama dari orang-orang musyrik itu adalah bukanlah hendak merebut kemenangan, tetapi untuk menghabisi riwayat Nabi Besar dan merenggut nyawanya. Ia berjanji pada dirinya untuk selalu dekat dengan Rasulullah di arena perjuangan itu.

Maka dengan pedangnya yang terpercaya seperti dirinya pula, ia maju ke muka, merambah dan mendesak tentara kufar yang hendak melampiaskan maksud jahat mereka untuk memadamkan risalah Nabi s.a.w. Setiap suasana medan pertempuran memaksanya terpisah jauh dari Rasulullah saw, ia tetap bertempur tanpa melepaskan pandangan matanya dari posisi Rasulullah itu yang selalu diikutinya dengan hati cemas dan jiwa gelisah. Jika dilihatnya ada bahaya yang mengancam Nabi, maka ia bagaikan disentakan dari tempatnya lalu melompat menerkam musuh-musuh Allah dan mengusir mereka ke belakang sebelum mereka sempat mencelakakannya.

Suatu ketika pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, ia terpisah dari Nabi s.a.w karena terkepung oleh tentara musuh, tetapi seperti biasa kedua matanya bagai mata elang mengintai kedaan sekitarnya. Hampir saja ia gelap mata, melihat sebuah anak panah meluncur dari tangan seorang musyrik lalu mengenai Nabi s.a.w. Terlihatlah pedangnya yang sebilah itu berkelibatan, tak ubah bagai seratus bilah pedang menghantam musuh yang mengepungnya sampai mencerai-beraikan mereka, lalu ia terbang mendapatkan Rasulullah. Didapatinya darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya, dan dilihatnya Rasulullah, Al-Amin, menghapus darah dengan tangan kanannya, sambil bersabda: “Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Tuhan mereka.”

Abu ‘Ubaidah melihat dua buah mata rantai baju besi penutup kepala Rasulullah menancap di kedua belah pipinya. Abu ‘Ubaidah tak dapat manahan hatinya lagi; ia segera menggigit salah satu mata rantai itu dengan gigi manisaya lalu menariknya dengan kuat dari pipi Rasulullah sampai tercabut keluar, tetapi bersamaan dengan itu, tercabut pula sebuah gigi manis Abu’ Ubaidah, lalu ditariknya mata rantai yang kedua dan tercabut pulalah gigi manis Abu ‘Ubaidah yang kedua.

Abu Bakar Shiddiq berkata menceritakan peristiwa itu: “Di waktu perang Uhud dan Rasulullah ditimpa anak panah sampai dua buah rantai ketopong masuk ke dua belah pipinya bagian atas, saya segera berlari mendapatkan Rasulullah saw kiranya ada seorang yang datang bagaikan terbang dari jurusan timur, maka kataku: “Ya Allah, moga-moga itu merupakan pertolongan.” Dan kala kami sampai pada Rasulullah, kiranya orang itu adalah Abu ‘Ubaidah yang telah mendahuluinya ke sana, dan katanya, “Atas nama Allah, saya minta kepada Anda wahai Abu Bakar, agar saya dibiarkan mencabutnya dari pipi Rasulullah saw.” Saya pun membiarkanya, maka dengan gigi mukanya Abu ‘Ubaidah melepaskan salah satu mata rantai baju besi penutup kepala beliau sampai ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan dengan itu jatuhlah pula sebuah gigi manis Abu Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang kedua dengan giginya yang lain sampai sama tercabut, menyebabkan Abu ‘Ubaidah tampak di hadapan orang banyak bergigi ompong. ”

Di saat-saat bertambah besar dan meluasnya tanggung jawab para sahabat, maka amanah dan kejujuran Abu ‘Ubaidah meningkatlah pula. Tatkala ia dikirim oleh Nabi saw dalam ekspedisi “Daun Khabath” dengan memimpin lebih dari tiga ratus orang prajurit sedang berbekalan mereka tidak lebih dari sebakul kurma, sementara tugas sulit dan jarak yang akan ditempuh jauh pula, Abu ‘Ubaidah menerima perintah itu dengan taat dan hati gembira. Bersama anak buahnya pergilah ia ke tempat yang dituju, dan berbekallah setiap prajurit setiap harinya hanyalah segenggam kurma. Ketika perbekalan hampir habis, maka bagian masing-masing prajurit hanyalah sebuah kurma untuk sehari. Tatkala habis sama sekali, mereka mulai mencari daun kayu yang disebut “khabath,” lalu mereka tumbuk sampai halus seperti tepung dengan menggunakan alat senjata. Di samping daun-daun itu dijadikan sebagai makanan, dapat pula mereka gunakan sebagai wadah untuk air minum. Itulah sebabnya ekspedisi ini disebut ekspedisi “Daun Khabath.”

Mereka terus maju tanpa menghiraukan lapar dan dahaga, dan tak ada tujuan mereka kecuali menyelesaikan tugas mulia bersama panglima mereka yang kuat lagi terpercaya. Rasulullah amat sayang kepada Abu ‘Ubaidah sebagai orang kepercayaan ummat, dan beliau sangat terkesan kepadanya. Tatkala datang perutusan Najran dari Yaman menyatakan keislaman mereka dan meminta kepada Nabi agar dikirim bersama mereka seorang guru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta seluk beluk agama Islam, maka ujar beliau: “Baiklah, akan saya kirim bersama tuan-tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.”

Para sahabat mendengar pujian yang keluar dari mulut Rasulullah saw ini, dan masing-masing berharap agar pilihan jatuh kepada dirinya, sampai beruntung memperoleh pengakuan dan kesaksian yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.

Umar bin khattab menceritakan peristiwa itu sebagai berikut: “Aku tak pernah berangan-angan menjadi amir, tetapi ketika itu aku tertarik oleh ucapan beliau dan mengharapkan yang dimaksud beliau itu adalah aku. Aku cepat-cepat berangkat untuk shalat zhuhur. Dan tatkala Rasulullah s.a.w selesai mengimami kami shalat zhuhur, beliau memberi salam, lalu menoleh ke sebelah kanan dan kiri. Maka saya pun mengulurkan badan agar terlihat oleh beliau. Tetapi ia juga masih melayangkan pandangannya mencari-cari, sampai akhirnya tampaklah Abu ‘Ubaidah, maka dipanggilnya, lalu sabdanya: “Pergilah berangkat bersama mereka dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan di antara mereka dengan haq.”  Maka Abu ‘Ubaidah berangkatlah bersama orang-orang itu.

Dengan peristiwa ini, tentu saja tidak berarti bahwa Abu ‘Ubaidah merupakan satu-satunya yang mendapat kepercayaan dan tugas dari Rasulullah saw, sedang lainnya tidak. Maksudnya adalah bahwa ia adalah salah seorang yang beruntung memperoleh kepercayaan yang berharga serta tugas mulia ini. Di samping itu, ia adalah salah seorang, mungkin juga satu-satunya orang pada masa itu, yang berprofesi da’i.

Sebagaimana Abu Ubaidah menjadi seorang kepercayaan di masa Rasulullah saw, demikian pula setelah Rasulullah wafat, ia tetap sebagai orang kepercayaan, memikul semua tanggung jawab dengan sifat amanah. Wajarlah apabila ia menjadi suri tauladan bagi seluruh ummat manusia.

Di bawah panji-panji Islam, kemana pun ia pergi, ia adalah seorang prajurit yang dengan keutamaan dan keberaniannya melebihi seorang amir atau panglima, dan di saat ia sebagai panglima, karena keikhlasan dan kerendahan hatinya, menyebabkan tidak lebih dari seorang prajurit biasa.

Kemudian, tatkala Khalid bin Walid sedang memimpin tentara Islam dalam salah satu pertempuran terbesar yang menentukan, tiba-tiba amirul mu’minin Umar bin Khattab r.a mema’lumkan titahnya untuk mengangkat Abu ‘Ubaidah sebagai pengganti Khalid, maka demi diterimanya berita itu, dari utusan khalifah, dimintanya orang itu untuk merahasiakan berita tersebut kepada umum. Sementara, Abu ‘Ubaidah sendiri mendiamkannya dengan suatu niat dan tujuan baik sebagai lazimnya dimiliki seorang zuhud, arif, bijaksana, lagi dipecaya, menunggu selesainya Panglima Khalid itu merebut kemenangan besar.

Setelah kemenangan tercapai, barulah ia mendapatkan Khalid dengan hormat dan ta’dhimnya untuk menyerahkan surat dari amirul mu’minin. Ketika Khalid bertanya kepadanya, “Semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu ‘Ubaidah, Apa sebabnya Anda tidak menyampaikannya kepadaku di waktu datangnya? ” Maka ujar kepercayaan ummat itu,” Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak anda, dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan pula untuk dunia kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah.”

Demikianlah, Abu ‘Ubaidah telah menjadi panglima besar di Syria. Di bawah kekuasaanya, bernaung sebagian besar tentara Islam, baik dalam luas wilayahnya, maupun dalam perbekalan dan jumlah bilangannya. Tetapi ia tetap terlihat seperti salah seorang prajurit biasa serta pribadi biasa dari kaum muslimin.

Ketika sampai kepadanya perbincangan orang-orang Syria tentang dirinya dan ketakjuban mereka terhadap sebutan panglima besar, dikumpulkannya mereka lalu ia berdiri menyampaikan pidato, “Hai ummat manusia. Sesungguhnya saya ini adalah seorang muslim dari suku Quraisy. Dan siapa saja di antara kalian, baik ia berkulit merah atau hitam yang lebih takwa dari padaku, hatiku ingin sekali berada dalam bimbingannya.”

Kedudukannya sebagai panglima besar, dan pemimpin tentara Islam yang paling banyak jumlahnya dan paling menonjol keperwiraannya serta paling besar kemenangannya, begitu pun sebagai wali negeri di wilayah Syria yang semua kehendaknya terjadi dan perintahnya ditaati, maka semua itu dan lainnya yang serupa, tidak menggoyahkan ketakwaannya sedikit pun, dan tidak dijadikan andalan.

Amirul Mu’minin umar bin Khattab datang berkunjung ke Suriah, kepada para penyambutnya ditanyakannya: “Mana saudara saya?”  “Siapa?,” ujar mereka. “Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah,” katanya pula. Kemudian datanglah Abu ‘Ubaidah yang kemudian dipeluk oleh Amirul Mu’minin, lalu mereka pergi bersama-sama kerumahnya. Maka tidak satu pun perabotan rumah tangga ada di rumah itu, kecuali pedang, tameng serta pelana kendaraannya.

Sambil tersenyum, Umar bertanya kepadanya, “Mengapa tidak kau ambil untuk dirimu sebagaimana dilakukan oleh orang lain?” Maka jawab Abu ‘Ubaidah, “Wahai Amirul Mu’minin, ini menyebabkan hatiku lega dan sempat beristirahat.”

 

Wafatnya Abu Ubaidah

Abu Ubaidah bin Jarah r.a. ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memiliki andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil menaklukkan semua negeri tersebut.Ketika wabah penyakit ta’un merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khatab r.a mengirim surat untuk memanggil kembali Abu Ubaidah.

Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, “Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau kamu membutuhkan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah serdadu muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Karena itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya dibebaskan dari panggilan ini dan izinkanlah saya tinggal di sini. ” Setelah Umar r.a. membaca surat itu, dia menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawab, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”

Menjelang kematian Abu Ubaidah r.a. dia berpesan kepada pasukannya, “Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima, kalian akan baik, ‘Dirikanlah salat, bayar zakat, puasalah bulan Ramadan, berdermalah, tunaikan ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang melakukan seribu upaya, dia pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat … Assalamu alaikum warahmatullah’. ” Kemudian beliau melihat ke Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, “Ya Muaz! imamilah salat mereka.” Setelah itu, Abu Ubaidah r.a. pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sepeninggal Abu Ubaidah r.a., Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum muslimin yang berisi, “Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari dia. Karena itu kasihanilah dia, semoga kamu akan dikasihani Allah. ”

Tatkala Amirul Mu’minin Umar Al-Faruq, mendengar berita berkabung meninggalnya Abu ‘Ubaidah. Maka terpejamlah kedua pelupuk matanya yang telah digenangi air. Dan air itu pun meleleh, hingga Amirul Mu’minin membuka matanya dengan tawakal menyerahkan diri. Dimohonkannya rahmat untuk sahabatnya itu, dan bangkitlah kanangan-kenangan lamanya bersama almarhum r.a. yang ditampungnya dengan hati sabar diliputi duka. Kemudian diulangi kembali ucapan tersebut sahabatnya itu, katanya: “Seandainya aku bercita-cita, maka tak adalah harapanku selain sebuah rumah yang penuh didiami oleh tokoh-tokoh seperti Abu ‘Ubaidah.”

Orang kepercayan dari ummat ini wafat di atas bumi yang telah disucikannya dari keberhalaan Persi dan penindasan Romawi. Dan di sana sekarang ini, yaitu dalam pangkuan tanah Yordania, bermukim makam yang mulia, tempat bersemayam jiwa yang tenteram dan ruh pilihan.

Sumber :

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: