Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Khaulah Binti Tsa’labah adalah istri Aus bin Shamit. Lelaki itu lebih tua usianya dibandingkan dirinya. Perangainya kasar dan suka menampar jika terjadi sedikit perselisihan. Suatu ketika Khaulah meminta sesuatu yang sebenarnya tidaklah terlalu penting baginya. Namun terjadilah pertengkaran hingga Aus bin Shamit mengata-ngatai dirinya, “Khaulah! Sungguh engkau sudah seperti punggung ibuku!” Setelah berkata begitu lelaki tersebut meninggalkan Khaulah dan pergi ke kaumnya (kerabatnya).

Kata “Kau seperti punggung ibuku!” adalah adat orang arab Jahiliyah yang bermakna penghinaan dan menyebabkan jatuhnya talak. Khaulah memiliki banyak anak sehingga mendengar kata-kata itu pikirannya menjadi terganggu.

Suatu ketika suaminya datang menemui dan merayunya kembali. Namun Khaulah menolak, “Tidak! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidak akan aku biarkan engkau menjamah tubuhku itu setelah kau katakan itu sebelum sampai ada hukum Allah dan Rasul-Nya atas berita yang menimpa kita ini.”

Khaulah lari ke rumah tetangganya dan meminjam baju. Lalu pergi menghadap Rasulullah saw untuk mengadukan perkara suaminya itu. Ia bercerita dengan sejujurnya kepada Rasulullah saw.

“Wahai Khaulah, suamimu itu bukan anak pamanmu sendiri? Maka sayangilah dia!” Rasulullah saw menasihati.

Namun Khaulah sama sekali tidak mau beranjak dari tempat Rasulullah saw. Ia tak akan pergi sebelum ada ayat yang menegaskan dan menjelaskan hukum tentang permasalahannya.

“Ya, Khaulah, Allah telah menurunkan ayat atas dirimu dan suamimu, yaitu surat Al Mujadalah!” ujar Rasulullah saw sesaat setelah menerima wahyu dari Allah swt.

Rasulullah saw kemudian membacakan ayat yang dimaksudkan yang artinya:

1. Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 2. Orang-orang di antara kamu yang menzhihar istrinya (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. 3. Dan mereka yang menzhihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan Allah kepadamu, dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. 4. Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan budak), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu (berpuasa), maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih. (Terjemah QS Al Mujadalah 1-4).

Rasulullah saw berkata kepada Khaulah, “Suruhlah suamimu membebaskan seorang budak!”

“Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin sedangkan dia tidak lagi mempunyai apa-apa,” kata Khaulah.

“Jika demikian, suruhlah suamimu itu berpuasa dua bulan berturut-turut!” pinta Rasulullah saw.

Khaulah terdiam. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Maka Rasulullah saw bersabda lagi, “Atau suruhlah dia memberi makan enam puluh orang miskin.”

“Dia tidak mempunyai apa apa lagi untuk melakukan hal itu,” jawab Khaulah.

“Jika demikian aku akan membantunya dengan beberapa tangkai kurma,” kata Rasulullah saw.

Tampaknya Khaulah berbunga-bunga mendengar kata Rasulullah. Sebab sebenarnya ia tidak menginginkan perceraian. Ia tidak ingin ditinggalkan suaminya karena anak-anaknya banyak dan ia masih belum sanggup menghidupi mereka. Hanya saja karena suaminya sudah berkata demikian, sehingga ia mengharap ada hukum yang jelas untuk dirinya dan suaminya.

“Akupun akan membantunya,” jawab Khaulah.

“Kau memang wanita yang sangat baik dan bijaksana. Sekarang bawalah ini untuk bersedekah dan layanilah suamimu dengan baik,” ujar Rasulullah saw sambil menyerahkan beberapa tangkai kurma.

Ada riwayat lain yang menerangkan bahwa sebelum turun ayat tersebut di atas, Rasulullah saw berpendapat, “Kurasa engkau telah diharamkan untuknya.”

Khaulah menjadi sangat sedih karena sejatinya ia tidak mau ditinggalkan suaminya meskipun berperangai kasar. Ia tetap memohon agar Rasulullah saw memberikan jalan keluar yang terbaik, “Wahai Rasulullah, kami mempunyai banyak anak. Jika berpisah dengan suamiku dan mereka di bawah asuhannya, pasti kami akan kehilangan mereka. Jika pun mereka bersamaku, mereka akan kelaparan.”

Ini adalah buki bahwa Khaulah adalah seorang ibu yang baik. Ia berat berpisah dengan anak-anaknya yang masih kecil. Di sisi lain ia memang tidak menyukai perangai suaminya, namun demi anak-anak mereka, Khaulah ingin mempertahankan rumah tangga mereka. Khaulah kemudian mengangkat tangan dan bermunajat kepada Allah swt, “Allaahumma innii asykuu ilaika Ya Allah, aku mengadukan permasalahanku padaMu!”

Khaulah memang wanita yang beriman. Ia adalah ibu penyayang terhadap anak-anaknya dan bijaksana terhadap suaminya. Melalui doa dan air mata yang dipanjatkan kepada Allah, akhirnya rumah tangganya yan retak kembali utuh. Ia bisa kembali memeluk anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: