Umar Bin Khaththab dan Gadis Pemerah Susu

Kisah Umar Bin Khaththab dan Gadis Pemerah Susu

“…. Meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya….”

 

 “Aku tidak mau melakukan ketidak-jujuran pada waktu ramai maupun sepi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,…..”

Pada artikel sebelumnya kita telah menerbitkan Kisah Umar bin Khaththab dan Yahudi Tua. Kali ini kita akan menyimak sebuah cerita yang juga berkenaan dengan Khalifah Umar bin Khaththab, yaitu mengenai seorang gadis pemerah susu yang sangat jujur dan takut kepada Allah.

Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam. Sepanjang malam beliau memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Beliau penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.
“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat.
“Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Mengapa engkau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” sela ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.”Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya”, tegas anak itu. 
Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sekalipun agak kecewa dengan keputusan anaknya, namun di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya itu.
“Aku tidak mau melakukan ketidak-jujuran pada waktu ramai maupun sepi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu. 
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, ” kata khalifah Umar. “
“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya. Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan rombongan khalifah dan putranya. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan. Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.   “Bagaimana mungkin?   Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya taqwa lah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.   Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang.
Dari kedua pasangan yang bersih inilah kelak akan lahir keturunan seorang yang akan menjadi khalifah umat Islam, yaitu cucu mereka yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang menjadi khalifah dengan gaya kepemimpinan sangat mirip seperti pendahulunya yaitu Umar bin Khaththab.
Menurut suatu riwayat, ketika Beliau (Umar bin Abdul Aziz) dinobatkan menjadi Khalifah, beliau ketakutan luar biasa. beliau selama 3 hari 3 malam mengurung diri karena menahan beratnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. Kehidupannya berubah dari berkecukupan harta menjadi miskin dan menerima gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya saja. Beliau menolak gaji tinggi.
Dan diceritakan bahwa beliau selama menjabat sebagai khalifah, beliau tidak pernah bersetubuh dengan istrinya, karena setiap malam takutnya dengan Allah hingga susah tidur. Badannya yang dulu gemuk menjadi kurus selama menjadi khalifah.
Ketika asistennya menceritakan mimpinya bahwa di dalam mimpinya itu dipaparkan pendahulu-pendahulu khalifah yang diseret ke neraka satu persatu, dan giliran tibanya menceritakan tentang diri beliau (Umar bin Abdul Aziz) dalam mimpi tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz langsung pingsan. setelah siuman lalu diberitahu bahwa beliau melewati shirathal mustaqim dengan selamat hingga ke Syurga…
Demikian mudah-mudahan kisah ini menjadi i’tibar bagi kita semua amin….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: