Abu Yazid Al-Busthomi

 MASA SEBELUM KELAHIRANNYA

Kakek Abu Yazid al Bustami adalah penganut agama Zoroaster (majusi). Ayahnya adalah seorang di antara orang-orang terkemuka di daerah Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa berawal sejak dalam kandungan ibunya. Setiap kali ibunya menyuap makanan yang ia ragukan halal haramnya, ibunya sering berkata kepada Abu yazid dalam kandungannya, ”Engkau yang berada di dalam perutku memberontak dan tidak mahu berhenti memberontak, selagi makanan yang aku makan tidak kumuntahkan kembali”.

BERBAKTI KEPADA IBUNYA

Setelah tiba waktunya, si ibu mengantar Abu Yazid ke Masjid. Abu Yazid mempelajari al Quran. Pada suatu hari gurunya menjelaskan arti sepotong ayat dari surah Al Lukman yang berbunyi: ”Beterimakasihlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu”.

Ayat ini sangat menggentarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu tulisannya dan berkata kepada gurunya: ”Izinkan saya pulang , ada yang perlu hamba katakan kepada ibuku”. Si guru memberi izin. Lalu Abu Yazid pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata:

”Thaifur, mengapa engkau pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau ada sesuatu kejadian yang istimewa?”

”Tidak”, jawab Abu Yazid. ”Ketika pengajian ku sampai pada ayat di mana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepadaNya dan kepada ibu. Tetapi aku tidak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu yang serentak ibu. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah daku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milik mu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata –mata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.

”Anakku”, jawab ibunya, ”Aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadap aku. Pergilah engkau dan jadilah engkau seorang hamba Allah”.

Di kemudian hari , Abu Yazid berkata:

”Kewajiban yang pada awalnya ku kira sebagai kewajiban paling mudah di antara yang lain-lainya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah ku perolehi segala sesuatu yang ku cari, yakni segala sesuatu yang hanya boleh dipahami melalui tindakan displin diri dan pengabdian kepada Allah”.
Abu Yazid bercerita:

“”Pada suatu malam ibu meminta air kepada ku. Maka aku pun pergi mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tidak ada air. Ku lihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong jua. Oleh karena itu pergilah aku ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku tertidur.

Malam itu udara terasa sejuk. Kendi itu tetap dalam rangkulan ku. Ketika ibu ku terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah oleh ku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku:

”Mengapa engkau tetap memegang kendi itu”, ibuku bertanya.

”Aku takut ibu terbangun sedang aku sendiri terlena”, jawabku.

Kemudian ibu berkata kepadaku: ”Biarkan saja pintu itu setengah terbuka”.

Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan pesanan ibuku. Hingga akhirnya fajar melewati pintu, begitulah yang sering kulakukakan berkali-kali.””

Setelah si ibu memyerahkan anaknya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama 30 tahun, dan melalui disiplin diri dengan terus berpuasa di siang hari dan bertariqat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan 113 guru kerohanian dan telah memeperolehi manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.

KEHEBATAN LELAKI SEJATI

“Tuan, engkau bisa berjalan di atas air!”, murid-muridnya berkata dengan penuh kekaguman kepada Abu Yazid. “Itu bukan apa-apa. Sepotong kayu juga bisa,” beliau menjawab.

“Tapi engkau juga bisa terbang di angkasa.”

“Demikian juga burung-burung itu,”  tunjuk Abu yazid ke langit.

“Engkau juga mampu pergi ke Ka’bah dalam semalam.”

“Setiap pengelana yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu satu malam,” jawab Abu Yazid

“Kalau begitu, apa kehebatan seorang lelaki sejati?” murid-muridnya ingin tahu.

“Lelaki sejati,” jawab Abu Yazid: “adalah mereka yang mampu melekatkan hatinya tidak kepada sesuatu pun selain Allah”.

ABU YAZID PERGI HAJI

Seorang tokoh sufi besar, Bayazid Al-Busthami suatu saat pergi naik haji ke Mekkah. Pada haji pertama kali, ia menangis. “Aku belum berhaji,” isaknya, “karena yang aku lihat cuma batu-batuan Ka’bah saja.”

Ia pun pergi haji pada peluang yang kedua berikutnya. Sepulang dari Mekkah, Bayazid kembali menangis, “Aku masih belum berhaji,”  ucapnya masih di sela tangisan, “Yang aku lihat hanya rumah Allah dan pemiliknya.”

Pada haji yang ketiga, Bayazid merasa ia telah menyempurnakan hajinya. “Karena kali ini,” ucap Bayazid, “aku tak melihat apa-apa kecuali Allah subhanahu wa ta’ala….”

TAKUT MENGOTORKAN MASJID

Setiap kali sampai di depan masjid, Abu Yazid Al Bustami berdiri sebentar, kemudian menangis.

“Mengapa engkau menangis, hai Abu Yazid?”  tanya seseorang suatu ketika.

“Aku merasa diriku separti seorang wanita yang sedang haid sehingga aku malu memasuki masjid karena takut mengotori,” jawab Abu Yazid Al Bustami.

JANGAN SOMBONG

Suatu ketika, ketika Abu Yazid Al Bustami sedang duduk, di benaknya terlintas pemikiran bahwa dirinya adalah seorang besar, seorang wali pada zamannya. Tak lama kemudian dia sadar bahwa dirinya telah melakukan dosa besar. Dia segera bangkit dan pergi ke Khurosan. Sesampainya di sana dia menginap di sebuah tempat. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan meninggalkan Khurosan sebelum Allah mengirimkan seseorang untuk mengingatkan dirinya yang alpa.

Tiga hari tiga malam Abu Yazid Al Bustami tinggal di tempat itu. Pada hari keempat dia melihat seseorang bermata satu menunggangi unta dan mendekatinya. Setelah orang tersebut mendekat, Abu Yazid Al Bustami melihat tanda-tanda ketaqwaannya. Abu Yazid melambaikan tangan kepada unta tersebut agar berhenti.

Setelah unta tersebut berhenti, orang tersebut berkata kepada Abu Yazid, “Kamu membawaku ke sini untuk membuka pintu yang terkunci dan menenggelamkan warga Bustam bersama Abu Yazid, benarkah begitu?

Abu Yazid terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Ia lalu bertanya, “Dari mana asalmu?”

“Tak perlu kau tahu dari mana aku. Kukatakan kepadamu bahwa sejak engkau mengucapkan sumpah di tanah Khurosan ini, aku telah menghadiri tiga ribu perkumpulan. Hati-hatilah wahai Abu Yazid. Jagalah hatimu. Tak ada yang berhak sombong di muka bumi ini kecuali Sang Pencipta jagad raya ini, Allah.”

Setelah berkata begitu, orang bermata satu itu membangunkan untanya untuk kemudian segera pergi.

JALAN TERBAIK DALAM KEROHANIAN

Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan,
+ ”Apakah yang terbaik bagi seseorang menusia di atas jalan kerohaniannya?”
– ”Kebahagiaan yang merupakan bakat sejak lahir”, jawab Abu Yazid.
+ ”Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?’
– ”Tubuh badan yang sehat dan kuat”.
+ ”Jika tidak memiliki tubuh badan yang sehat dan kuat?
– ”Pendengaran yang tajam”
+ ”Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?”
– ”hati yang mengetahui”
+ ’Jika tidak memiliki hati yang mengetahui?”
– ”mata yang melihat”
+ “Jika tidak memiliki mata yang melihat”
– ”Kematian yang segera”

LUPA NAMA

Hampir setiap hari Abu Yazid Al Bustami begitu asyik dengan Tuhan. Keasyikan itu membuat dia sering lupa ketika memanggil nama seorang muridnya yang telah belajar padanya selama 30 tahun.
“Anakku siapakah namamu?” Tanya Abu Yazid kepada murid tersebut.

“Engkau suka mengolok-olokku, Guru,” kata sang murid. “Sudah tiga puluh tahun aku belajar kepadamu tetapi hampir setiap hari engkau menanyakan namaku.”

“Bukan aku mengolok-olokmu, Anakku,” Kata Abu Yazid Al Bustami. “Tetapi nama-Nya telah memasuki hatiku dan mengeluarkan semua nama lain sehingga aku selalu lupa setiap kali mengingat nama baru.”

ABU YAZID DENGAN SI GURU BESAR

Abu Yazid mendengar bahwa di suautu tempat tertentu terdapat seorang Guru besar dalam bidang ilmu. Dari jauh ia datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru besar yang termashur itu meludah ke arah Kota Makkah, karena itu segera ia memutar langkahnya.

“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah”, Abu yazid berkata mengenai guru tadi, “Niscaya ia tidak akan melanggar hukum separti yang telah dilakukannaya tadi”.

TIDAK PERNAH MELUDAH SEPANJANG HAYAT

Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya kira-kira 40 langkah dari sebuah masjid, tetapi ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan meghormati masjid tersebut.

PERJALANAN ABU YAZID KE KA’BAH MAKKAH

Perjalanan Abu Yazid menuju ka’bah memakan waktu 12 tahun penuh. Hal ini karena setiap kali bertemu dengan seoarang pemberi khutbah, yang memberikan pengajaran di dalam perjalanannya itu, Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan solat sunat 2 rakaat.

Mengenai hai ini Abu Yazid berkata: ” Ka’bah bukanlah seperti serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat”.

Akhirnya sampailah ia ke Ka’bah tetapi ia tidak pergi ke Madinah pada tahun itu juga.

”Tidaklah wajar kunjunganku ke Madinah hanya sebagai pelengkap saja”, Abu Yazid menjelaskan , ”Aku akan mengenakan pakaian Haji yang berbeda bila mengunjungi Madinah ”.

Tahun berikutnya sekali lagi ia menunaikan ibadah haji. beliau mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak awal menempuh perjalanan di padang pasir. Di sebuah pasar dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi anak muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya.

”Siapakah orang-orang ini?”, ia bertanya sambil melihat ke belakang. “Mereka ingin berjalan bersamamu”, terdengar sebuah jawaban.

“Ya Allah”, Abu Yazid memohon, “janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba Mu karenaku”.

Untuk menghilangkan kecintaaan murid tadi kepadanya dan agar diri nya tidak sampai menjadi penghalang bagi mereka , maka setelah selasai malakukan solat Subuh, Abu Yazid berseru kepada mereka: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, Tiada Tuhan selain Aku dan karena itu sembahlah aku”.

“Abu Yazid sudah gila!”, seru mereka kemudian meninggalkannya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: