BISYR BIN HARITS – Versi Kitab Tadzkirotul Auliya

BISYR BIN HARITS
(BISYR AL HAFI, BISYR SI MANUSIA BERKAKI TELANJANG)
Versi Kitab Tadzkiratul Auliya’
“Jika engkau benar-benar berniat untuk menyenangkan Allah,
maka lunasilah hutang seseorang atau berikan uang itu kepada anak yatim atau
kepada seseorang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang diberikan kepada jiwa
orang Muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.”
 

 
 

PERTAUBATAN BISYR SI MANUSIA BERKAKI TELANJANG

Bisyr si manusia berkaki telanjang, lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Sewaktu muda, ia adalah seorang berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.
Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr:
“Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan namamu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaranKu, niscayaKu harumkan namamu, baik di dunia maupun di Akhirat nanti.”
Bisyr adalah seorang pemuda berandal,” si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi salah.”
Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi
yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga.
Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban : “Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur (mabuk-mabukan).”
Maka, pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampainya di sana, ia bertanya :
“Apakah Bisyr berada di tempat.”
“Ada, tetapi ia dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya.”
“Katakan kepadanya  bahwa ada pesan yang hendak ku sampaikan kepadanya,” ,manusia suci itu berkata.
 “Pesan dari siapa?” tanya Bisyr.
“Dari Allah!.” Jawab di manusia suci.
“Aduhai!” Bisyr berseru dengan air mata berlinang. “Apakah pesan untuk mencela atau untuk menghukum diriku? Tetapi tunggulah sebentar, aku akan pamit kepada sahabat-sahabatku terlebih dahulu.”
“Sahabat-sahabat” ia berkata kepada teman-teman minumnya. “Aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!.”
Sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar namanya tanpa kedamaian Ilahi menyentuh hatinya. Bisyr telah memilih jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr dijuluki si manusia berkaki telanjang.
Apabila ditanya : “Bisyr, apakah sebabnya engkau tak pernah memakai alas kaki?” Jawabnya adalah : “Ketika
aku berdamai dengan Allah, aku sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata : “Telah Kuciptakan bumi sebagai permadani untuk mu.” Dan bukankah tidak pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadai Raja?”.
Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi  Bisyr, Ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-muridnya pernah mencela sikapnya itu.
“Pada zaman ini tidak ada orang yang dapat menandingi mu di bidang Hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi setiap saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?”
“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr,  jawab Ahmad bin
Hambal. “Tetapi mengenai Allah ia lebih ahli daripada ku.”.
Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr : “Ceritakanlah kepadaku perihal Tuhan-ku.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI BISYR

“Nanti malam Bisyr akan datang kemari.” Pikiran ini membersit dalam hati saudara perempuan Bisyr.  Maka
segeralah ia menyapu dan mengepel lantai rumahnya. Kemudian dengan penuh harap menanti kedatangan saudaranya itu. Tiba-tiba Bisyr muncul seperti seorang yang sedang kebingungan.
“Aku akan naik ke atas loteng.”
Bisyr berkata kepada saudara perempuannya dan bergegas menuju tangga. Tetapi baru beberapa anak tangga yang dilaluinya, dia berhenti lalu sepanjang malam itu ia tetap berdiri terpaku di tempat itu. Setelah Shubuh barulah ia turun dan pergi ke masjid untuk shalat.
“Mengapa sepanjang malam tadi engkau berdiri terus di atas tangga?”, saudara perempuannya bertanya kepada Bisyr ketika ia kembali dari masjid. “Sebuah pikiran terbetik di dalam benakku, jawab Bisyr, Ada yang Yahudi, Kristen dan ada yang Majusi. Aku sendiri bernama Bisyr dan sebagai seorang Muslim aku telah mencapai kebahagiaan yang sangat besar. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah yang telah kulakukan sehingga aku memperoleh kebahagiaan itu dan apakah yang telah mereka lakukan sehingga mereka tidak memperolehnya? Karena bingung dibuat pikiran itulah aku berdiri terpaku seperti itu.”
oooOOOooo
Bisyr memiliki buku-buku Hadits
sebanyak tujuh lemari. Buku-buku itu dikuburkannya ke dalam tanah dan tidak
diajarkannya kepada siapa pun juga. Mengenai sikapnya ini Bisyr menjelaskan :
“Aku tidak mau mengajarkan
haidts-hadits itu karena aku merasa bahwa di dalam diriku ada hasrat untuk
melakukan hal itu. Tetapi seandainya aku mempunyai hasrat berdiam diri, niscaya
hadits-hadits itu akan kuajarkan.”
oooOOOooo
Selama empat puluh tahun Bisyr
sangat menginginkan daging panggang tetapi ia tak mempunyai uang untuk
membelinya. Bertahun-tahun ia menginginkan makan kacang buncis tetapi tak
sedikit pun ada yang dimakannya. Ia tak pernah meminum air dari saluran yang
ada pemiliknya.
oooOOOooo
Salah seorang di antara tokoh-tokoh
suci berkisah mengenai Bisyr : Suatu hari aku bersama Bisyr. Cuaca terasa
dingin sekali, tetapi kulihat Bisyr tidak memakai pakaian dan tubuhnya menggil
kedinginan.
“Abu Nashr”, tegurku, ‘dalam cuaca
dingin seperti ini orang-orang melapisi pakaian mereka, tetapi engkau malah
melepaskannya.”
“Aku teringat kepada orang-orang
miskin”, jawab Bisyr. “Aku tidak mempunyai uang untuk menolong mereka, oleh
karena itulah aku ingin turut merasakan penderitaan mereka.”
oooOOOooo
Ahmad bin Ibrahim menuturka : Bisyr
berkata kepadaku  “Sampaikan kepada Ma’ruf bahwa aku akan mengunjunginya
setelah aku selesai shalat.”
Pesan itu ku sampaikan kepada
Ma’ruf. Kemudian aku dan Ma’ruf menantikan dia. Tetapi setelah kami selesai
melakukan shalat Zhuhur, Bisyr belum juga datang. Ketika kami melakukan shalat
‘Ashar, ia belum juga kelihatan. Begitu pula halnya setelah kami salat ‘Isha.
“Maha Besar Allah,” Aku berkata
dalam hati, “apakah soerang manusia seperti Bisyr masih suka mengingkari janji?
Sungguh keterlaluan.”
Aku masih mengharap-harap kedatangan
Bisyr, waktu itu kami sedang berada di pintu masjid. Tidak lama kemudian
tampaklah Bisyr dengan mengepit sebuah sajadah berjalan ke arah kami. Begitu
sampai di sungai Tigris, Bisyr langsung menyeberanginya dengan berjalan di atas
air. Ia lalu menghampiri kami. Bisyr dan Ma’ruf berbincang-bincang sepanjang
malam. Setelah Shubuh barulah Bisyr meninggalkan tempat itu dan seperti ketika
ia datang, sungai itu disebranginya dengan berjalan di atas permukaannya. Aku
meloncat dari loteng, bergegas menyusulnya, dan setelah kucium tangan dan
kakinya, aku memohon kepadanya : “Berdoalah untuk diriku!.”
Bisyr mendoakan diriku. Setelah itu
ia berkata : “Jangan katakan segala sesuatu yang telah engkau saksikan kepada
siapapun!.”
Selama Bisyr masih hidup, kejadian
itu tak pernah kuceritakan kepada siapa pun juga.
oooOOOooo
Orang-orang berkumpul, mendengarkan
Bisyr memberikan ceramah mengenai Rasa Puas. Salah seorang di antara pendengar
menyela:
“Abu Nashr, engkau tidak mau
menerima pemberian orang karena ingin dimuliakan. Jika engkau benar-benar
melakukan penyangkalan diri dan memalingkan wajahmu dari dunia ini, maka
terimalah sumbangan-sumbangan yang diberikan kepadamu agar engkau tidak lagi
dipandang sebagai orang yang mulia. Kemudian secara
sembunyi  berikanlah semua itu kepada orang-orang miskin. Setelah itu
jangan engkau goyah dalam kepasrahan kepada Allah, dan terimalah nafkahmu dari
alam ghaib.”
Murid-murid Bisyr sangat terkesan
mendengar kata-kata ini.
“Camkan oleh kalian!.” Jawab Bisyr.
“Orang-orang miskin terbagi atas tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang
miskin yang tak pernah meminta-minta dan apabila kepada mereka diberikan
sesuatu mereka menolaknya. Orang-orang seperti ini adalah para spiritualis.
Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada Allah, niscaya Allah akan
mengabulkan segala permintaan mereka. Golongan ke dua adalah orang-orang miskin
yang tak pernah meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu,
mereka masih mau mnerimanya. Mereka itu berada di tengah-tengah. Mereka adalah
manusia-manusia yang teguh di dalam kepasrahan kepada Allah dan mereka inilah
yang akan dijamu Allah di dalam surga. Golongan ke tiga adalah orang-orang
miskin yang duduk dengan sabar menanti pemberian orang sesuai dengan
kesanggupan, tetapi mereka menolak godaan-godaan hawa nafsu.”
“Aku puas dengan keteranganmu ini.”
Orang yang menyela tadi berkata. “Semoga Allah puas pula denganmu.”
oooOOOooo
Beberapa orang mengunjungi Bisyr dan
berkata : “Kami datang dari Syria hendak pergi menunaikan ibadah Haji. Sudikah
engkau menyertai kami?.”
“Dengan tiga syarat,” jawab Bisyr.
“Yang pertama, kita tidak akan membawa perbekalan, kedua, kita tidak meminta
belas kasihan orang di dalam perjalanan; dan ketiga, jika orang-orang
memberikan sesuatu, kita tidak boleh menerimanya.”
“Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta
di dalam perjalanan dapat kami terima.” Jawab mereka. Tetapi apabila orang lain
memberikan sesuatu mengapa kita tidak boleh menerimanya?”
“Sebenarnya kalian tidak menyerahkan
diri kepada Allah, tetapi kepada pebekalan yang kalian bawa,” cela Bisyr kepada
mereka.
oooOOOooo
Seorang lelaki meminta nasehat
kepada Bisyr : “Aku mempunyai dua ribu dirham yang kuperoleh secara halal. Aku
ingin pergi menunaikan ibadah Haji.”
“Apakah engkau hendak pergi
bersenang-senang?” tanya Bisyr. “Jika engkau benar-benar
berniat untuk menyenangkan Allah, maka lunasilah hutang seseorang atau berikan
uang itu kepada anak yatim atau kepada seseorang yang butuh pertolongan.
Kelapangan yang diberikan kepada jiwa orang Muslim lebih disukai Allah daripada
seribu kali menunaikan ibadah haji.”
“Walau demikian, aku lebih suka jika
uang ini kupergunakan untuk menunaikan ibadah haji,” lelaki itu menjawab.
“Ya, karena engkau telah memperolehnya
dengan cara-cara yang tidak halal,” jawab Bisyr, “maka engkau tidak akan merasa
tenang sebelum menghabiskannya dengan cara-cara yang tidak benar.”
oooOOOooo
Bisyr berkisah : Pada suatu ketika,
di dalam mimpi aku berjumpa dengan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku : “Bisyr,
tahukah engkau mengapa Allah telah memilihmu di antara manusia-manusia yang
semasa denganmu? Dan tahukah engkau mengapa Allah memuliakanmu?”
“Aku tidak tahu ya Rasulullah,”
jawab ku.
“Karena engkau telah mengikuti
Sunnahku, memuliakan orang-orang yang saleh, memberi nasehat-nasehat yang baik
kepada saudara-saudaramu, dan mencintai aku dan keluargaku,” Nabi menjelaskan.
“Karena alasan-alasan itulah Allah telah mengangkatmu ke dalam golongan
orang-orang yang saleh.”
oooOOOooo
Bisyr berkisah pula sebagai berikut
:
Suatu malam aku bermimpi bertemu
dengan ‘Ali ra. Aku berkata kepadanya : “Berikan aku sebuah petuah.”
“Alangkah baik belas kasih yang
diperlihatkan orang-orang kaya kepada orang-orang miskin, semata-mata untuk
mendapatkan pahala dari Yang Maha Pengasih. Tetapi yang lebih baik adalah
keengganan orang-orang miskin untuk menerima pemberian orang-orang kaya karena
percaya kemurahan Sang Pencipta alam semesta,” jawab “Ali.
oooOOOooo
Bisyr sedang terbaring menantikan
ajalnya. Seseorang datang dan mengeluh tentang nasibnya yang malang. Bisyr
melepaskan dan memberikan pakaiannya kepada lelaki itu, kemudian menggunakan
sebuah pakaian yang dipinjamnya dari seorang sahabat. Dengan menggunakan
pakaian pinjaman itulah ia berpindah ke alam baqa.
oooOOOooo
Diriwiyatkan bahwa selama Bisyr
masih hidup, tidak ada keledai yang membuang kotorannya di jalan-jalan kota
Baghdad, karena menghormati Bisyr berjalan dengan kaki telanjang. Pada suatu
malam seorang lelaki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di atas
jalan. Maka berserulah ia :
“Wahai, Bisyr telah tiada!.”
Mendengar seruan itu, orang-orang
pun pergi menyelidiki. Ternyata kata-katanya itu terbukti kebenarannya. Lalu
kepadanya ditanyakan bagaimana ia bisa tahu bahwa Bisyr telah meninggal dunia.
“Karena selama Bisyr masih hidup,
tak pernah ada kotoran keledai terlihat di jalan-jalan kota Baghdad. Tadi aku
melihat bahwa kenyataan itu telah berubah, maka tahulah aku bahwa Bisyr telah
tiada.”

 

Sumber: Kitab Tadzkiratul Auliya , Warisan Para Auliya,
Karya Fariduddin Attar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: