Kisah Sufi – Ibnu Atha’

ibnu-atha

Abul Abbas  Ahmad bin Muhammad bin Sahl bin Atha’al-Adami adalah sahabat akrab al-Junaid. Ia seorang penggubah syair-syair spiritual dan seorang tokoh sufi terkemuka di kota Baghdad. Ibnu Atha’ dihukum mati pada tahun 309 H / 922 M.

 

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI IBNU ATHA’

Ibnu Atha’  termasuk salah seorang murid Junaid yang menonjol. Pada suatu hari beberapa orang pergi ke tempatnya berkhotbah dan mendapatkan seluruh lantai basah.

“Apakah yang terjadi,” mereka bertanya.

“Aku mendapatkan sebuah pengalaman spiritual,” Ibnu Atha’ menjelaskan. “Dalam keadaan malu dan dengan air mata bercucuran aku berjalan hilir mudik di dalam ruangan ini.”

“Mengapa demikian?” Mereka bertanya lagi.

“Ketika aku masih kacil,” Ibnu Atha’  menjawab,” Aku pernah mencuri seekor burung dara milik tetangga. Hal ini teringat olehku. Lalu aku berikan seribu dinar perak kepada pemilik burung itu sebagai penggantinya. Tetapi batinku tetap gelisah. Aku pun menangis, khawatir apakah akibat yang akan kutanggungkan karena perbuatanku tersebut.”

oooOOOooo

“Berapa kalikah engkau membaca al-Qur’an setiap hari?.” Seseorang bertanya kepada Ibnu Atha’  .

Ibnu Atha’  menjawab : “Dahulu aku biasa menamatkan al-Qur’an dua kali dalam duapuluh empat jam. Tetapi sekarang ini. Walau sudah empat belas tahun aku membacanya, aku baru sampai kepada surah al-Anfal.” (Beliau bukannya malas membaca Al-Qur’an, tapi Al-qur’an itu dihayatinya hingga menjadi perbuatan atau diamalkan dengan sungguh-sungguh-pen).

oooOOOooo

Ibnu Atha’  mempunyai sepuluh orang putera, semuanya gagah dan tampan. Ketika mereka menyertai Ibnu Atha’  dalam suatu perjalanan, perampok menghadang mereka. Kemudian para perampok itu hendak memenggal kepala mereka satu persatu. Ibnu Atha’  tidak berkata apa-apa, dan setiap kali salah seorang dari puteranya dipenggal kepalanya, ia menengadahkan kepala ke atas langit dan tertawa. Sembilan orang telah terbunuh. Para penyamun hendak menghabiskan anaknya yang ke sepuluh.

“Sungguh seorang ayah yang baik hati,” puteranya yang ke sepuluh itu berseru kepadanya. “Sembilan orang puteramu telah dipenggal dan engkau tidak berkata apa-apa, malahan tertawa-tawa.”

“Wahai buah hati ayah!.” Ibnu Atha’  menajwab, “Dia-lah yang melakukan hal ini, apakah yang dapat kita katakan kepada-Nya? Dia Maha Tahu dan Maha Melihat. Sesungguhnya Dia bisa. Jika Dia memang menghendaki menyelamatkan anak-anakku semuanya.”

Mendengar ucapan Ibnu Atha’  ini, penyamun yang hendak membunuh puteranya yang ke sepuluh itu terguguah hatinya dan berseru : “Orang tua, seandainya tadi kata-kata itu engkau ucapkan, niscaya tak seorang pun di antara anak-anakmu yang akan terbunuh.”

oooOOOooo

“Bagaimana kalian ini wahai para sufi,” beberapa theolog bertanya kepada Ibnu Atha’,” kalian telah menciptakan istilah-istilah yang aneh bagi pendengar-pendengarnya tetapi memberi keputusan dengan berkata biasa saja? Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama kalian hanya berlagak, karena berlagak tidak berkaitan dengan kebenaran maka doktrin kalian jelas palsu. Yang kedua, doktrin tersebut seimbang dan keseimbangan itu hendak kalian sembunyikan dari khalayak ramai?.”

“Semua ini kami lakukan karena doktrin itu sangat penting bagi kami,” Ibnu Atha’  menjawab. “Yang kami praktekkan itu sangat penting bagi kami dan kami tak menginginkan siapa pun juga, kecuali kami para sufi, yang mengetahuinya. Untuk maksud ini kami tidak mau menggunakan bahasa yang dikenal semua orang dan oleh karena itulah, kami menciptakan istilah-istilah khusus.”

 

MENGAPA IBNU ATHA’ MENGUTUK ALI BIN ISA

Ibnu Atha’  dituduh seorang bid’ah. Ali bin Isa menjabat wazir ( pembantu ) khalifah, memanggil dan mencela Ibnu Taha’ “Ibnu Atha’  menjawab dengan kata-kata yang kasar. Si wazir murka dan memerintahkan hamba-hambanya melepaskan sepatu yang sedang dipakainya, dengan sepatu itu mereka harus memukul kepala Ibnu Atha’  sampai ia mati. Di dalam penyiksaan itu Ibnu Atha’  meneriakkan kutukan kepadanya : “Semoga Allah memutuskan kaki dan tanganmu.”

Di belakang hari khalifah marah kepada wazirnya, Ali bin Isa, dan memerintahkan agar tangan dan kakinya dipotong.

Sehubungan dengan persitiwa ini beberapa di antara tokoh-tokoh sufi menyalahkan Ibnu Atha’  dan berkata : “Jika melalui doa-doamu engkau dapat memperbaiki manusia, mengapakah engkau mengutuk dia? Seharusnya engkau mendoakan keselamatannya.” Tetapi tokoh-tokoh sufi yang lain membela Ibnu Atha’  dan berkata : “Mungkin sekali Ibnu Atha’ mengutuk si wazir untuk membela kaum Muslimin karena ia adalah seorang wazir yang zhalim.”

Sebuah penjelasan lain yang membela Ibnu Atha’  adalah : sebagai seorang manusia yang berintuisi tajam, Ibnu Atha’ mengetahui malapetaka yang akan menimpa diri si wazir. Ia hanya menyatakan persetujuannya terhadap takdir Allah itu, dengan demikian Allah menyatakan kehendak-Nya melalui lidah Ibnu Atha’  , sedang Ibnu Atha’  sama sekali berlepas tangan.

Menurut pendapat saya sendiri, sesungguhnya Ibnu Atha’   tidak mengutuk si wazir. Bahkan sebaliknya. Ibnu Atha’   mendo’akan demikian supaya si wazir dapat mencapai derajat seorang syuhada. Ibnu Atha’ mendoakan agar si wazir menanggung kehinaan di atas dunia ini dan kehilangan kedudukannya yang tinggi berserta kekayaan yang melimpah itu. Jadi dengan sudut pandang yang seperti ini terlihatlah bahwa Ibnu Atha’  semata-mata menghendaki kebaikan bagi Ali bin Isa, karena bukankah hukuman di atas dunia ini jauh lebih ringan daripada di Akhirat.?

 

Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya – Fariduddin Attar

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: