Kisah Sufi – Ibrahim Al-Khauwash

Pada suatu hari, di tengah padang pasir, aku sampai ke sebuah pohon di tepi sebuah mata air. Tiba-tiba seekor singa yang bertubuh besar muncul dan menghampiriku. Aku berserah diri kepada Allah Setelah dekat barulah aku tahu bahwa singa itu berjalan terpincang-pincang. Binatang itu merebahkan dirinya di hadapanku dan mengerang kesakitan. Setelah ku amati ternyata kakinya bengkak dan bernanah. Kuambil sepotong kayu dan kutoreh  bengkak di kakinya itu sehingga semua nanah di dalamnya keluar. Kemudian dengan secarik kain, kaki singa itu ku balut. Singa itu bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi tidak berapa lama kemudian, singa itu datang lagi bersama anak-anaknya yang masih kecil. Sambil mengibas-ibaskan ekor, mereka mengelilingiku. Mereka membawa sepotong roti yang kemudian mereka taruh di hadapanku.

oooOOOooo

Pada suatu ketika aku tersesat di padang pasir, untuk beberapa lama aku berjalan ke satu arah yang tetap tetapi aku tidak menemukan jalan. Berhari-hari lamanya aku kehilangan arah seperti itu sehingga pada akhirnya aku dengar kokok ayam. Aku kegirangan dan berjalan ke arah datangnya suaru kokok ayam tersebut. Tetapi yang ku jumpai adalah seseorang yang segera menyerang dan memukul tengkukku. Pukulan itu sangat menyakitkan.

“Ya Allah,” aku berseru. ”Beginikah perlakuan mereka terhadap seseorang yang memasrahkan diri kepada-Mu?.”

Maka terdengarlah olehku sebuah suara yang ditujukan kepadaku:

“Selama engkau percaya kepada-Ku, selama itu pula engkau mulia menurut pandangan-Ku. Tetapi karena engkau telah mempercayai kokok seekor ayam, maka terimalah olehmu pukulan itu sebagai hukumanmu.”

Badanku masih terasa perih tetapi aku tetap melanjutkan perjalanan.

“Khauwash.” Terdengar seruan, ”Pukulan orang-orang itu telah mencederai dirimu, tetapi lihatlah apa yang di hadapanmu  itu.”

Aku mengangkat kepala dan terlihat di depanku kepala orang yang memukulku tadi.

oooOOOooo

Aku telah bersumpah akan mengembara di padang pasir tanpa perbekalan, makanan, binatang tunggangan. Begitu aku memasuki padang pasir, seorang pemuda mengejarku dan mengucapkan salam.

“Assalaamu ‘alaikum Syeikh,” katanya.

Aku berhenti dan kujawab salamnya. Kemudian tahulah aku bahwa dia beragama Kristen.

“Bolehkah aku berjalan bersamamu?” si pemuda bertanya.

“Tempat yang kutuju terlarang untukmu, maka apakah faedahnya bagimu untuk berjalan bersamaku,” jawabku.

“Tidak mengapa,” jawabnya. “Mungkin sekali dengan berjalan bersamamu akan membawa keberkatan.”

Setelah seminggu berjalan, pada hari yang ke delapan si pemuda berkata kepadaku.

“Wahai orang suci budiman dari kaum Hanafiah, beranikah dirimu untuk meminta sekedar  makanan dari Tuhanmu  karena aku merasa lapar.”

“Ya Tuhanku,” aku berdoa.” Demi Muhammad saw. Janganlah Engkau membuatku malu di depan orang asing ini tetapi turunkanlah sesuatu dengan keghaiban.”

Sesaat itu juga terlihatlah olehku sebuah nampan yang penuh dengan roti, ikan panggang, kurma dan sekendi air. Maka duduklah kami untuk menyantap hidangan itu.

Kamudian kami meneruskan perjalanan hingga genap satu minggu pula. Pada hari yang ke delapan aku berkata kepada teman seperjalananku itu.

“Wahai Rahib, tunjukanlah kebolehanmu karena aku telah merasa lapar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: