Kisah Sufi – Ibrahim Al-Khauwash

Sambil bersandar pada tongkatnya, si pemuda berdoa dengan bibir komat-kamit. Sesaat itu juga terciptalah dua buah meja yang masing-masing penuh dengan halwa, ikan, kurma dan sekendi air. Aku terheran-heran.

“Makanlah wahai orang suci!.” Si pemuda Kristen berkata kepadaku.

Aku sangat malu menyantap hidangan itu.

“Makanlah,” si pemuda mendesak. ”Sesudah itu akan ku sampaikan kepadamu beberapa buah kabar gembira.”

Aku tidak mau makan sebelum engkau menyampaikan kabar gembira itu,” jawabku.

“Yang pertama adalah bahwa aku akan melepaskan sabukku ini, katanya.

Setelah berkata demikian dilepaskannya sabuk yang sedang dikenakannya. Kemudian dia menlanjutkan kata-katanya.

“Aku bersaksi, tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Kabar gembira yang ke dua adalah, sesungguhnya doaku tadi adalah “Ya Allah, demi orang tua yang mulia di pandanganMu ini, orang tua penganut agama yang benar ini, berilah aku makanan agar aku tidak mendapat malu di hadapannya,” Sesungguhnya hal ini terjadi karena berkatmu juga.”

oooOOOooo

Suatu hari ketika aku melintasi daerah Syiria terlihatlah olehku pohon-pohon delima. Aku mengekang hasratku dan tak sebuah pun dari delima-delima itu yang aku makan karena semuanya asam, sedang yang kuinginkan adalah yang rasanya manis. Tidak berapa lama kemudian ketika memasuki lembah aku menemukan orang yang terbaring, lemah dan tak berdaya. Ulat-ulat telah merayapi tubuhnya, tawon-tawon (atau sejenis serangga) berdesingan di sekelilingnya dan kadang-kadang menyengatnya. Melihat keadaan yang menyedihkan itu,  timbullah rasa kasihanku. Setelah menghampirinya aku bertanya kepadanya. “Bolehkah aku mendoakanmu agar engkau terlepas dari penderitaan ini?.”

“Tidak,” jawab orang itu.

“Mengapa,” aku bertanya.

“Karena kesembuhan adalah kehendakku dan penderitaan ini adalah kehendak-Nya.”

“Setidak-tidaknya izinkan aku mengusir binatang-binatang ini,” bujukku.

“Khauwash,” ia menjawab, “Usirlah hasratmu terhadap buah-buah delima yang rasanya manis itu. Apakah perlunya engkau mengganggu diriku?  Berdoalah untuk kesembuhan hatimu sendiri. Apakah perlunya engkau mendoakan kesembuhan jasmaniku?”

“Bagaimanakah engkau tahu bahwa aku bernama Khauwwash?

“Barang siapa mengenal Allah, maka tidak sesuatu pun yang tersembunyi daripadanya,” ia menjawab.

“Bagaimanakah perasaanmu terhadap tawontawon ini? Aku bertanya pula.

“Selama tawon-tawon itu menyengat tubuhku dan ulat-ulat ini menggerogoti tubuhku, aku merasa bahagia.” Jawabnya.

oooOOOooo

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: