Kisah Sufi – Ibrahim Al-Khauwash

Pernah kudengar bahwa di Bizantium ada seorang rahib yang telah tujuh puluh tahun lamanya berdiam di sebuah biara dalam keadaan membujang.

“Sungguh mengagumkan!.” Aku berseru. “Empat puluh tahun adalah kualifikasi untuk menjadi seorang rahib.”

Maka berangkatlah aku untuk mengunjungi si rahib. Ketika aku telah dekat ke biara itu, si rahib membuka sebuah pintu kecil. Begitu melihat kedatanganku ia berseru.

“Ibrahim, mengapakah engkau kemari? Aku tidak berada di sini sebagai pertapa yang membujang seumur hidup. Aku mempunyai seekor anjing yang suka menggigit orang. Kini aku sedang mengawasi anjingku itu dan mencegahnya apabila hendak menyerang manusia. Jadi aku ini bukanlah seperti yang engkau persangkakan.”

Mendengar jawaban itu aku pun berseru:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau dapat membimbing hambamu apabila ia tersesat.”

“Ibrahim,” rahib itu menegurku,” Sampai kapankah engkau hendak mencari-cari manusia? Carilah dirimu sendiri dan setelah engkau temukan, berjaga-jagalah karena setiap hari hasrat yang menyimpang mengenakan tiga ratus enam puluh pakaian kemuliaan Ilahi untuk menyesatkan manusia.

 

Sumber: Kitab Tadzkiratul Auliya, karangan Syeikh Faridudin Attar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: