Pelajaran Dari Berburuk Sangka

Gerak-gerik lelaki dan perempuan yang duduk berduaan di tepian Sungai Dajlah itu memang mencurigakan sekali. Hangat berbincang … Akrab bercanda … Mesra bahasa tubuhnya.

Dan yang lebih mencurigakan sekali, di dekat si pria teronggok sebuah botol tembikar ramping, jenis yang biasa dipakai untuk wadah khamr.

Maka Imam para ‘ulama di zamannya, Hasan Al Bashri, menggumam dalam hati ketika berjalan melewati pasangan yang asyik ini,

“Betapa buruknya akhlaq sebegini, dan alangkah baiknya jika si lelaki seperti diriku ini.”

Tetiba sebuah perahu penyeberangan yang ada di dekat mereka terbalik.

Tujuh penumpangnya berteriak menggapai-gapai tersapu arus deras.

Lelaki yang sedang berduaan itu dengan sigap meloncat ke dalam aliran sungai.

Dengan kecekatan dan keterampilan berenang yang hebat, dua demi dua penumpang naas berhasil ditariknya ke tepian. Tinggal satu yang lepas terhanyut dan sang penolong telah kelelahan untuk mengejarnya ke dalam pusaran.

Begitu naik ke darat, dia mendekati Hasan Al Bashri.

“Aku tahu Tuan tadi menganggapku seorang yang amat buruk laku”, ujarnya.

“Jika Tuan memang lebih baik daripada diriku, coba selamatkan seorang yang gagal kutolong itu!”

Sang Imam menggeleng malu, merasa tak mampu.

“Tuan hanya diminta menyelamatkan satu! Aku sudah berandil dengan menolong 6 orang lainnya bukan?”

Beliau mengangguk dan meminta maaf.

“Tuan ketahuilah, yang duduk bersamaku sejak tadi itu adalah Ibuku. Dan botol yang Tuan lihat itu sebenarnya hanya berisi air, bukan minuman memabukkan!”

Air mata meleleh bersama ketertegunan sekaligus sesal mendalam Imam Hasan Al Bashri.

“Jika demikian”, ujar beliau, “Sebagaimana telah kauselamatkan 6 orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah aku dari tenggelam dalam ke’ujuban dan ketakabburan.”

“Aamiin”, ujar si pemuda. “Semoga Allah selalu memberikan taufiqNya kepadamu.”

Sejak saat itu, Imam Hasan Al Bashri dikenal dengan ungkapannya yang masyhur.

“Seorang zuhud itu”, kata beliau,

“Adalah insan yang setiap kali berjumpa sesama, maka dia berkata kepada dirinya, ‘Orang ini lebih baik daripada saya’.”

Demikianlah…

Kita tidak diizinkan untuk mengukur kemuliaan dari keturunan, kekayaan, ras, paras, pangkat, ataupun jabatan.

Satu-satunya ukuran kemuliaan yang Dia izinkan adalah taqwa.

Seandainya taqwa itu tertanda zhahir di dahi, apalagi dengan skor berupa angka pasti, mudahlah kita bersikap.

Mencium tangan mereka yang lebih mulia, atau mengelus kepala mereka yang lebih rendah derajatnya mungkin jadi pilihan laku.

Tapi anehnya, taqwa yang jadi satu-satunya ukuran kemuliaan yang diakuiNya itu Dia sembunyikan dalam dada.

Artinya?

  •  Berjuanglah terus menjadi orang bertaqwa, tapi jangan pernah memandang rendah pada sesama. ••

#PembelajaranDiri

#Muhasabah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: