Kisah Rabi’ah Al Adawiyah – Versi Kitab Tadzkiratul Auliya

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada Neraka,
bakarlah aku di dalam Neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan
Syurga, campakkanlah aku dari dalam Syurga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi
Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang
abadi kepada ku….” Doa Rabi’ah Al- Adawiyah

RABI’AH, LAHIR DAN MASA KANAK-KANAK-NYA

Jika seseorang bertanya :”Mengapa engkau mensejajarkan Rabi’ah dengan kaum lelaki?”, maka jawabanku adalah bahwa
Nabi sendiri pernah berkata : “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kamu”
dan yang menjadi masalah bukanlah bentuk, tetapi niat seperti yang dikatakan
Nabi,“Manusia-manusia akan dimuliakan sesuai dengan niat di dalam hati mereka.” Selanjutnya,
apabila kita boleh menerima dua pertiga ajaran agama dari “Aisyah”, maka sudah
tentu kita boleh pula menerima petunjuk-petunjuk agama dari pelayan pribadinya
itu. Apabila seorang perempuan berubah menjadi “seorang laki-laki” pada jalan
Allah, maka ia adalah sejajar dengan kaum laki-laki dan kita tidak dapat
menyebutnya sebagai seorang perempuan lagi.
Pada malam  Rabi’ah
dilahirkan ke atas dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang dapat
ditemukan di dalam rumah orang tuanya, karena ayahnya adalah seorang yang
sangat  miskin. Si ayah bahkan tidak mempunyai minyak barang setetes
pun untuk pemoles pusar puterinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidak mempunyai
kain untuk menyelimuti Rabi’ah. Si ayah telah memperoleh tiga orang puteri dan
Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan
Rabi’ah.
“Pergilah kepada tetangga kita si
anu dan mintalah sedikit minyak sehingga aku dapat menyalakan lampu” isterinya
berkata kepadanya.
Tetapi si suami telah bersumpah
bahwa ia tidak akan meminta sesuatu jua pun dari manusia lain. Maka pergilah
ia, pura-pura menyentuhkan tangannya ke pintu rumah tetangga tersebut lalu
kembali lagi ke rumahnya.
“Mereka tidak mau membukakan pintu,”
ia melaporkannya kepada isterinya sesampainya di rumah.
Isterinya yang malang menangis
sedih. Dalam keadaan yang serba memprihatinkan itu si suami hanya dapat
menekurkan kepala ke atas lutut dan terlena. Di dalam tidurnya ia bermimpi
melihat Nabi.
Nabi membujuknya : “Janganlah engkau
bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum
wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang  di antara kaum
ku.” Kemudian nabi meneruskan : “Besok, pergilah engkau menghadap ‘Isa
as-Zadan, Gubernur Bashrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata berikut ini :
“Setiap malam engkau mengirimkan
shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam jum’at empat ratus kali.
Kemarin adalah malam Jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus
kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau
peroleh secara halal.”
Ketika terjaga dari tidurnya, ayah
Rabi’ah mengucurkan air mata. Ia pun bangkit dan menulis seperti yang telah
dipesankan Nabi kepadanya dan mengirimkannya kepada Gubernur melalui pengurus
rumah tangga istana.
”Berikanlah dua ribu dinar kepada
orang-orang miskin,” Gubernur memberikan perintah setelah membaca surat
tersebut, “Sebagai tanda syukur karena Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian
berikan empat ratus dinar kepada si Syaikh (ayah Rabi’ah) dan katakan kepadanya
: “Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun,
tidaklah pantas bagi seorang seperti kamu untuk datang  menghadapku.
Lebih baik seandainya akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan
janggutku ini. Walaupun demikian, demi Allah, aku memohon kepadamu, apa pun
yang engkau butuhkan katakanlah kepadaku.”
Ayah Rabi’ah menerima uang emas tersebut
dan membeli sesuatu yang di rasa perlu.
Ketika Rabi’ah beranjak besar,
sedang ayah bundanya telah meninggal dunia, bencana kelaparan melanda kota
Bashrah, dan ia terpisah dari kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika
Rabi’ah keluar rumah, ia terlihat oleh seorang penjahat yang segera
menangkapnya kemudian menjualnya dengan harga enam dirham. Orang yang membeli
dirinya menyuruh Rabi’ah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat.
Pada suatu hari ketika ia
bejalan-jalan, seseorang yang tak dikenal datang menghampirinya. Rabi’ah
melarikan diri, tiba-tiba ia terjatuh tergelincir sehingga tangannya terkilir.
Rabi’ah menangis sambil
mengantuk-atukan kepalanya ke tanah : “Ya Allah, aku adalah seorang asing di
negeri ini, tidak mempunyai ayah bunda, seorang tawanan yang tak berdaya,
sedang tanganku cedera. Namun semua itu tidak membuatku bersedih hati.
Satu-satunya yang kuharapkan adalah dapat memenuhi kehendak-Mu dan mengetahui
apakah Engkau berkenan atau tidak.”
“Rabi’ah, janganlah engkau berduka,”
sebuah suara berkata kepadanya. “Esok lusa engkau akan dimuliakan sehingga
malaikat-malaikat iri kepadamu.”
Rabi’ah kembali ke rumah tuannya. Di
siang hari ia terus berpuasa dan mengabdi kepada Allah, sedangkan di malam hari
ia berdoa kepada Allah sambil terus berdiri sepanjang malam.
Pada suatu malam tuannya terjaga
dari tidur, dan lewat jendela terlihat olehnya Rabi’ah sedang bersujud dan
berdoa kepada Allah.
“Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat
hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Jika aku
dapat mengubah nasib diriku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat barang
sebentar pun dari mengabdi kepada-Mu. Tetapi Engkau telah menyerahkan diriku ke
bawah kekuasaan seorang hamba-Mu.” Demikianlah kata-kata yang diucapkan Rabi’ah
di dalam doanya itu.
Dengan mata kepalanya sendiri si
majikan menyaksikan betapa sebuah lentera tanpa rantai tergantung di atas
kepada Rabi’ah sedang cahayanya menerangi seluruh rumah. Menyaksikan peristiwa
ini, ia merasa takut. Ia lalu beranjak ke kamar tidurnya dan duduk merenung
hingga fajar tiba. Ketika hari telah terang ia memanggil Rabi’ah, bersikap
lembut kepadanya kemudian membebaskannya.
“Izinkanlah aku pergi,” Rabi’ah
berkata.
Tuannya memberikan ijin. Rabi’ah
lalu meninggalkan rumah tuannya menuju padang pasir mengadakan perjalanan
menuju sebuah pertapaan di mana ia untuk beberapa lama lmembaktikan diri kepada
Allah. Kemudian ia berniat hendak menunaikan ibadah Haji. Maka berangkatlah ia
menempuh padang pasir kembali. Barang-barang miliknya dibuntalnya di atas
punggung keledai. Tetapi begitu sampai di tengah-tengah padang pasir, keledai
itu mati.
“Biarlah kami yang membawa
barang-barangmu,” lelaki-lelaki di dalam rombongan itu menawarkan jasa mereka.
“Tidak! Teruskanlah berjalan
kalian,” jawab Rabi’ah. “Bukan tujuanku untuk menjadi beban kalian.”
Rombongan itu meneruskan perjalanan
dan meninggalkan Rabi’ah seorang diri.
“Ya Allah,” Rabi’ah berseru sambil
menengadahkan kepala. “Demikiankah caranya raja-raja memperlakukan seorang
wanita yang tak berdaya di tempat yang masih asing baginya? Engkau telah
memanggilku ke rumah-Mu, tetapi di tengah perjalanan Engkau membunuh keledaiku
dan meninggalkan ku sebatang kara di tengah-tengah padang pasir ini.
Beum lagi Rabi’ah selesai dengan
kata-katanya ini, tanpa diduga keledai itu bergerak berdiri. Rabi’ah meletakkan
barang-barangnya ke atas punggung binatang itu dan melanjutkan perjalanannya.
(Tokoh yang meriwayatkan kisah ini mengatakan bahwa tidak berapa lama setelah
peristiwa itu, ia melihat keledai kecil tersebut sedang  dijual orang
di pasar).
Beberapa hari lamanya Rabi’ah
meneruskan perjalanannya menempuh padang pasir, sebelum ia berhenti, ia berseru
kepada Allah : Ya Allah, aku sudah letih. Ke arah manakah yang harus ku tuju?
Aku ini hanyalah segumpal tanah sedang rumah Mu terbuat dari batu. Ya Allah,
aku memohon kepadamu, tunjukanlah diri-Mu.
Allah berkata ke dalam hati sanubari
Rabi’ah : “Rabi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas
ribu dunia. Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah memohon untuk melihat
wajah-Ku dan gunung-gunug terpecah-pecah menjadi empat puluh keping. Karena itu
merasa cukuplah engkau dengan namaKu saja!.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI RABI’AH

Pada suatu malam ketika Rabi’ah
sedang shalat di sebuah pertapaan, ia merasa sangat letih sehingga ia jatuh
tertidur. Sedemikian nyanyak tidurnya sehingga ketika matanya berdarah tertusuk
alang-alang dari tikar yang ditidurinya, ia sama sekali tidak menyadarinya.
Seorang maling masuk menyelinap ke
dalam pertapaan itu dan mengambil cadar Rabi’ah. Ketika hendak menyingkir dari
tempat itu didapatinya bahwa jalan keluar telah tertutup, Dilepaskannya cadar
itu dan ditinggalkannya tempat itu dan ternyata jalan ke luar telah terbuka
kembali. Cadar Rabi’ah diambilnya lagi, tetapi jalan keluar tertutup kembali.
Sekali lagi dilepaskanya cadar itu. Tujuh kali perbuatan seperti itu
diulanginya. Kemudian terdengarlah olehnya sebuah suara dari pojok pertapaan
itu.
“Hai manusia, tiada gunanya engkau
mencoba-coba. “Sudah bertahun-tahun Rabi’ah mengabdi kepda Kami. Syaithan
sendiri tidak berani datang menghampirinya. Tetapi betapakah seorang maling
memiliki keberanian hendak mencuri cadarnya? Pergilah dari sini hai manusia
jahanam! Tiada guna engkau mencoba-coba lagi. Jika seorang sahabat sedang
tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga.”
ooooOOOOoooo
Dua orang pemuka agama datang
mengunjungi Rabi’ah dan keduanya merasa lapar. “Mudah-mudahan Rabi’ah akan
menyuguhkan makanan kepada kita.” Mereka berkata. “Makanan yang disuguhkan
Rabi’ah pasti diperolehnya secara halal.”
Ketika mereka duduk, di depan mereka
telah terhampar serbet dan di atasnya ada dua potong roti. Melihat hal ini
mereka sangat gembira. Tetapi saat itu pula seorang pengemis datang dan Rabi’ah
memberikan kedua potong roti itu kepadanya. Kedua pemuka agama itu sangat kecewa,
namun mereka tidak berkata apa-apa. Tak berapa lama kemudian masuklah seorang pelayan
wanita membawakan beberapa buah roti yang masih panas.
“Majikanku teleh menyuruhku untuk
mengantarkan roti-roti ini kepadamu,” si pelayan menjelaskan.
Rabi’ah menghitung roti-roti
tersebut. Semua berjumlah delapan belas buah.
“Mungin sekali roti-roti ini bukan
untuk ku,” Rabi’ah berkata.
Si pelayan berusaha meyakinkan
Rabi’ah namun percuma saja. Akhirnya roti-roti itu dibawanya kembali.
Sebenarnya yang telah terjadi adalah bahwa pelayanan itu telah mengambil dua
potong untuk dirinya sendiri. Kepada nyonya majikannya ia meminta dua potong
roti lagi kemudian kembali ke tempat Rabi’ah. Roti-roti itu dihitung oleh
Rabi’ah, ternyata semuanya ada dua puluh buah dan setelah itu barulah ia menerimanya.
“Roti-roti ini memang telah dikirimkan
majikanmu untukku?” kata Rabi’ah.
Kemudian Rabi’ah menyuguhkan
roti-roti tersebut kepada kedua tamunya tadi. Keduanya makan namun masih dalam
keadaan terheran-heran.
“Apakah rahasia di balik semua ini?”
mereka bertanya kepada Rabi’ah. “Kami ingin memakan rotimu sendiri tetapi
engkau memberikannya kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada
si pelayan tadi bahwa ke delapan belas roti itu bukanlah dimaksudkan untukmu.
Tetapi kemudian keetika semuanya berjumlah dua puluh buah barulah engkau mau
menerimanya.”
Rabi’ah menjawab : “Sewaktu kalian
datang, aku tahu bahwa kalian sedang lapar. Aku berkata kepada diriku sendiri,
betapa aku tega untuk menyuguhkan dua potong roti kepada dua orang pemuka yang
terhormat? Itulah sebabnya mengapa ketika si pengemis tadi datang, aku segera
memberikan dua potong roti itu kepadanya dan berkata kepada Allah Yang Maha
Besar, “Ya Allah, Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan memberikan ganjaran
sepuluh kali lipat dan janji-Mu itu kupegang teguh. Kini telah ku sedehkankan
dua potong roti utuk menyenangkan hati-Mu, semoga Engkau berkenan untuk
memberikan dua puluh potong sebagai imbalannya. Ketika ke delapan belas roti
itu di antarkan kepadaku, tahulah aku bahwa sebagian darinya telah dicuri atau
roti-roti itu bukan untuk disampaikan kepada ku.”
ooooOOOOoooo
Pada suatu hari pelayan wanita
Rabi’ah hendak memasak sop bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak
memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata
kepada Rabi’ah : “Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah.”
“Tetapi Rabi’ah mencegah : Telah
empat puluh tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun
kecuali kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu.”
Segera setelah Rabi’ah berkata
demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah
terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam belanga.
Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah
berkata : “Aku takut jika semua ini adalah semacam tipu muslihat.”
Rabi’ah tidak mau menyentuh sup
bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.
ooooOOOOoooo
Pada suatu hari Rabi’ah berjalan ke
atas gunung. Segera ia dikerumuni oleh kawanan rusa, kambing hutan, ibeks
(sebangsa kambing hutan yang bertanduk panjang) dan keledai-keledai liar.
Binatang-binatang itu menatap Rabi’ah dan hendak menghampirinya. Tanpa
disangka-sangka Hasan al-Basri datang pula ke tempat itu. Begitu melihat
Rabi’ah segera ia datang menghampirinya. Tapi setelah melihat kedatangan Hasan,
binatang-binatang tadi lari ketakutan dan meninggalkan Rabi’ah. Hal ini membuat
Hasan kecewa.
“Mengapakah binatang-binatang itu
menghindari diriku sedang mereka begitu jinak terhadapmu?”, Hasan bertanya
kepada Rabi’ah.
“Apakah yang telah engkau makan pada
hari ini?”, Rabi’ah balik bertanya.
“Sup bawang.”
“Engkau telah memakan lemak
binatang-binatang itu. Tidak mengherankan jika mereka lari ketakutan melihatmu.
ooooOOOOoooo
Di hari lain, ketika Rabi’ah lewat
di depan rumah Hasan. Saat itu Hasan termenung di jendela. Ia sedang menangis
dan air matanya menetes jatuh mengenai pakaian Rabi’ah. Mula-mula Rabi’ah
mengira hujan turun, tetapi setelah ia menengadah ke atas dan melihat Hasan,
sadarlah ia bahwa yang jatuh menetes itu adalah air mata Hasan.
“Guru, menangis adalah pertanda dari
kelesuan spiritual,” ia berkata kepada Hasan. “Tahanlah air matamu. Jika tidak,
di dalam dirimu akan menggelora samudera sehingga engkau tidak dapat mencari
dirimu sendiri kecuali pada seorang Raja Yang Maha Perkasa.”
Teguran itu tidak enak di dengar
Hasan, namun ia tetap menahan diri. Di belakang hari ia bertemu dengan Rabi’ah
di tepi sebuah danau. Hasan menghamparkan sajadahnya di atas air dan berkata
kepada Rabi’ah,
“Rabi’ah, marilah kita melakukan
shalat sunnat dua raka’at di atas air!.”
Rabi’ah menjawab : “Hasan, jika
engkau mempertontonkan kesaktian-kesaktian mu di tempat ramai ini, maka
kesaktian-kesaktian itu haruslah yang tak dimiliki oleh orang-orang lain.”
Sesudah berkata Rabi’ah melemparkan
sajadahnya ke udara, kemudian ia melompat ke atasnya dan berseru kepada Hasan:
“Naiklah kemari Hasan, agar orang-orang dapat menyaksikan kita.”
Hasan yang belum mencapai kepandaian
seperti itu tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Rabi’ah mencoba
menghiburnya dan berkata : “Hasan, yang engkau lakukan tadi dapat pula
dilakukan oleh seekor ikan dan yang ku lakukan tadi dapat pula dilakukan oleh
seekor lalat. Yang terpenting bukanlah keahlian-keahlian seperti itu. Kita
harus mengabdikan diri kepada Hal-hal Yang Terpenting itu.”
ooooOOOOoooo
Pada suatu malam Hasan beserta dua
tiga orang sahabatnya berkunjung ke rumah Rabi’ah. Tetapi rumah itu gelap,
tiada berlampu. Mereka senang sekali seandainya pada saat itu ada lampu. Maka
Rabi’ah meniup jari  tangannya. Sepanjang malam itu hingga fajar,
jari tangan Rabi’ah memancarkan cahaya terang benderang bagaikan lentera dan
mereka duduk di dalam benderangnya.
Jika ada seseorang yang bertanya :
“bagaimana hal seperti itu bisa terjadai?”, maka jawabanku adalah :
“Persoalannya adalah sama dengan tangan Musa.” Jika ia kemudian menyangkal : ‘Tetapi
musa adalah seorang Nabi!”, maka jawabanku : “Barangsiapa yang mengikuti jejak
Nabi akan mendapatkan sepercik kenabian, seperti yang penah dikatakan Nabi
Muhammad saw. Sendiri, “ Barang siapa yang menolak harta benda yang tidak
diperoleh secara halal, walaupun harganya satu sen, sesungguhnya ia telah
mencapai suatu tingkat kenabian.” Nabi Muhammad saw. Juga pernah berkata :
“Sebuah mimpi yang benar adalah seperempat puluh dari kenabian.”
ooooOOOOoooo
Pada suatu ketika Rabi’ah
mengirimkan sepotong lilin, sebuah jarum dan sehelai rambut kepada Hasan,
dengan pesan :
“Hendaklah engkau seperti sepotong
lilin, senantiasa menerangi dunia walaupun dirinya sendiri terbakar. Hendaklah
engkau seperti sebuah jarum, senantiasa berbakti walaupun tidak memiliki
apa-apa. Apabila kedua hal itu telah engkau lakukan, maka bagimu seribu tahun
hanyalah seperti sehelai rambut ini.”
“Apakah engkau menghendaki agar kita
menikah?” tanya Hasan kepada Rabi’ah.
“Tali pernikahan hanyalah untuk
orang-orang yang memiliki keakuan. Di sini keakuan telah sirna, telah menjadi
tiada dan hanya ada melalui Dia. Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah
naungan-Nya. Engkau harus melamar diriku kepda-Nya, bukan langsung kepada
diriku sendiri.”
“Bagaimanakah engkau telah menemukan
rahasia ini, Rabi’ah?”, tanya Hasan.
“Aku lepaskan segala sesuatu yang
telah ku peroleh kepada-Nya.” jawab Rabi’ah.
“Bagaimana engkau telah dapat
mengenal-Nya?”
“Hasan, engkau lebih suka bertanya,
tetapi aku lebih suka menghayati,” jawab Rabi’ah.
oooo0000oooo
Suatu hari Rabi’ah bertemu dengan
seseorang yang kepalanya dibalut.
“Mengapa engkau membalut kepalamu?”,
tanya Rabi’ah.
“Karena aku merasa pusing,” jawab
lelaki itu.
“Berapakah umurmu?”, Rabi’ah
bertanya lagi.
“Tiga puluh tahun.” Jawabnya.
“Apakah engkau banyak menderita
sakit dan merasa susah di dalam hidupmu?”
“Tidak,” jawabnya lagi.
“Selama tiga puluh tahun engkau
menikmati hidup yang sehat, engkau tidak pernah mengenakan selubung kesyukuran,
tetapi baru malam ini saja kepalamu terasa pusing, engkau telah mengenakan
selubung keluh kesah,” kata Rabi’ah.
ooooOOOOoooo
Suatu ketika Rabi’ah menyerahkan
uang empat dirham kepada seorang lelaki.
“Belikanlah kepadaku sebuah
selimut,” kata Rabi’ah,” karena aku tidak mempunyai pakaian lagi.”
Lelaku itu pun pergi, tetapi tidak
lama kemudian ia kembali dan bertanya kepada Rabi’ah : “Selimut berwarna apakah
yang harus ku beli?”
“Apa perduliku dengan warna?”
Rabi’ah berkata. “Kembalikan uang itu kepadaku kembali.”
Diambilnya keempat buah dirham perak
itu dan dilemparkannya ke sungai Tigris.
ooooOOOOoooo
Suatu hari di musim semi Rabi’ah
memasuki tempat tinggalnya, kemudian melongok ke luar karena pelayannya berseru
:
“Ibu, keluarlah dan saksikanlah apa
yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta.”
“Lebih baik engkaulah yang masuk ke
mari,” Rabi’ah menjawab, “dan saksikanlah Sang Pencipta itu sendiri. Aku
sedemikian asyik menatap Sang Pencipta sehingga apakah perduliku lagi terhadap
ciptaan-ciptaan-Nya?”
ooooOOOOoooo
Beberapa orang datang mengunjungi
Rabi’ah dan menyaksikan betapa ia sedang memotong sekerat daging dengan
giginya.
“Apakah engkau tidak mempunyai pisau
untuk memotong daging itu?” mereka bertanya.
“Aku tak pernah menyimpan pisau di
dalam rumah ini karena takut terluka,” jawab Rabi’ah.
ooooOOOOoooo
Rabi’ah berpuasa seminggu penuh.
Selama berpuasa itu ia tidak makan dan tidak tidur. Setiap malam ia tekun
melaksanakan Shalat dan berdoa. Lapar yang dirasakannya sudah tidak tertahankan
lagi. Seorang tamu masuk ke rumah Rabi’ah membawa semangkuk makanan. Rabi’ah
menerima makanan itu. Kemudian ia pergi mengambil lampu. Ketika ia kembali
ternyata seekor kucing telah menumpahkan isi mangkuk itu.
“Akan ku ambilkan kendi air dan aku
akan berbuka puasa,” Rabi’ah berkata.
Ketika ia kembali dengan sekendi air
ternyata lampu telah padam. Ia hendak meminum air kendi itu di dalam kegelapan,
tetapi kendi itu terlepas dari tangannya dan jatuh, pecah berantakan. Rabi’ah
meratap dan megeluh sedemikian menyayat hati seolah-olah sebagian rumahnya
telah dimakan api.
Rabi’ah menangis : “Ya Allah, apakah
yang telah Engkau perbuat terhadap hamba-Mu yang tak berdaya ini?”
“Berhati-hatilah Rabi’ah,” sebuah
seruan terdengar di telinganya, “Janganlah engkau sampai mengharapkan bahwa Aku
akan menganugerahkan semua kenikmatan dunia kepadamu sehingga pengabdianmu
kepada-Ku terhapus dari dalam hatimu. Pengabdian kepada-Ku dan
kenikmatan-kenikmatan dunia tidak dapat dipadukan di dalam satu hati. Rabi’ah,
engkau menginginkan suatu hal sedang Aku menginginkan hal yang lain. Hasrat Ku
dan hasratmu tidak dapat dipadukan di dalam sati hati.”
Setelah mendengar celaan ini,
Rabi’ah mengisahkan, “Ku lepaskan hatiku dari dunia dan ku buang segala hasrat
dari dalam hatiku, sehingga selama tiga puluh tahun yang terakhir ini, apabila
melakukan shalat, maka aku menganggap sebagai shalat ku yang terakhir.”
ooooOOOOoooo
Beberapa orang mengunjungi Rabi’ah
untuk mengujinya. Mereka ingin memergoki Rabi’ah mengucapkan kata-kata yang
tidak dipikirkan nya terlebih dahulu.
“Segala macam kebajikan telah dibagi-bagikan
kepada kepala kaum lelaki,” mereka berkata. “Mahkota kenabian telah ditaruh di
kepala kaum lelaki. Sabuk kebangsawanan telah diikatkan di pinggang kaum
lelaki. Tidak ada seorang perempuan pun yang telah diangkat Allah menjadi
Nabi.”
“Semua itu memang benar,” jawab
Rabi’ah. “Tetapi egoisme, memuja diri sendiri dan ucapan “Bukankah aku Tuhanmu
Yang Maha Tinggi?” tidak pernah terbersit di dalam dada perempuan. Dan tak ada
seorang perempuan pun yang banci. Semua ini adalah bagian kamu lelaki.”
ooooOOOOoooo
Ketika Rabi’ah menderita sakit yang
gawat. Kepadanya ditanyakan apakah penyebab penyakitnya itu.
“Aku telah menatap surga,” jawab
Rabi’ah, “dan Allah telah menghukum diriku.”
Kemudian Hasan al Bashri datang
untuk mengunjungi Rabi’ah.
“Aku mendapatkan salah seorang di
antara pemuka-pemuka kota Bashrah berdiri di pintu pertapaan Rabi’ah. Ia hendak
memberikan sekantong emas kepada Rabi’ah dan ia menangis,” Hasan mengisahkan.
“Aku bertanya kepadanya : “Mengapakah engkau menangis?” “Aku menangis karena
wanita suci zaman ini,” jawabnya. “Karena jika berkah kehadirannya tidak ada
lagi, celakah ummat manusia. Aku telah membawakan uang sekedar untuk biaya
perawatannya,” ia melanjutkan, “tetapi aku kuatir kalau-kalau Rabi’ah tidak mau
menerimanya. Bujuklah Rabi’ah agar ia mau menerima uang ini.”
Maka masuklah Hasan ke dalam
pertapaan Rabi’ah dan membujuknya untuk mau menerima uang itu. Rabi’ah menatap
Hasan dan berkata, “Dia telah menafkahi orang-orang yang menghujjah-Nya. Apakah
Dia tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintai-Nya? Sejak aku
mengenal-Nya, aku telah berpaling dari manusia cptaan-Nya. Aku tidak tahu
apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, maka betapakah aku dapat
menerima pemberiannya? Pernah aku menjahit pakaian yang robek dengan diterangi
lampu dunia. Beberapa saat hatiku lengah tetapi akhirnya aku pun sadar. Pakaian
itu ku robek kembali pada bagian-bagian yang telah ku jahit itu dan hatiku
menjadi lega. Mintalah kepadanya agar ia tidak membuat hatiku lengah lagi.”
ooooOOOOoooo
Abdul Wahid Amir mengisahkan bahwa
ia bersama Shofyan ats-Tsauri mengunjungi Rabi’ah ketika sakit, tetapi karena
menyeganinya mereka tidak berani menegurnya atau menyapa Rabi’ah.
“Engkaulah yang berkata,” kataku
kepada Shofyan.
“Jika engkau berdoa,” Shofyan berkata
kepada Rabi’ah, “Niscaya penderitaanmu ini akan hlang.”
Rabi’ah menjawab : “Tidak tahukah
engkau siapa yang menghendaki aku menderita seperti ini? Bukankah Allah?”
“Ya”, Shofyan membenarkan.
“Betapa mungkin, engkau mengetahui
hal ini, menyuruhku untuk memohonkan hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya?
Bukankah tidak baik apabila kita menentang Sahabat kita sendiri?”
“Apakah yang engkau inginkan
Rabi’ah?”, Shofyan bertanya pula.
Shofyan… engkau adalah serang yang
terpelajar! Tetapi mengapa engkau bertanya,” Apakah yang engkau inginkan? Demi
kebesaran Allah,” Rabi’ah berkata tandas,” telah dua belas tahun lamanya aku
menginginkan buah korma segar. Engkau tentu tahu bahwa di kota Bashrah buah
korma sangat murah harganya, tetapi hingga saat ini aku tidak pernah
memakannya. Aku ini hanyalah hamba-Nya, maka kafirlah aku. Engkau harus
menginginkan segala sesuatu yang diinginkan-Nya semata-mata agar engkau dapat
menjadi hamba-Nya yang sejati. Tetapi lain lagi persoalannya jika Tuhan sendiri
memberikannya.”
Shofyan terdiam. Kemudian ia berkata
kepada Rabi’ah : “Karena aku tak dapat berbicara mengenai dirimu, maka
engkaulah yang berbicara mengenai diriku.”
“Engkau adalah  manusia
yang baik kecuali dalam satu hal : Engkau mencintai dunia. Engkau pun suka
membacakan hadits-hadits.” Yang terakhir ini dikatakan Rabi’ah dengan masud
bahwa membacakan hadits-hadits tersebut adalah suatu perbuatan yang mulia.
Shofyan sangat tergugah hatinya
berseru : “Ya Allah, kasihilah aku.”
Tetapi Rabi’ah mencela : “Tidak
malukan engkau mengharapkan kasih Allah sedangkan engkau sendiri tidak
mengasihi-Nya?”
ooooOOOOoooo
Malik bin Dinar berkisah sebagai
berikut : Aku mengunjungi Rabi’ah. Kusaksikan dia menggunakan gayung pecah
untuk minum dan bersuci, sebuah tikar dan sebuah batu bata yang kadang-kadang
dipergunakannya sebagai bantal. Menyaksikan semua itu hatiku menjadi sedih.
“Aku mempunyai teman-teman yang
kaya,” aku berkata kepada Rabi’ah. “Jika engkau menghendaki sesuatu akan ku
mintakan kepada mereka.”
“Malik, engkau telah melakukan
kesalahan yang besar,” jawab Rabi’ah. “Bukankah yang menafkahi aku dan yang
menafkahi mereka adalah satu?”
“Ya,” jawabku.
“Apakah yang menafkahi orang-orang
miskin itu lupa kepada orang-orang miskin karena kemiskinan mereka? Dan apakah
Dia ingat kepada orang-orang kaya karena kekayaan mereka?”, tanya Rabi’ah.
“Tidak,” jawabku.
“Jadi, Rabi’ah meneruskan, “Karena
Dia mengetahui keadaanku, bagaimanakah aku harus mengingatkan-Nya? Beginilah
yang dikehendaki-Nya, dan aku menghendaki seperti yang dikehendaki-Nya.”
ooooOOOOoooo
Pada suatu hari, Hasan al Bashri,
Malik bin Dinar dan Syaqiq al-Balkhi mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring
dalam keadaan sakit.
“Seorang manusia tidak dapat
dipercaya kata-katanya jika ia tidak tabah menanggung cambukan Allah,” kata Hasan
memulai pembicaraan.
“Kata-katamu itu berbau egoisme,”
Rabi’ah membalas.
Kemudian giliran Syaqiq untuk
mencoba : “Seorang wanita tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak
bersyukur karena cambukan Allah.”
“Ada yang lebih baik daripada itu,”
jawab Rabi’ah.
Malik bin Dinar maju : “Seorang
manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak merasa bahagia ketika
menerima cambukan Allah.”
“Masih ada yang lebih baik daripada
itu,” Rabi’ah mengulangi jawabannya.
“Jika demikian, katakanlah kepada
kami,” mereka mendesak Rabi’ah.
Maka berkatalah Rabi’ah : “Seorang
manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya, jika ia tidak lupa kepada cambukan
Allah, ketika ia merenungkan-Nya.”
ooooOOOOoooo
Seorang cendekia terkemuka di kota
Bashrah mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring sakit. Sambil duduk di sisi
tempat tidur Rabi’ah ia mencaci maki dunia.
Rabi’ah berkata kepadanya : “Sesungguhnya
engkau sangat mencintai dunia ini. Jika engkau tidak mencintai dunia tentu
engkau tidak akan menyebut-nyebutnya berulangkali seperti ini. Seorang
pembelilah yang senantiasa mencela barang-barang yang hendak dibelinya. Jika
engkau tidak merasa berkepentingan dengan dunia ini, tentulah engkau tidak akan
memuji-muji atau memburuk-burukannya. Engkau menyebut-nyebut dunia ini seperti
kata sebuah peribahasa, “barangsiapa mencintai sesuatu hal, maka ia sering
menyebut-nyebutnya.”
ooooOOOOoooo
Ketika tiba saatnya Rabi’ah herus
meninggalkan dunia fana ini, orang-orang yang menungguinya meninggalkan
kamarnya dan menutup pintu kamar itu dari luar. Setelah itu mereka mendengar
suara yang berkata : “Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan
berbahagia.”
Beberapa saat kemudian tak ada lagi
suara yang terdengar dari kamar Rabi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu
dan mendapatkan Rabi’ah telah berpulang.
Setelah Rabi’ah meninggal dunia, ada
yang bertemu dengannya dalam sebuah mimpi. Kepadanya ditanyakan.
“Bagaimana engkau menghadapi Munkar
dan Nakir?”
Rabi’ah menjawab : “Kedua malaikat
itu datang kepadaku dan bertanya : “Siapakah Tuhanmu? Aku menjawab : Pergilah
kepada Tuhanmu dan katakan kepada-Nya : Dia antara beribu-ribu makhluk yang
ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah. Aku hanya
memiliki engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepada-Mu, tetapi
mengapakah Engkau mengirim utusan sekedar menanyakan “siapa Tuhanmu” kepada
ku?”

DOA-DOA RABI’AH

“Ya Allah, apa pun yang Engkau
karuniakan kepada ku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan apa
pun yang akan Engkau karuniakan kepada ku di akhirat nanti, berikanlah kepada
sahabat-sahabat-Mu, karena Engkau sendiri cukuplah bagi- ku.”
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku
menyembah-Mu karena mengharapkan Surga, campakkanlah aku dari dalam Surga;
tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan
memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepada ku.”
“Ya Allah, semua jerih dan semua
hasrat ku di antara kesenangan-kesenangan dunia ini adalah untuk mengingat Engkau.
Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan akhirat, ialah untuk berjumpa
dengan-Mu. Begitulah halnya dengan diriku, seperti yang telah ku katakan. Kini,
perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki.”

Sumber: Kitab
Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar.



Tags: Riwayat Rabi’ah al adawiyah, kisah robiah al adawiyah, perjalanan sufi rabiah, kisah cinta rabiah al adawiyah, riwayat singkat rabiah al adawiyah, kisah sufi rabiah al adawiyah, kisah rabiah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: