Klik !Belanja berbagai keperluan muslim/ah!

Renungan Ramadhan dan Hari Raya

ramadhan

Menyambut Ramadhan dan Hari Raya telah bercampur di antara Sunnah dan bid’ah.

Bercampur di antara syariat dan adat.

Menjadikan kemurnian Ramadhan dan ‘eid telah tercemar.

Ramadhan disambut dengan bulan makan-makan.

Adakalanya terjadilah pembaziran.

Menjadikan bulan Ramadhan belanja harian lebih daripada kebiasaan.

Sebagian orang bulan Ramadhan lebih banyak istirahat dan tidur-tiduran.

Puasa hanya sekadar tidak makan dan tidak minum, yang lain dilakukan.

Yang dikejar fadhilat, yang ditunggu lailatul qadar, bukan bulan menebalkan taqwa dan iman.

Apakah kalau terabai iman dan taqwa, fadhilat dan keutamaan lailatul qadar bisa diraih?

Keduanya itu bergantung di atas asas iman dan taqwa.

Kalau iman dan taqwa tidak dapat, yang lain juga ikut tidak dapat.

Sunnah pemurah di bulan Ramadhan sudah tidak jadi tabiat.

Pemurah hanya pada diri sendiri hingga makan berlebih-lebihan.

Membaca Al Quran berpikir bagaimana agar khatam, bukan dipahami dan inginkan penghayatan.

Kerana itulah membaca Al Quran di bulan Ramadhan tidak mendapat ilmu dan keinsafan.

Kalaupun terjadi pemurah di bulan Ramadhan bukan karena iman dan keinsafan.

Tapi, pemurah lebih diniatkan ingin mencari nama, popularitas dan kemasyhuran.

Kalau tidak diberitakan di dalam surat kabar hanya senyap-senyap saja, dia tidak akan memberikan (bersedekah).

Lebih miris, yang hafiz-hafiz Al Quran di masa Ramadhan peluang cari makan.

Sengaja meminta jadi imam di masjid-masjid untuk mendapat upah.

Sebelum itu berlaku tawar-menawar, kalau bayarannya sedikit tidak jadi menerima tawaran.

Apa yang terjadi dengan imam-imam hafiz Al Quran?

Mengapa menjadikan Al Quran barang murahan?, jalan mencari makan?

Tidak malukah dengan Tuhan yang punya Al Quran?

Coba renungkan, coba beri jawaban semoga kita mendapat keinsafan.

Kemudian datang hari raya yang memang ditunggu-tunggu.

Ditunggu bukan dengan keinsafan merenung apakah ibadah sebulan diterima Allah?

Seharusnya dengan perasaan sedih karena bulan rahmat, berkat, maghfirah sudah ditinggalkan.

Seharusnya rasa malu apakah kita layak berhari raya, hari raya untuk orang bertaqwa.

Tapi disambut dengan adat dan khurafat.

Dengan perayaan-perayaan yang melalaikan dan kemungkaran.

Pertemuan-pertemuan bergaul lelaki perempuan di luar batasan Tuhan.

Di dalam bersukaria hari raya itu, sembahyang fardhu diabaikan.

Jadi Ramadhan sudah disalah-artikan, raya juga disalah-artikan.

Bercampur di antara agama dengan adat dan khurafat.

Bercampur di antara syariat dan bid’ah.

Kemudian mengharapkan fadhilat dan lailatul qadar serta keampunan Allah.

Anugerah orang besar dunia pun susah untuk didapat.

Apalagi ini anugerah Allah apakah mudah untuk didapatkan?

Marilah kita memahami Ramadhan dan al ‘eid dengan pengetahuan.

Agar tahun depan kita hadapi Ramadhan dan al ‘eid mengikut syariat Tuhan.

 

Sumber : anjangmuor.wordpress.com yang diterjemahkan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.