Muawiyah bin Yazid ( 64-65 H / 683-684 M)

Muawiyah bin Yazid ( 64-65 H )

“Aku belum menemukan seorangpun di antara kalian yang mempunyai keutamaan seperti Umar bin Khaththab. Aku juga bukan seperti Umar yang bisa menunjuk Ahli Syura. Kalian lebih tahu dan pilihlah orang yang kalian kehendaki.”

Panglima AlHusain bin Alnamir dari Syiria yang bertugas menaklukkan pasukan Abdullah bin Zubair di Makkah, menemukan jalan buntu. Karena tak mampu menembus pertahanan lawan dan mendengar berita wafatnya Khalifah Yazid bin Muawiyah, Panglima AlHusain bin Alnamir menyerukan gencatan senjata. Abdullah bin Zubair tak keberatan. Masa damai itu membuat kedua pasukan membaur satu sama lain seolah tak terjadi permusuhan. Anggota pasukan dari Syiria, dengan bebas melakukan Umrah, thawaf di sekitar Ka’bah, dan Sa’I dan Marwah.

Ketika thawaf itulah, Alhusain bin alnamir berpapasan dengan Abdullah bin Zubair. Sambil memegang tangan Abdullah, Alhusain berbisik, apakah anda mau berangkat bersamaku ke Syiria. Saya akan berusaha supaya orang banyak mengangkat anda sebagai Khalifah.”

Abdullah bin Zubair menarik lengannya seraya menjawab, “Bagi saya tak ada pilihan lain kecuali perang. Bagi setiap satu korban di tanah Hijaz, harus ditebus dengan sepuluh korban dari Syiria.”

Panglima Alhusain menjawab dengan kalimat yang cukup terkenal dalam sejarah, “Bohong orang yang menganggap anda sebagai cendikiawan Arab. Saya bicara dengan berbisik, tetapi anda mejawab dengan berteriak.”

Tidak lama setelah itu, Panglima Alhusain dan pasukannya kembali ke Syiria. Boleh jadi tawarannya bukan basa basi. Sebab di Syiria sendiri sedang terjadi kemelut yang cukup mengkhawatirkan. Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, ditunjuklah puteranya, Muawiyah bin Yazid sebagai Khalifah yang kala itu masih berusia 21 tahun.

Berbeda dengan ayahnya, Muawiyah bin yazid lebih mengutamakan ibadah ketimbang urusan duniawi. Hari-harinya dipenuhi dengan kesholehan dan ketaatan. Jabatan sebagai khalifah bukanlah keinginannya, tetapi lantaran warisan dari sang ayah.

Muawiyah bin yazid bukanlah seorang negarawan, tetapi seorang ahli agama. Ia sendiri merasa tidak layak menduduki jabatan khalifah. Ia merasa tak sanggup menghadapi urusan pemerintahan dan kenegaraan. Apalagi sepeninggal ayahnya, bumi Syiria terus dilanda kemelut. Didukung lagi oleh pengaruh Abdullah bin Zubair di tanah Hijaz yang semakin meluas.

Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya Khalifah ketiga bani Umayah itu menyatakan mundur dari jabatan khalifah setelah hanya tiga bulan memerintah. Di hadapan para tokoh istana, ia menyerahkan jabatan khalifah. Para pemuka istana dan tokoh Bani Umayyah memintanya untuk menunjuk seorang pengganti. Namun, cucu  pendiri daulah Bani Umayyah itu dengan tegas menjawab, “Aku belum menemukan seorangpun di antara kalian yang mempunyai keutamaan seperti Umar bin Khaththab. Aku juga bukan seperti Umar yang bisa menunjuk Ahli Syura. Kalian lebih tahu dan pilihlah orang yang kalian kehendaki.”

Sejak saat itu, Muawiyah bin yazid menyerahkan hidupnya untuk beribadah dengan cara beruzlah (mengasingkan diri). Menjelang penghujung tahun 64 H/684 M, ia meninggal dunia dalam usia 23 tahun. Ada yang mengatakan kematiannya tak wajar, ia dibunuh secara diam-diam.

Sepeninggalnya, terjadi perpecahan di wilayah Syam ( Syiria dan Palestina ). Satu pihak cenderung mengikuti pendirian penduduk Hijaz untuk mengangkat baiat atas Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah. Apalagi penduduk wilayah Irak dan Iran telah menyatakan baiat. Abdullah bin Ziyad yang menjabat gubernur wilayah itu buru-buru melarikan diri ke Syiria untuk meminta perlindungan dari para tokoh Bani Umayyah.

Dengan demikian, wilayah kekuasaan Abdullah bin Zubair sudah meliputi Hijaz, Yaman, Iran dan Irak. Sebuah perutusan yang berangkat dari Makkah ke Mesir membawa berita bahwa penduduk bumi piramida itu pun menyatakan dukungan atas Abdullah bin Zubair.

Sementara itu perpecahan di wilayah Syam semakin tajam. Pihak yang mendukung Abdullah bin Zubair dipimpin Dhahak bin Qais. Sedangkan di belahan utara wilayah Syam, tepatnya di kota Hims dan Halab, gerakan pendukung Abdullah dipimpin Nu’man bin Basyir Al Anshori. Gerakan ini semakin meluas sehingga hampir menguasai istana Daulah Bani Umayyah yang sedang kritis.

Karenanya, kalau Abdullah bin Zubair menerima tawaran Panglima Alhusain untuk berangkat ke Syiria, tidak mustahil ia akan dibaiat oleh banyak orang. Apalagi dari sisi keturunan, ia termasuk keluarga dekat Rasulullah saw. Namun sejarah tak menghendaki hal itu. Abdullah bin Zubair bersikeras menetap di wilayah Hijaz dengan segala penduduknya. Agaknya apa yang menimpa Husain bin Ali bin Abi Thalib begitu membekas dalam benaknya. Abdullah bin Zubair bisa disebut orang pertama kali dalam sejarah Islam yang membangun kembali Baitullah. Akibat bentrokan antara pasukannya dan pasukan Alhusain, beberapa sisi Ka’bah rusak berat. Abdulah bin Zubair memerintahkan untuk merubuhkan seluruh bangunan dan dibuat bangunan baru serta meletakkan Hazar Aswad pada bangunan baru tersebut. Bagian luar ditutupi dengan tirai hasil tenunan Mesir yang terbilang mahal kala itu.

 

Catatan:

Sebagian buku sejarah seperti Tarikh Al-Khulafa’ karya Imam Asy-Syuyuti menyelipkan nama Abdullah bin Zubair sebagai Khalifah yang sah setelah Muawiyah bin Yazid.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: