Muawwiyah Bin Abu Sufyan – Khalifah Pertama Bani Umayyah

 

Muawiyah bin Abu Sufyan

Khalifah Pertama Pemerintahan Bani Umayyah

(40-64 H / 661 – 680 M)

“Aku tidak akan menggunakan pedangku selagi cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku selagi lisanku masih bisa mengatasinya. Jika ada rambut yang membentang antara diriku dan penentangku, maka rambut itu tidak akan putus selamanya. Jika mereka mengulurkannya, maka aku akan menariknya. Jika mereka menariknya, maka aku akan mengulurkannya,” 

– Muawwiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah lahir empat tahun menjelang Rasulullah saw menjalankan dakwah di kota Mekkah. Riwayat lain menyebutkan ia lahir dua tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw menjadi Nabi. Beberapa riwayat menyatakan bahwa Muawwiyah memeluk Islam bersama ayahnya, Abu Sufyan bin Harb dan ibunya Hindun binti Utbah tatkala terjadi fathul Makkah (penaklukkan Mekkah). Namun riwayat lain menyebutkan Muwawwiyah masuk Islam pada perstiwa Umrah Qadha’ tetapi ia menyembunyikan keislamannya sampai peristiwa fathul makkah.

Di masa Rasulullah saw, ia diangkat sebagai salah seorang pencatat wahyu setelah bermusyawarah dengan Jibril. “Ambillah dia sebagai penulis wahyu karena dia jujur,”ujar Jibril.

Pada masa Khulafaurrasyidin, Muawwiyah diangkat sebagai salah seorang panglima perang di bawah komando utama Abu Ubaidah bin Jarrah. Kaum muslimin berhasil menaklukkan Palestina, Suriah, dan Mesir dari tangan Imperium Romawi Timur. Berbagai kemenangan ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab.

Ketika Utsman bin Affan menjabat sebagai Khalifah menggantikan Umar bin Khaththab, Muawwiyah diangkat sebagai gubernur untuk wilayah Syiriah dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus, menggantikan gubernur Abu Ubaidah bin Jarrah.

Pada masa pemerintahan Ali, terjadi beberapa konflik antara kaum muslimin. Di antaranya adalah perang shifin. Perang yang terjadi antara Ali dan Muawwiyah ini berakhir dengan perdamaian.

Ketika Ali bin Abi Thalib terbunuh, kaum muslimin sempat mengangkat putranya, Hasan bin Ali. Namun melihat keadaan yang tidak menentu, setelah tiga bulan akhirnya Hasan mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya kepada Muawwiyah bin Abu Sufyan.

Timbang terima jabatan itu berlangsung di kota Kuffah. Tahun inilah yang dalam sejarah dikenal dengan Amul Jama’ah ( Tahun Kesatuan ). Dengan demikian Muawwiyah resmi menjadi khalifah.

Beberapa kalangan ada yang menyebut Muawwiyah dengan julukan yang jauh dari akhlak Islam. Padahal walau bagaimana pun beliau tetap sahabat Rasulullah saw yang telah banyak memberikan sumbangan untuk Islam.

Ia ikut di berbagai peperangan, baik di masa Rasulullah saw maupun di masa Khulafaurrasyidin. Mengenai tudingan yang menjelekkannya, tidak semuanya bisa diterima begitu saja. Bahkan beberapa kebijakannya yang oleh sebagian sahabat dianggap menyimpang masih bisa dimaklumi.

Kendati pun ada, hal itu wajar mengingat ia adalah manusia biasa yang kadang khilaf atau dipengaruhi orang-orang sekitarnya. Semua itu tidak bisa mengurangi keutamaannya sebagai sahabat bahkan masih terbilang keluarga dekat Rasulullah saw.

Muawwiyah dikenal sebagai negarawan dan politikus ulung. Ungkapannya tentang hal ini dicatat dalam sejarah. “Aku tidak akan menggunakan pedangku selagi cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku selagi lisanku masih bisa mengatasinya. Jika ada rambut yang membentang antara diriku dan penentangku, maka rambut itu tidak akan putus selamanya. Jika mereka mengulurkannya, maka aku akan menariknya. Jika mereka menariknya, maka aku akan mengulurkannya,”ungkap Muawwiyah.

Ia mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat tinggi sehingga Nicholson dalam bukunya Literaty History of The Arabs menyebutkan, “Muawwiyah adalah seorang diplomat yang cakap dibanding dengan Richelieu, politikus Perancis yang sangat terkenal itu.” Lebih tepat lagi ia mencontohkan Muawwiyah dengan Oliver Cromwell (dalam hal politik), politikus dan protektor Inggris yang termasyhur, yang pernah membubarkan parlemen.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Muawwiyah mengubah kebijaksanaan pendahulunya. Kalau pada masa 4 khalifah pendahulunya, pengangkatan dilakukan dengan cara pemilihan, maka Muawwiyah mengubah kebijakan itu dengan cara turun temurun (keturunan). Karenanya, khalifah penggantinya adalah Yazid bin Muawwiyah, putranya sendiri.

Muawwiyah adalah pendiri daulah Bani Umawiyah. Pada masa ini kaum muslimin memperoleh kemajuan yang sangat pesatt. Tidak hanya penyebaran agama Islam, tetapi juga penemuan-penemuan ilmu lainnya.

Ketika Byzantium mengerahkan tentaranya untuk memperluas jajahannya, ia tiba di daerah kekuasaan Muawwiyah. Untuk mengusir tentara Byzantium itu, Muawwiyah mengerahkan 1700 kapal perang kecil yang mampu menghalau pasukan musuh. Dengan tidak mengenal lelah, kaum muslimin menaklukkan pulau Cyprus dan Rhodus di Laut Tengah.

Di samping itu pada tahun 50 H, Muawwiyah mengangkat Uqbah bin Nafi’ menjadi gubernur di Maroko. Dengan 10000 tentara ia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi. Ia juga dapat mengalahkan bangsa Barbar dan penduduk asli Afrika. Lebih dari itu semua, ia telah meletakkan pondasi daulah Umawiyah (Umayah) yang telah mengharumkan nama Islam selama ratusan tahun.

Setelah menjabat sebagai gubernur di Palestina selama 10 tahun dan di Syam 10 tahun, serta sebagai khalifah selama 20 tahun, Muawwiyah meninggal dunia pada hari Kamis pertengahan bulan Razab 60 H dalam usia 78 tahun. Semoga Allah mengampuni segala kesalahannya dan memasukkannya ke dalam kelompok orang-orang yang beruntung. Aamiin.

Referensi:

  • Buku Sejarah Para Khalifah, Penyusun Hepi Andi Bastoni. Bersumber pada:
  • Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Umayyah di Damaskus
  • Imam As Suyuti, Tarikh Al Khulafa’
  • Siyar A’lam An-Nubala, Jilid III
  • Ahmad bin Zaini dahlan, Al fathu Al Mubin fi fadha’il Al-Khulafa’ Ar Rasyidin wa Ahli Baiti Ath-Thahirin, Darul Fikr, Libanon 2005
  • Bassam Al-Asali, Masyahir Qudhah Al-Islam, Jilid III
  • Masyahir Ulama’ Al-Amshar, Jilid I

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: