Yazid bin Muawiyah (61-64 H /680-683 M)

Yazid bin Muawwiyah menjabat khalifah menggantikan ayahnya, Muawwiyah bin Abu Sufyan. Ia adalah khalifah kedua dalam dinasti Bani Umayyah. Ia lahir pada tahun 22 H. Namun ada juga yang mengatakan ia lahir pada tahun 25 atau 26 H. Saat itu ayahnya sedang menjabat sebagai gubernur Palestina yang meliputi Suriah dan sekitarnya yang berkedudukan di Damaskus.

Dengan demikian Yazid lahir dan besar di lingkup istana yang penuh dengan kemewahan. Tidak seperti Khulafaur Rasyidin sebelumnya yang dipilih oleh kaum muslimin, Yazid menerima jabatan langsung dari ayahnya. Namun demikian, sebagian besar penduduk Palestina dan Suriah mendukungnya. Penduduk wilayah Mesir dan pesisir utara Afrika juga menyatakan baiat kepada Yazid. Sementara dari wilayah Bashrah yang saat itu merupakan ibu kota Iran dan Khurasan serta Kuffah, ibu kota Irak kala itu, belum menunjukkan reaksi. Sedangkan penduduk wilayah Hijaz, terutama penduduk Mekkah dan Madinah menentang secara keras. Meskipun Marwan bin Hakam, gubernur wilayah itu sudah memaksa tetapi mereka menolak. Kala itu, baik di Mekkah maupun di Madinah, masih banyak kalangan para sahabat dan tabi’in.

Di wilayah Hijaz, ada empat tokoh yang disegani kala itu, yaitu Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Zubair bin Awwam.

Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal dunia sebelum Muawwiyah Yazid bin Muawwiyah menjabat sebagai Khalifah. Abdullah bin Umar menyetujui Yazid sebagai Khalifat. Sejarah mencatat ucapannya saat itu, “Kalau orang banyak menyetujuinya, maka saya pun setuju.” Sedangkan Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair tetap tidak mau berbaiat kepada Yazid. Penduduk Makkah dan Madinah pun berada di belakang kedua tokoh itu.

Untuk itu gubernur Marwan bin Hakam segera mengirim pasukan ke Mekkah untuk memaksa Abdullah bin Zubair dan Husain. Sengaja ia mengangkat Amr bin Zubair, saudara Abdullah bin Zubair sebagai pimpinan pasukan. Pertempuran saudara lawan saudara tak terelakkan. Pasukan penyerang kewalahan. Panglima Amr bin Zubair ditangkap dan dipenjara hingga meninggal dunia.

Sementara itu penduduk Kufah mengundang Husain ke Irak untuk dinobatkan sebagai Khalifah. Husain bin Ali setuju. Ia pun mengirimkan Muslim bin Uqail bin Abi Thalib ke Kuffah. Muslim bin Uqail berangkat dan berhasil mengambil baiat 30.000 penduduk Irak. Semuanya berjanji akan mendukung Husain bin Ali sebagai Khalifah.

Begitu mendengar berita itu, Husain bin Ali segera merencanakan keberangkatan ke Kufah. Meski tak mendapat dukungan dari para tokoh Makkah dan Madinah, tetapi ia tetap bersikeras. Sejarah mencatat ucapan Abdullah bin Abbas kala itu, “Tetaplah tinggal di negeri. Anda adalah tokoh yang dimuliakan penduduk Hijaz. Jika anda bosan, pergilah ke Yaman. Di sana banyak tokoh pendukung setia ayah anda. Wilayah itu juga mempunyai benteng-benteng dan bebukitan yang bisa dijadikan garis pertahanan.”

Namun, Husain tetap bersikeras. “Saya memaklumi, bahwa anda memberikan nasihat dengan kasih sayang. Tetapi hati saya sudah bulat dan menetapkan keputusan.”

Diiringi rombongan besar, Husain berangkat menuju Kuffah. Turut dalam rombongan itu, istri dan putranya Ali bin Husain, yang lebih dikenal dengan Ali Zainal Abidin.

Begitu mendengar sikap penduduk Irak di Kufah dan adanya keberangkatan Husain bin Ali dan pasukannya ke kota itu, Khalifa Yazid murka. Ia segera memecat Nukman bin Basyir, gubernur wilayah Irak, dan menggabungkan wilayah itu dalam kekuasaan Abdullah bin Ziyad, gubernur wilayah Iran yang sudah berhasil mengambil baiat atas para tokoh Basrah. Bersamaan dengan itu, Yazid memerintahkan untuk menangkap Husain bin Ali dan pasukannya.

Gubernur Abdullah bin Ziyad tiba di Kuffah lebih dulu daripada Husain dan pasukannya. Dengan mudah ia merebut dan menduduki Kufah. Para penduduknya berbalik mengangkat baiat kepada Yazid bin Muawwiyah. Muslim bin Uqail ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Gubernur Abdullah bin Ziyad segera membentuk pasukan besar terdiri dari 2000 tentara berkuda dari penduduk Irak sendiri dan mempercayakan pimpinannya kepada Alhur bin Yazid At-Tamimi untuk menghadang Husain dan rombongannya.

Berita tentang dikuasainya Kufah dan dibunuhnya Muslim bin Uqbal sudah sampai ke telinga Husain. Namun karena yakin penduduk Iran dan Irak tetap akan berpihak kepadanya. Husain tetap bersikeras melanjutkan perjalanan. Beberapa pengikutnya yang sudah membayangkan apa yang akan terjadi menasehati Husain agar kembali ke Mekkah atau berbalik ke arah Yaman. Namun Husain tetap bersikeras. Meski demikian ia membolehkan pasukannya untuk menentukan pilihan sendiri, ikut atau kembali ke Mekkah. Akhirnya sebagian pengikutnya kembali ke Makkah. Hanya 31 orang penunggang kudan dan 40 pejalan kaki yang mengiringi Husain dan keluarganya.

Rombongan kecil itu terus melanjutkan perjalanan. Di sebuah tempat bernama Sirrah, rombongan itu berpapasan dengan pasukan Alhur bin Yazid. Panglima Alhur sempat kaget melihat rombongan kecil yang di hadapannya. Sebab berita yang ia terima, Husain datang bersama pasukan besar. Ia mengira rombongan kecil di depannya adalah pasukan pendahulu yang di belakangnya pasukan besar. Karena itu, ia tak berani berbuat gegabah. Ia menghentikan pasukannya dan mengambil posisi bertahan.

Sementara itu, Husain masih yakin pasukan besar di hadapannya akan kembali berbaiat kepadanya. Sempat terjadi negosiasi, tetapi berakhir dengan jalan buntu. Sementara itu, sepucuk surat datang dari Abdullah bin Ziyad yang memerintahkan untuk segera mendesak pasukan Husain. Pasukan kecil itu terus mundur dan terdesak di sebuah padang gersang yang sangat dikenal dalam sejarah, Karbala.

Gubernur Abdullah bin Ziyad yang belum mengetahui secara persis jumlah rombongan Husain, mengirimkan lagi 4000 tentara berkuda di bawah pimpinan Umar bin Sa’ad. Dalam keterdesakkan itu, Husain mengajukan 3 pilihan.

  1. Pertama, memberikan kesempatan kepadanya untuk kembali ke Hijaz,
  2. Kedua, memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu Yazid di Damaskus,
  3. Ketiga, sama-sama membuat garis pertahanan dan bertempur.

Umar bin Sa’ad menyampaikan tiga pilihan itu kepada Abdullah bin Ziyad. Ia begitu marah melihat sikap panglimanya yang ragu-ragu itu. Abdullah bin Ziyad segera mengirimkan Symmar bin Ziljausan dengan pesan, “Pilihan Cuma satu di antara dua. Engkau perangi Husain dan pasukannya sampai hancur, atau engkau serahkan pimpinan kepada Syammar!”

Panglima Ibnu Sa’ad merasa harga dirinya jatu kalau menyerahkan kepemimpinan kepada Syammar. Ia pun memerintahkan penyerangan. Pertempuran tak seimbangpun tak terelakkan. Seluruh pengikut Husain hampir semuanya gugur. Hanya para wanita dan anak-anak yang dibiarkan selamat. Sebelum tubuhnya rebah ke tanah, sebuah tombak melesat ke mulutnya. Selanjutnya seorang musuh lainnya menusuk dada cucu Rasulullah saw itu dengan tombak. Tepat ketika tubuhnya rebah, pedang Syammar bin Ziljausan menyambar lehernya hingga terputus.

Kepala Husain dan keluarganya di bawa ke Kufah. Selanjutnya dibawa ke Damaskus dan dipersembahkan kepada Yazid bin Muawwiyah. Begitu melihat kepala Husain, air mata Yazid berlinang sedih, “Aku tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya. Demi Allah, kalau aku berada di tempat itu niscaya aku akan memberikan ampunan kepadanya, “ujar Yazid.

Peristiwa Karbala itu menggemparkan penduduk Hijaz. Sebagian penduduk Madinah segera mencabut baiatnya atas Yazid bin Muawwiyah. Mantan gubernur Hijaz, Marwan bin Hakam dan penggantinya Utsman bin Muhammad terpaksa melarikan diri ke Damaskus. Abdullah bin Zubair segera dinobatkan sebagai Khalifah. Di kalangan masyarakat kala itu, ia termasuk orang ternama. Ayahnya Zubair bin Awwam adalah putri Shafiyah binti Abdul Muthalib. Sedangkan ibunya, Asma’ adalah putri Abu Bakar. Karenanya, Abdullah mendapat dukungan dari Hijaz, Yaman, dan Arabia Selatan.

Mendengar itu, Khalifah Yazid bin Muawiyah marah. Ia segera mengirimkan pasukan besar dipimpin Muslim bin Uqbal dengan pesan yang diabadikan dalam sejarah, “Berangkatlah menuju Madinah. Jika mereka melakukan perlawanan, perangi! Jika anda menang, izinkan tentaramu berbuat sekehendak hati selama tiga hari. Setelah itu berangkatlah ke Mekkah dan perangilah Abdullah bin Zubair!”

Pasukan Muslim bin Uqbal berangkat hingga tiba di AlHurrat. Di tempat itu ia dihadang pasukan Abdullah bin Zubair. Pecahlah pertempuran dan pasukan Madinah hancur berantakan. Tercatat lebih dari 10.000 orang gugur. Sebagian dari angkatan tua Anshar dan Muhajirin.

Sesuai perintah Yazid bin Muawwiyah, pasukan Muslim bin Uqbah melakukan ibahat selama tiga hari di Madinah. Ini adalah tradisi Romawi. Ketika berhasil menaklukkan sebuah kota, tentara mereka dibolehkan melakukan apa saja di kota itu. Itulah yang dilakukan pasukan Muslim bin Uqbah. Setelah mengambil baiat penduduk Madinah, pasukan Muslim bin Uqbah melanjutkan perjalanan ke Makkah. Dalam perjalanan itu ia meninggal dan pimpinan pasukan diambil alih AlHusain bin Alnamir.

Pasukan Makkah tak mampu membendung pasukan AlHusain. Khalifah Abdullah bin Zubair memerintahkan pasukannya untuk mundur dan bertahan di bebukitan sekitar Makkah. Penyerangan terus berlangsung hingga Abdullah bin Zubair terpaksa terus mundur dan membentuk garis pertahanan antara bukit Shafa dan Marwa. Saat itulah pasukan Al Husain melakukan pelemparan hingga merusak sudut-sudut Ka’bah. Itulah pertama kali Baitullah mengalami kerusakan.

Pasukan Abdullah bin Zubai terus bertahan hingga 40 hari lamanya. Karena tak mampu menembus pertahanan itu, pasukan Alhusain mengajak damai. Akhirnya kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata. Pada detik-detik itulah Yazid bin Muawwiyah meninggal dunia pada usia 38 tahun. Belum tahu pasti penyebab kematiannya. Masa pemerintahannya berlangsung selama 3 tahun enam bulan.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: