Tulang-Tulang Nabi Yusuf? Padahal Bumi Tidaklah Memakan Jasad Para Nabi as

 
Hadits Pertama:
عن أبي موسى الأشعريّ رضي الله عنه قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، (وفي رواية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي) فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم): سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل عظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار
أخرجه أبو يعلى في مسنده (١/٣٤٤)، والحاكم (٢/٤٠٤-٤٠٥ و ٥٧١-٥٧٢) من ثلاث طرق عن يونس بن أبي إسحاق عن أبي بردة عن أبي موسى -وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة ٣١٣)
Dari Abu Musa al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
Seorang arab badui mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu nabi pun bersikap hormat kepadanya. Beliau bersabda kepada lelaki badui itu, “Mendekatlah kau kemari,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. (Redaksi dalam riwayat lain: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– turun dari kendaraannya di depan seorang arab badui. Beliau bersikap hormat kepada lelaki badui itu, lalu berkata kepadanya,“Kemarilah, bergabunglah bersama kami,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sila kaupinta kebutuhanmu!”Lelaki badui itu berkata, “Unta beserta pelananya, juga kambing betina yang bakal diperah oleh keluargaku.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Apakah kalian tak sanggup (memiliki keinginan) seperti (keinginan) perempuan tua Bani Israil?” Maka para shahabat beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bertanya, “Wahai Rasulullah, memangnya kenapa dengan perempuan tua Bani Israil?” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:
Sesungguhnya tatkala Musa berjalan memimpin Bani Israil (keluar) dari Mesir, mereka tersesat di jalan. Maka Musa pun berkata, “Kenapa begini?” Lalu para ulama Bani Israil berkata, “Akan kami ceritakan kepadamu. Sesungguhnya Nabi Yusuf pada saat menjelang kematiannya telah mengambil perjanjian dari kami dengan persaksian Allah agar tak meninggalkan negeri Mesir kecuali dengan membawa serta ‘izhamun(tulang-tulang) beliau bersama kami.” Nabi Musa lantas bertanya, “Kalau begitu, siapa yang tahu letak kuburan beliau?” Mereka menjawab, “Tidak ada yang mengetahui letak kuburan Nabi Yusuf kecuali seorang perempuan tua Bani Israil.” Maka Nabi Musa mengutus seseorang untuk membawa perempuan tua itu. Perempuan tua itu pun datang menghadap beliau, lalu Nabi Musa berkata, “Tunjukkan kepadaku letak kuburan Yusuf!”Perempuan tua itu menjawab, “Tidak, demi Allah! Aku takkan menunjukkan kuburan Yusuf kepadamu sampai kau menuruti ketentuanku!” Musa pun bertanya, “Apa ketentuanmu?” Perempuan tua itu menjawab, “Jadikan aku bersamamu di surga!” Musa enggan untuk menuruti hal itu, lalu Allah mewahyukan agar beliau menuruti ketentuan perempuan tua itu. Maka perempuan tua itu pun berangkat membawa mereka menujubuhairah (danau), suatu tempat yang dipenuhi dengan air. Perempuan tua itu berkata,“Surutkanlah air danau ini!” Maka mereka pun mengeringkan danau itu. Perempuan tua itu berkata lagi, “Galilah (kuburannya) dan keluarkan ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf!” Tatkala ‘izhamun Yusuf itu diangkat ke permukaan tanah, maka jalan pun menjadi jelas seumpama cahaya siang.
(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya:1/344, juga al-Hakim: 2/404-405 dan 571-572, dari tiga jalan dari Yunus bin Abi Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; dishahikan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 313).
Hadits Kedua:
عن أوس بن أوس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: إن من أفضل أيامكم يومَ الجمعة؛ فيه خلق آدم، وفيه قبض، وفيه النّفخة، وفيه الصعقة، فأكثروا علي من الصلاة فيه؛ فإن صلاتكم معروضة علي. قال: قالوا: يا رسول الله! وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟ -أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ- فقال: إن الله عز وجل حرّم على الأرض أجساد الأنبياء
أخرجه أحمد (٤/٨)، أبو داود (١٠٤٧) النسائي (٣/٢١)، الدارمي (١/٣٦٩) ابن ماجه (١/٣٣٦-٣٣٧ و ٥٠٢)، ابن حبان (٥٥٠)، الحاكم (١/٢٧٨) ، والبيهقي (٣/٢٤٨) وصححه الألباني في صحيح أبي داود (٩٢٥)
Dari Aus bin Aus, dia berkata:
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu pula dia diwafatkan, pada hari itu akan ditiup sangkakala dan pada hari itu pula semesta akan dibinasakan. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat karena sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.”Para shahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa shalawat kami diperlihatkan kepadamu sementara kau telah rusak (hancur menjadi tanah)?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya Allah –‘azza wa Jalla- mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad: 4/8, Abu Dawud: 1047, an-Nasa’i: 3/21, ad-Darimi: 1/369, Ibnu Majah: 1/336-337, Ibnu Hiban: 550, al-Hakim: 1/278, al-Baihaqi: 3/248; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: 925).
Secara zhahir, seakan-akan terdapat pertentangan di antara kedua hadits di atas. Pada hadits pertama dikatakan bahwa Nabi Musa bersama Bani Israil mengangkat ‘izhamun(tulang-tulang) Nabi Yusuf, sementara pada hadits kedua dijelaskan bahwasanya jasad para nabi itu pastilah utuh karena Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi. Padahal sebagaimana kita ketahui, bahwasanya Yusuf –‘alaihis salam– itu adalah seorang nabi. Jadi bagaimana mungkin jasad nabi Yusuf hanya tinggal tulang-tulang belaka jika bumi tidak memakan jasad para nabi? Dan bukankah di dalam suatu permasalahan ilmiyah itu diharuskan adanya tsubut ad-dalil (kukuhnya dalil) dansalamah min al-mu’aridh (selamat dari pertentangan)?
Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua hadits di atas. Terlebih terdapat hadits lain yang bisa dijadikan sebagai penjelas tentang tidak adanya pertentangan di antara kedua hadits di atas, yaitu hadits Ibnu ‘Umar berikut ini:
Hadits Ketiga:
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى اللهُ عليه وسلم لَمَّا بدَّن قال له تميم الدّاري ألا أتّخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك قال بلى فاتَّخذ له منبرا مرقاتين
أخرجه أبو داود (١٠٨١) وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة (١/٦٢٤)
Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan mimbar dua tingkat untuk beliau.
(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud: 1081; dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1/624)
Ucapan Tamim ad-Dari –radhiyallah ‘anhu– dalam hadits ketiga tersebut memberikan gambaran bahwa perkataan ‘izhamun bisa dimaksudkan juga sebagai jasad, tubuh, atau badan. Hal itu dikarenakan mimbar tersebut -pada kenyataannya- diperuntukkan bagi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk menopang tubuh beliau. Dengan demikian, makna ‘izhamun dalam hadits pertama dan hadits ketiga adalah jasad atau tubuh atau badan, bukan tulang-tulang atau kerangka … -dan perkataan tersebut termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli (menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), yakni sebagaimana ucapan kita, “Belum terlihat batang hidungnya,” padahal yang dimaksudkan adalah, “Belum terlihat orangnya.”
Mengenai hal ini, Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah-berkata:
لا يناقض هذا الحديث ما صح عن رسولنا من أن الله حرّم على الأرض أكل أجساد الأنبياء، والمراد بعظام يوسف في الحديث جثته، وليس المقصود أنه بلي ولم يبق منه الا عظامه (صحيح القصص النبوي: ١٠٧-١٠٨)
Hadits ini (hadits pertama –pent) tidaklah bertentangan dengan hadits shahih dari Rasulullah (yang menyebutkan) bahwa Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi (yakni hadits kedua –pent). Dan yang dimaksud dengan ‘izhamun Yusuf dalam hadits tersebut adalah jasadnya, bukan tubuh yang telah rusak dan hanya tersisa tulang-tulangnya saja. (Shahih al-Qashash an-Nabawiy: 107-108)
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah– berkata:
كنت استشكلت قديما قوله في هذا الحديث (عظام يوسف) لأنه يتعارض بظاهره مع الحديث الصحيح: (إن الله حرم على الأرض أن تأكلأجساد الأنبياء) حتى وقفت على حديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن ، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبراً يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك ؟ قال : بلى .فاتخذ له منبراً مرقاتين) فعلمت منه أنهم كانوا يطلقون (العظام)، و يريدون البدن كله، من باب إطلاق الجزء و إرادة الكل، كقوله تعالى: (وقرآن الفجر) أي صلاة الفجر . فزال الإشكال والحمد لله، فكتبت هذا لبيانه. (سلسلة الصحيحة :١/٦٢٣-٦٢٤)
Semenjak jauh hari, aku telah dibuat samar dengan sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di dalam hadits ini (hadits pertama –pent), yakni ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf, karena secara lahiriah ucapan tersebut bertentangan dengan hadits shahih, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi, sampai akhirnya aku berhenti pada hadits Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma:
(bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan beliau mimbar dua tingkat).
Maka tahulah aku, bahwasanya para shahabat mengungkapkan kata ‘izhamun dengan maksud seluruh badan, (yakni) termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli(menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), sebagaimana firman Allah ta’ala, “Wa qur-anal fajri (bacaan fajar),” yang dimaksud adalah shalat fajar. Dengan demikian hilanglah kesamaran, dan segala puji bagi Allah, lalu kutuliskan penjelasan ini. (Silsilah ash-Shahihah: 1/623-624).

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: